Ketika matahari mulai menyongsong dari ufuk timur, sebuah kereta listrik perlahan memasuki satu dari dua belas jalur yang terentang di Stasiun Jakarta Kota.
Kereta berhenti, dengan para penumpang menyeruak dari dalam kereta, berpencar ke berbagai penjuru. Sudah berdiri lebih dari sembilan puluh tahun, stasiun ini menyaksikan lika-liku kehidupan manusia ibukota.
Lengkung kanopi besinya seolah ingin mengisahkan sejarah kehadiran si ular besi di Batavia. Sekaligus sebagai salah satu karya arsitek yang mahsyur di masanya, Frans Johan Lowrens Ghijsels.
Riwayat stasiun Jakarta-Kota

Membaca riwayat stasiun Jakarta-Kota tak bisa lepas dari upaya pembangunan jalur kereta di Batavia.
Pembuatan jalur kereta dari Batavia menuju Bogor sudah direncanakan oleh pemerintah kolonial sejak tahun 1851.
Tiga belas tahun sebelum jalur kereta api pertama dibuka di Semarang pada 1864.
Ketika itu, Letnan Maarschalk, seorang perwira zeni militer Belanda, diberi tugas untuk menjajaki lokasi yang akan dilalui jalur kereta api Batavia-Buitenzorg.
Kendati rencana telah disusun matang, namun pemerintah kolonial tampaknya masih berpikir ulang untuk mengeksekusinya.
Pembuatan jalur kereta jelas memakan biaya yang tinggi, sementara itu belum ada kepastian apakah jalur kereta tersebut akan menghasilkan keuntungan atau tidak.
Barulah setelah jalur kereta Semarang-Vorstenlanden menunjukan kesuksesannya, maka pemerintah kolonial memberi lampu hijau untuk pembangunan jalur kereta Batavia-Buitenzorg.
Tahapan pembangunan jalur kereta Batavia-Buitenzorg

Sebagai permulaan, diadakan upacara pencangkulan pertama yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Pieter Mijer di bakal lokasi stasiun Batavia pada 25 Oktober 1869 Bataviaasch (Nieuwsblad, 15 Agustus 1929).
2.500.000 gulden, perhitungan biaya yang dihabiskan pemerintah kolonial untuk membangun jalur kereta Batavia-Buitenzorg. Pembangunan dilakukan secara bertahap.
Tahap pertama, ruas Batavia-Weltevreden dibuka 15 September 1871. Kemudian disusul Weltevreden-Meester Cornelis dibuka pada 16 Juni 1872.
Dan diikuti dengan Mesteer Cornelis-Buitenzorg yang dibuka pada 31 Juni 1873. Begitulah cerita datangnya si ular baja di Batavia.
Stasiun Zuid Batavia dan Noord Batavia

Sebelum pembangunan stasiun Jakarta Kota, Batavia sudah memiliki dua stasiun dengan jarak yang berdekatan, yakni stasiun Zuid Batavia dan Noord Batavia.
Stasiun Zuid Batavia atau Batavia Selatan yang dikelola oleh B.E.O.S berada di lokasi stasiun Jakarta kota yang sekarang.
Sementara itu, terpaut 200 meter ke utara, ada stasiun Noord Batavia milik NIS yang melayani jurusan Batavia-Bogor. NIS lalu menjual konsensus jalur tersebut kepada Staaspoorwegen pada 1913.
Kemudian tahun 1923, stasiun Batavia selatan ditutup sehingga tinggal stasiun Batavia utara saja yang masih berfungsi.
Rencana pemerintah dalam bidang perkeretaapian di Batavia lainnya adalah menyatukan kedua Stasiun Batavia, yakni stasiun Zuid Batavia dan Noord Batavia.
Lokasi stasiun Batavia yang strategis

