• ABOUT US
  • PRIVACY POLICY
  • TERM OF USE
  • DISCLAIMER
  • HUBUNGI KAMI
  • SITEMAP
Senin, 15 Juni 2026
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
  • Login
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
Kelana Nusantara
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
  • Login
No Result
View All Result
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
Jambi, Minyak, dan Imperialisme Modern Belanda

Jejak Belanda masih tersimpan di komplek Perumahan Pertamina Bajubang via Jambilink.com

Gustatory Nostalgia Mengecap Makanan

Merayakan Kelahiran Danum Karya Abroorza A. Yusra

Jambi, Minyak, dan Imperialisme Modern Belanda

Kesultanan Jambi dan Pemerintah Hindia Belanda

Syifa Nur Fadiyah by Syifa Nur Fadiyah
5 Juli, 2020
in Budaya, ZZ Slider Utama
159 10
0
Share on Facebook

Baca jugaArtikel :

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

Ada sebuah fragmen memori masa kecil yang tak terlupakan ketika saya tinggal di Jambi. Suatu siang pada 2009, rombongan turis Belanda yang lanjut usia menyambangi daerah kediaman saya di Komplek Pertamina, kelurahan Kenali Asam Atas. Sebuah pemandangan ganjil karena komplek ini jauh dari pusat kota dan bukan objek wisata.

Seorang turis perempuan meminta izin untuk melihat rumah saya. Darinya, saya tahu bahwa turis-turis ini sedang mengenang rumah masa kecil mereka. Sesekali, ia memotret sekeliling dan kehabisan kata-kata, tenggelam dalam ingatannya. Saya cemburu dan sedih mengetahui ada orang asing yang berbagi ruang ingatan dengan saya.

Saya mengenal gaya bangunannya khas Eropa di komplek ini. Tapi tidak ada yang pernah bercerita bahwa dulu tempat ini adalah pemukiman orang Belanda.

Apa yang dilakukan orang-orang Belanda di sana dulu? Saya curiga, sepertinya serupa dengan alasan orang tua saya yang berumah dinas di sana sebagai dokter Pertamina: minyak bumi.

Kecurigaan itu ternyata benar. Saya membaca sebuah penelitian mengenai sejarah perminyakan pada masa Kesultanan Jambi. Penelitian ditulis oleh sejarawan Belanda, Elsbeth Locher-Scholten (1994).

Eksplorasi minyak di Jambi adalah salah satu bukti terlibatnya Belanda dalam proyek ekspansi wilayah imperiumnya di penghujung abad ke-19, atau juga dikenal sebagai imperialisme modern. Upaya Belanda mengeruk minyak di sana, seperti yang ditulis Scholte, terhambat penolakan rakyat Jambi.

Scholten mengingatkan pembacanya untuk berhati-hati. Arsip kolonial Belanda yang ia gunakan sebagai sumber dapat menjembak ke dalam penelaahan khas kolonial. Sumber-sumber kolonial cenderung menampilkan bumiputera sebagai biang masalah.

Scholten juga menceritakan bagaimana rakyat Jambi justru pernah mendapat pembelaan dari orang-orang Belanda di parlemen Den Haag.

Kesultanan Jambi dan Pemerintah Hindia Belanda

Huizen langs de Batang Hari te Jambi © Veth, C.D. (Between 1877 and 1879) via Leiden University Libraries Digital Collections

Pada abad ke-17, Kesultanan Jambi berkembang di pinggir sungai Batanghari. Pemerintahannya memiliki struktur khas kerajaan Melayu. Kerajaan ini juga bercorak Jawa karena pengaruh Majapahit yang sempat menduduki Jambi.

Layaknya wilayah lain di kawasan Nusantara, Kesultanan Jambi pernah disambangi Kongsi Dagang Belanda, VOC pada abad ke-17. Sultan Jambi bergelimang harta berkat mulusnya kerjasama monopoli perdagangan dengan VOC.

Akan tetapi, konflik yang kerap terjadi serta keuntungan yang tidak seberapa membuat VOC memutuskan kerja sama dengan Kesultanan Jambi. Bak bukit jadi paya, kesultanan ini terseok dalam kebangkrutan menahun.

Setelah VOC mengalami masalah keuangan, korup, dan dibubarkan, hubungan dengan Kesultanan Jambi dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1819.

Belanda menawarkan bantuan dalam segi keamanan dan finansial. Pemerintah Kolonial kelak berharap Kesultanan Jambi bersedia menyerahkan kekuasaannya secara sukarela.

Harapan itu terwujud pada Desember 1834, ketika pemerintah Hindia Belanda berada di bawah Gubernur Jendral Van den Bosch. Kedua belah pihak menandatangani kontrak bertajuk “Soerat Perdjandjian dan Sahabat Bersahabat”. Perjanjian ini memberikan Belanda kedaulatan pada beberapa daerah di Jambi dan perbaikan ekonomi bagi daerah tersebut.

Sultan Thaha dan Politik Menghindar

Sultan Thaha Syaifuddin via Sumatratimes

Pada tahun 1855, Kesultanan Jambi mengangkat seorang sultan baru bernama Thaha Syaifuddin. Berbeda dengan sultan-sultan sebelumnya; Thaha bisa membaca, menulis, tegas, dan visioner.

Pemerintah kolonial yang memiliki hubungan baik dengan sultan pendahulunya tertohok begitu mendapati surat tentang penobatannya yang ditulis langsung oleh Thaha.

Belanda tidak pernah diundang. Ini membuat pemerintah kolonial curiga. Lalu pihak Belanda meminta Thaha menandatangani perjanjian 1834 dengan beberapa amandemen untuk memastikan kesetiaannya.

Perjanjian 1834 memiliki perbedaan penerjemahan khususnya mengenai pasal kedaulatan Belanda atas Jambi dan urusan luar negeri Kesultanan Jambi. Thaha kukuh mengacu pada perjanjian dalam teks Melayu dan menolak teks Belanda yang jelas memihak pemerintah kolonial.

Konflik pun memanas dan berujung pada operasi militer. Thaha dipaksa untuk turun dari takhtanya pada tahun 1858. Namun, Ia tidak mau menyerah dan bersumpah di bawah Quran. Tidak mau bertemu dengan perwakilan Belanda lagi.

Ketika masa pemerintahannya tuntas, Thaha tetap memiliki pengaruh kuat di kalangan elit pemerintahan. Kekuatan politik ini jadi masalah bagi Belanda, khususnya dalam proyek eksplorasi minyak di Jambi.

Upaya Ekstraksi Minyak di Jambi

Tiga dekade kemudian, pada 1890 Belanda dikompori oleh imperium Eropa, dan Amerika Serikat mengenai peluasan daerah jajahan. Periode ini disebut imperialisme modern.

Setidaknya ada tiga alasan yang mendasari sebuah imperium terlibat proyek imperialisme versi baru ini: 1) Faktor ekonomi, 2) Politik Internasional, dan 3) Kondisi sosial politik dalam negeri yang tidak seimbang.

Belanda agak telat memasuki kompetisi tersebut. Mereka merasa belum memiliki kepentingan untuk terlibat. Namun, saat Perang Aceh berkecamuk, kas Belanda yang dipakai untuk membangun rel kereta api terkuras.

Pemerintah kolonial pun melirik Jambi. Minat itu dipengaruhi oleh Koninklijke, perusahaan eksplorasi minyak Hindia Belanda yang menemukan potensi minyak di sana.

Penemuan itu membuat pemerintah Belanda yakin minyak Jambi dapat menambah pemasukan kas negara. Ditambah, kebutuhan pasar Eropa akan minyak lampu meroket saat itu.

Untuk mendapatkan minyak itu, Belanda harus memperkuat kontrol atas Jambi. Namun kebijakan kerja yang diberlakukan pemerintah Kerajaan Belanda mempersulit pemerintah kolonial.

Kebijakan itu mendikte pemerintah kolonial untuk selalu mengupayakan negosiasi, tidak ikut campur urusan internal pemerintah lokal, dan menghindari konflik bersenjata.

Izin eksplorasi dari perusahaan swasta Belanda pun berdatangan. Semuanya ditolak pemerintah kolonial. Pertama-tama, mereka ingin memastikan keamanan daerah Jambi. Jangan sampai bisnis perminyakan diganggu oleh orang lokal.

Akhirnya, Residen Palembang, Henri Juled Monod de Froideville diutus untuk mengurus perjanjian tambahan terkait jaminan keamanan tersebut dengan Kesultanan Jambi yang sedang dipimpin Sultan Zainuddin, kakak tiri Thaha.

Keputusan tetap ada di tangan Thaha. Semuanya hampir terlalu mudah bagi Monod ketika seorang agen politik Belanda mengabarkan bahwa Thaha tidak keberatan.

Rupanya Monod dikerjai. Perjalanan panjang dari Palembang sia-sia karena utusan Thaha yang tanda tangannya dibutuhkan Monod mendadak tidak bisa hadir. Takut cacar katanya.