Diapit oleh pusat perdagangan Eropa di sebelah utara dan ruko-ruko orang Tionghoa di sebelah selatan. Berhadapan dengan stasiun ini, berdiri dua gedung perusahaan terbesar di Hindia-Belanda, Nederlands Handel Maatschappij dan De Javaasche Bank.
Selain lintas Batavia-Buitenzorg, stasiun Batavia juga juga tersambung dengan Tanjung Priok, Tanah Abang, dan Meester Cornelis (Jatinegara).
Sepanjang berdirinya, stasiun ini tersohor dengan nama Stasiun Beos. Nama Beos mengacu pada Bataviasche Oostpoorweg Maatschappij.
Sejarah berdirinya maskapai ini dimulai ketika H.J. Meertens mengajukan konsensi pembangunan kereta api dari Batavia ke wilayah timur, seperti Pasar Senen, Meester Kornelis, Tanjung Priok, dan Bekasi.
Namun, karena tidak memenuhi persyaratan hukum, maka konsensi tersebut ditolak. Tidak putus asa, Meertens beserta firma Tiedeman dan van Kerchem mengajukan konsensi yang sama pada pada 1881 dan setahun berikutnya, pemerintah akhirnya menerima konsensi tersebut.
Mereka diberi konsensi selama 90 tahun untuk membangun dan mengoperasikan jalur kereta dari Batavia ke wilayah timur seperti Bekasi dan Meester-Cornelis.
Pada 1887 lintas Batavia-Bekasi sendiri selesai dibuka, kemudian diikuti Bekasi-Cikarang pada 1890, dan Cikarang-Kedunggede pada 1901.
Pemerintah kolonial rupanya juga meminta B.E.O.S untuk melanjukan pembangunan kereta hingga lebih jauh ke timur sampai Cirebon. Namun, B.E.O.S menolak permintaan tersebut dengan pertimbangan bahwa biaya yang dibutuhkan sangat tinggi, mengingat mereka harus membuat jembatan di sungai Citarum (Rietsma, 1916;6-8).
Stasiun megah yang mencitrakan kejayaan

Sebagai stasiun yang berdiri di ibukota pemerintah, Belanda berharap untuk memiliki stasiun megah yang dapat mencitrakan kejayaan kekuasaan mereka.
Maka dari itu, Staatspoorwegen menugaskan C.W. Koch, kepala insinyur di Staatspoorwegen untuk merancang sebuah stasiun dengan muka yang megah dan di salah satu sudutnya dilengkapi dengan menara jam.
Namun, karena alasan ekonomi dan ketidaksepakatan, maka rencana Koch dibatalkan. Tugas perancangan bangunan stasiun yang memiliki 12 jalur tersebut akhirnya berpindah tangan kepada Frans Josef Lowrens Ghijsels. Arsitek dari biro konsultan Algemeen Ingenieurs- en Architectenbureau (A.I.A).
Dalam merancang stasiun baru tersebut, arsitek kelahiran Tulungagung tersebut mencoba beberapa variasi bentuk. Di antaranya pintu masuk utama pada bagian fasad depan.
Setelah bereksperiman dengan berbagai bentuk, Ghijsels akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah bangunan yang lebar, fasad rendah, dan di bagian tengah terdapat sebuah atap melengkung megah. Bentuk tersebut dinilainya cocok untuk sebuah stasiun terminus atau stasiun ujung (Akihary, 1996; 83).
Upacara peresmian pada 8 Oktober 1929
Pada Juni 1927, selepas Ghijsels mematangkan desainnya, stasiun Batavia selatan lantas dirobohkan.
Proyek pembangunan tersebut ditangani oleh kontrakrtor Hollandsch Beton Maatschappij.
Dengan kemajuan teknologi konstruksi saat itu, stasiun ini hanya perlu dibangun selama dua tahun.
Kontras dengan bangunan arsitektur stasiun yang bernuansa modern, upacara peresmian yang diadakan pada 8 Oktober 1929 menampilkan unsur tradisional yang sangat kental.
Pada pagi hari, para pegawai baik yang berdarah Eropa atau pribumi mengadakan upacara selamatan.
Pada siang harinya, gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff melakukan upacara penanaman kepala kerbau di depan pintu masuk stasiun.
Maksud dari upacara selamatan dan penanaman kepala kerbau supaya bangunan stasiun dapat terhindar dari marabahaya.
Seminggu setelah upacara tersebut, koran Javabode menyebut stasiun Batavia “berdiri bak monumen yang bersaksi kepada penerus kita tentang apa yang harus dipahami seputar ekonomi.
Bangunan itu akan menjadi stasiun yang memesona dan bergelar sebagai salah satu stasiun tercantik di timur”.
Stasiun dengan sistem teknologi mutakhir di zamannya