Monod yang merasa dihina langsung mengadu ke Batavia. Sebuah tawaran baru dibuat, Thaha diperbolehkan naik takhta kembali dan ditawari ribuan gulden dengan syarat memberikan kekuasaan atas Jambi sepenuhnya pada Belanda. Janji temu dibuat lagi.

Rumor beredar tentang nasib perjanjian ini. Katanya orang-orang yang dicari Monod tidak akan datang. Ada yang sakit, ada pula yang sengaja minum obat laksatif supaya sakit. Kabarnya, Thaha juga akan membunuh siapa pun yang mencari minyak di Jambi.

Di hari yang telah ditentukan, Sultan Zainuddin lah yang menemui Monod. Ia terlambat dua jam. Sang Sultan hanya mengatakan bahwa  ia mengundurkan diri karena terlalu tua. Tidak ada perjanjian atau pun kejelasan siapa yang bertanggung jawab.

Monod naik pitam karena dihina dua kali. Ia menulis dalam laporannya bahwa rakyat Jambi dipimpin oleh para “penghisap darah dari rawa-rawa”, “vampir”, dan “parasit”.

Snouck Hurgronje pun terpaksa dilibatkan. Ia adalah akademisi orientalis Belanda yang tersohor karena sarannya berhasil mengendalikan Perang Aceh.

Snouck Hurgronje mengidentifikasi masalah di Jambi: 1) Pemerintah kolonial yang tetap membiarkan Thaha berkuasa dan 2) Kebijakan kerja sama yang tak lebih dari sebuah paradoks dari tujuan peluasan kekuasaan Belanda, terlebih dengan politik menghindar Thaha.

Hurgronje menyarankan untuk melupakan kebijakan kerja sama dan mempercepat tanda tangan perjanjian untuk menunjukkan kekuasaan Batavia, serta mobilisasi militer di Jambi. Tanpa basa-basi, Batavia melaksanakan saran itu.

Perdebatan Tentang Jambi di Parlemen Den Haag

Tindakan impromptu pemerintah Kolonial di Jambi yang dilakukan tanpa konsultasi ke pemerintah pusat di Den Haag itu adalah bentuk imperialisme wilayah—ciri lain dari imperialisme modern. Den Haag mendukung apa pun yang dilakukan Batavia dalam memperluas wilayah jajahan.

Seluruh peristiwa di Jambi dilaporkan ke Ratu Wilhelmina. Anggaran untuk eksplorasi minyak Jambi pun ditambah. Namun, bersamaan dengan laporan-laporan ini, anggota parlemen mengkritik kesiapan ekspedisi dan adanya operasi militer karena tidak ada ancaman internasional di Jambi.

Perdebatan terjadi antara Van Wijck, Menteri Tanah Jajahan, dengan Van Kol, pakar bidang kolonialisme dari Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda, dan Idenburg, anggota parlemen—yang kelak diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Van Wijck, merespon anggota parlemen yang ragu dan membenarkan tindakan pemerintah Hindia Belanda. Menurutnya, penempatan militer itu bagian dari upaya menegakkan moral. Sesuatu yang harus dilakukan seorang Kristen yang baik.

Belanda sedang menyelamatkan masyarakat bumiputera dari pemerintah yang “kejam”, “tidak transparan”, dan “tidak kooperatif”. Lucunya, ia tidak menjelaskan bahwa perilaku itu merupakan sikap Kesultanan Jambi yang berusaha mempertahankan tanahnya.

Simpati terhadap perlawanan rakyat Jambi ditunjukkan oleh Van Kol. Ia adalah orang yang kerap mengkritik tindak tanduk imperialisme Belanda.

Pertama-tama, ia memuji alasan Van Wijck yang sudah “sangat jujur” dalam menjelaskan alasan ekspedisi di Jambi. Van Kol memulai pidatonya dengan sejarah Jambi, mengingat tidak banyak anggota parlemen yang mengetahuinya.

Ia menyalahkan pemerintah kolonial yang tidak becus, terutama soal cacatnya perjanjian 1834. Menurutnya, yang dilakukan Thaha itu benar. Thaha memiliki hak untuk melawan meskipun secara personal ia menjuluki Thaha sebagai “Melayu Congkak”.

Dengan tegas, Van Kol memperingatkan pemerintah Belanda untuk berhati-hati dengan sikap “imperialis” dan “motif kapitalistik” pemerintah kolonial belakangan ini. Van Kol dapat melihat dengan jelas bagaimana “spekulator” dan “orang penting Belanda” ingin Jambi segera dianeksasi demi kepentingan mereka.