Pada tahun 1923 Staatspoorwagen mengelektrifikasi stasiun Jakarta Kota. Keamanan perjalan sudah dipikirkan dengan baik pada saat itu.
Stasiun ini menggunakan sistem keamanan Siemens & Halke, sistem paling mutakhir yang sudah digunakan pada stasiun-stasiun besar di Eropa dan Amerika.
Elektrifikasi jalur kereta disusul dengan rencana pengembangan bangunan stasiun-stasiun seperti Stasiun Tanjung Priok dan Stasiun Pasar Senen (Anonim, 1937; 164-167)
Langgam arsitektur Art Deco

Seakan menolak kemewahan langgam neo-klasik yang jadi pakem bangunan stasiun dari periode sebelumnya, Ghijsels memilih langgam arsitektur Art Deco yang terkesan lugas dan rasional, namun bercita rasa tinggi.
Langgam tersebut sejalan dengan prinsip Ghijsles, “kesederhanaan adalah jalan tersingkat menuju keindahan”.
Prinsip tersebut dituangkan dalam hiasan interior dan eksterior yang tampak sederhana, hanya menampilkan permainan garis tegak lurus.
Bagian dalam stasiun ini berupa kantor berlantai dua yang membentuk galeri. Sementara itu, di atasnya terbentang atap lengkung yang ditopang oleh kuda-kuda baja yang melindungi ruang di bawahnya.
Perhatian besar juga ditujukan pada detil pintu dan jendela. Racikan Ghijsels menghasilkan sebuah bangunan stasiun yang melampaui masanya.
Karenanya, orang yang pertama kali berjumpa dengan bangunan ini, tidak akan menyangka jika sebenarnya bangunan ini adalah bangunan lawas.
Walau aura kekunoan masih membungkus di stasiun ini, namun bagaimanapun juga perkembangan zaman tak bisa dihindarkan.
Pintu utama yang berada di tengah kini tidak bisa dilalui pengunjung lagi.
Di samping itu, peron yang berada di sebelah utara ditambahkan ruang tunggu baru untuk penumpang kereta api jarak jauh dan menengah.
Seperti itulah kisah stasiun Jakarta Kota, salah satu stasiun termegah di Hindia-Belanda.
Penanda babak baru sejarah transportasi di ibukota. Dengan visinya yang spektakuler, arsitek Ghijsels berhasil menghadirkan sebuah bangunan stasiun dengan arsitektur yang melampaui masa.
Bangunan ini terlihat gagah dipandang di masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.
Referensi
Akihary,H. 1996. Ir. F.J.L Ghijsels ; architect in Indonesia (1910-1929). Utrecht L: Seram Press.
Anonim. 1937. Batavia Als Handels-, Industrie-,en Woonstad. Batavia : G.Kolff & Co.
Anonim. Nederlandsch Indische Staatspoor-en Tramwegen. Nedelands Welvaart.
Reitsma, S.A. 1916. Indische Spoorweg Politiek (Deel I). Batavia : Landsdrukkerij
Bataviaasch Nieuwsblad. 15 Agustus 1929.
Foto sampul artikel oleh: Hendro Prabowo




























Discussion about this post