Meskipun argumen ini bias kolonial, hal yang disampaikan Van Kol sangat menarik. Saya teringat penelitian yang dilakukan Priyamvada Gopal, dosen Sastra Inggris University of Cambridge tentang perlawanan kolonialisme di pusat imperium Inggris.

Van Kol mirip dengan John Bruce Norton, kritikus kolonialisme Inggris, yang berpidato serupa saat membahas masalah pemberontakan Sepoy Mutiny di India (1865). Layaknya Norton, kritik Van Kol terhadap pemerintah kolonial patut disorot sebagai rekonstruksi radikal dalam hubungan penjajah dan terjajah yang mengutamakan kesetaraan. Sikap Van Kol yang demikian juga tercermin saat ia mengupayakan beasiswa untuk Kartini di depan parlemen yang sama.

Argumen Van Kol tentu tidak diterima dengan baik. Idenburg menantang Van Kol untuk mendefinisikan apa arti “imperialisme” yang dituduhkan sosialis Belanda terhadap pemerintah kolonial. Ia membeo Van Wijck…

“Jika yang dimaksud imperialisme adalah Belanda yang haus akan uang dan kekuasaan sampai melakukan pertumpahan darah, maka itu tidak betul. Misi Belanda dari awal adalah menegakkan moral di seluruh tanah koloni. Jika pemerintah lokal menghambat misi ini hingga terpaksa melibatkan Belanda dalam konflik, dan jika itu yang disebut dengan imperialisme, maka saya tak ada masalah dengan “imperialisme”,” kata Idenburg.

Pidato Van Wijck dan Idenburg tadi tidak lebih dari bualan “kolonialisme baik”.

Akhir Drama Minyak Jambi

Rumah ibadah peninggalan Pertamina tempo dulu yang masih terus di gunakan hingga sekarang via Jambilink

Upaya membuat Jambi tunduk pada pemerintahan kolonial tidak berjalan mulus, termasuk perihal ekstraksi minyak. Penolakan dan pemberontakan rakyat Jambi terus terjadi di sepanjang awal abad 20. Tapi, kemenangan berpihak pada Belanda.

Eksplorasi minyak yang tertunda sejak akhir 1899 akhirnya terwujud pada 1922-1923. Dutch East Indies Petroleum Company (NIAM) mengurus semuanya. Pengeboran minyak dimulai di Bajubang dan Tempino, lalu disatukan di Kenali Asam Atas pada tahun 1930. Di sana, mereka membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan keluarga Belanda mulai dari gereja hingga bioskop.

Tiga daerah itu disebut-sebut sebagai penghasil minyak dengan kualitas terbaik se-Hindia Belanda dan secara signifikan menyumbang 14% dari total produksi minyak di tanah koloni di tahun 1939.

Rumah masa kecil saya di Kenali Asam Atas sepertinya dibangun pada tahun 1943 atau lebih awal. Saya dan turis-turis Belanda tadi  besar di tempat yang menjadi saksi bisu imperialisme modern Belanda dan perlawanan rakyat Jambi terhadapnya.

Tags: Budaya NusantaraImperialismekelananusantaraKolonialSultan Thaha Syaifuddin
Share642Tweet58Pin21SendShareSend
Previous Post

Gustatory Nostalgia Mengecap Makanan

Next Post

Merayakan Kelahiran Danum Karya Abroorza A. Yusra

Syifa Nur Fadiyah

Syifa Nur Fadiyah

Related Posts

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!
Acara

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
111
Kelana

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
132
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah
Sosok

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
243
Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan
Akomodasi

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

3 Februari, 2022
347
Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu
Budaya

Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu

1 Februari, 2022
995
Backpackeran dari Jakarta – Nusa Penida Budget Rp2 Jutaan
Kelana

Backpackeran dari Jakarta – Nusa Penida Budget Rp2 Jutaan

10 Desember, 2021
387

Discussion about this post

Artikel Terpopuler

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

26 Februari, 2020
15.9k
Perempuan dan Fotografi

Perempuan dan Fotografi

23 April, 2020
561
Mengapa Orang Sunda Malas?

Mengapa Orang Sunda Malas?

15 Mei, 2020
11.3k
Jalan ABC, Memasuki Sudut Sejarah Perdagangan Kota Bandung

Jalan ABC, Memasuki Sudut Sejarah Perdagangan Kota Bandung

14 September, 2020
2.5k
Warisan Keluarga Schumtzer di Ganjuran, Yogyakarta

Warisan Keluarga Schumtzer di Ganjuran, Yogyakarta

14 September, 2020
3.1k
Mitos Wayang Kulit Manusia pada Film Perempuan Tanah Jahanam

Mitos Wayang Kulit Manusia pada Film Perempuan Tanah Jahanam

14 Mei, 2020
1.9k

Rekomendasi Kelana

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

2 Mei, 2025
212
Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
111

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
132
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
243
Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

16 Oktober, 2023
171
Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

21 September, 2023
131

Yuk Ikuti Kelana Nusantara!

  • Setiap jejak yang kita ingat  mengandung mineral-mineral lautan yang kita kecap    sumbawa  sumbawaisland  rumputlaut  kelananusantara
  • Saat ini kita buka program magang untuk siapa saja  sebab Kelana Nusantara kini hadir dengan wajah baru  Saat ini kita membutuhkan ide dan pemikiran kalian untuk dituangkan disini  khususnya di bidang media digital   Join with us   untuk form sudah tertera di bio  Selamat berpetualang
  • Penayangan perdana Demon Slayer  Entertainment District Arc menuai protes dari fans dengan Tengen Uzui salah satu protaganisnya disebut melakukan poligami   Demon Slayer  Entertainment District Arc memperkenalkan Tengen Uzui  seorang Hashira  mentor selanjutnya Tanjiro Kamado  mantan ninja yang memiliki 3 istri   Tengen Uzui hadir dengan segala pesona  mengakui dirinya pribadi yang selama hidupnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Nusa Penida kerap menjadi destinasi untuk dikunjungi wisatawan yang memiki hobi diving   Sahabat Kelana yang penasaran dengan eksotika keindahan bawah laut Nusa Penida tentu harus menyiapkan budget khusus    Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Kehadiran moda transportasi darat  dalam hal ini kereta api trem uap di Demak tidak lepas dari meningkatnya arus perdagangan antara Eropa dan Hindia-Belanda   Terutama setelah pembukaan Terusan Suez pada 1869   Investasi asing kemudian  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sebenarnya uang yang dihabiskan dunia untuk persenjataan militer dan perang dalam satu minggu cukup untuk memberi  makanan  seluruh manusia di bumi dalam setahun   Fakta yang mencengangkan  memang  sementara perang terus dilangsungkan tanpa jelas ujungnya  di pelosok dunia  miliunan manusia meringkih bertahan hidup dalam kelaparan   Tapi  bisakah makanan menjadi penopang basis perubahan   Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sahabat Kelana  perlu diketahui sebelum mengulas 5 rekomendasi villa bambu terbaik untuk Honeymoon asik di Bali   Pemerintah saat ini memberlakukan pembatasan perjalanan bagi wisatawan asing  sebagai reaksi munculnya varian Covid-19 B 1 1 529  Omicron   Hongkong dan beberapa negara Afrika      Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Anantha Wijayanto salah satu pegiat kaktus asal Bali berbagi tips bikin Green House kaktus rumahan dengan budget Rp500 ribu   Idealnya  setiap tanaman khususnya kaktus disarankan memiliki naungan  untuk menjaga stabilitas suhu dan kelembapan udara   Meski kaktus memiliki habitat asli di gurun  namun  ada pertimbangan tanaman ini umumnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Mang Eden salah satu petani kaktus terbesar di Lembang berbagi cara grafting kaktus yang benar   Tim redaksi Kelananusantara  beberapa waktu yang lalu  mengunjungi Kampung Cicalung Desa Wangunharja  Kecamatan Lembang  Kabupaten Bandung Barat   Lokasi ini berdekatan dengan destinasi wisata yang cukup terkenal     Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
Facebook Twitter Instagram

Bekal Petualanganmu

Iwakmedia Digital Indonesia

Iwakmedia Workshop II
Ruko Jatimurni, Jl Jatimurni No. 2.
Jatipadang, Pasar Minggu.
Kode Pos 12540. (+6221) 780 8020.
Jakarta - Indonesia
Basecamp Kelana Nusantara
Jl. Mentor, Gg Dakota, RT.01/RW.05
Sukaraja, Cicendo.
Kode Pos 40175.
Kota Bandung - Indonesia

Tentang Kelana Nusantara

  • About Us
  • Privacy Policy
  • Term Of Use
  • Disclaimer
  • CONTACT US

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

No Result
View All Result
  • About Us
  • Term Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Sitemap
  • Kelana
  • Sosok
  • Akomodasi
  • Budaya
  • Kuliner
  • Hipotesa
  • Acara
  • Login

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Cookie settingsACCEPT
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary Always Enabled

Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.

Non-necessary

Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.

Add New Playlist