Kondisi pandemik COVID-19 saat ini membuat Museum Konferensi Asia—Afrika dikunci. Jika museum buka, hari ini kita dapat mengunjunginya dan memperingati KAA ke-65 tahun.
Meski telah 65 tahun berlalu, gema persahabatan negara-negara yang tergabung di dalamnya masih bergaung. Jejaknya dapat dilihat dari hubungan bilateral atau multilateral negara-negara tersebut.
Pada peringatan yang ke-60 tahun 2015, diadakan Konferensi Tingkat Tinggi Asia—Afrika. Peringatan tersebut bertujuan untuk mempromosikan kerja sama Selatan-Selatan bagi perdamaian dan kesejahteraan dunia.
Ada satu hal yang janggal dalam peringatan itu. Dekorasi yang dibuat di jembatan layang Pasopati tidak sesuai. Wajah Nelson Mandela terpampang besar. Padahal dulu ia tidak hadir. Afrika Selatan juga bukan negara peserta KAA.
Sahabat Kelana pernah berkunjung ke Museum Asia—Afrika atau melewati Gedung Merdeka? Kenapa sih Konferensi ini penting, sampai-sampai peringatannya pernah digelar begitu megah?

Konferensi Asia—Afrika Jawaban Perang Dingin
Di tengah Perang Dingin KAA digelar. Pertarungan untuk memperebutkan dominasi antara blok negara komunis dan liberal-kapitalis setelah Perang Dunia II adalah penyebab Perang Dingin.
Perebutan hegemoni itu mengancam negara-negara Asia—Afrika. Sadar akan hal itu, mereka berkumpul untuk menentukan sikap.
Ali Sastromidjojo, perdana menteri Indonesia kala itu dalam sidang Dewan Perwakilan Rakyat Sementara menyarakan pentingnya kerja sama negara-negara Asia—Afrika untuk perdamaian dunia.
Selanjutnya, ia mengunjungi beberapa negara bertemu dengan Jawaharlal Nehru di India, U Nu di Birma.
Lawatan Ali berujung dengan keputusan mengadakan Konferensi Bogor. Pada tanggal 28-29 Desember 1954 di Bogor mereka merumuskan niat kerja sama yang netral.
Wildan Sena Utama dalam Konferensi Asia Afrika: asal-usul intelektual dan warisannya bagi gerakan global antiimperialisme (2018) menarasikan alur peristiwa itu dengan rinci dan apik.
Empat bulan setelahnya, pada 18—24 April dua puluh sembilan pemimpin negara-negara Asia—Afrika hadir di Bandung. Mayoritas negara-negara yang hadir adalah negara bekas jajahan atau negara dunia ketiga.
Negara-negara yang hadir itu berdiri dalam posisi netral dalam ketegangan antara dua blok yang bertikai. Gerakan Non-blok adalah atas Perang Dingin. Perdamaian dan kemerdekaan, bukan perang yang diinginkan oleh para anggota KAA.

Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru
Pada hari pembukaan, Sukarno membacakan pidatonya, “Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru”. Sukarno berharap Asia dan Afrika dapat bersatu agar sejahtera.
Konferensi KAA juga dimaksudkan untuk “memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian,” ucap Sukarno dalam pidatonya.
Pertemuan ini juga menjadi panggung diplomasi internasional pertama bagi beberapa negara seperti China. Zhou Enlai, perdana menteri China waktu itu menjadi sorotan.
Ia diberondong pertanyaan mengenai kebijakan China. Tetapi sorotan yang ditujukan kepadanya adalah berkat sikap diplomatisnya yang tenang serta tidak mudah terpancing.
Berita berkumpulnya sepertiga perwakilan masyarakat dunia di Bandung itu menjadi ancaman bagi negara-negara dominan.
Richard Wright, salah satu penulis kulit hitam terkenal Amerika datang untuk menyaksikan secara langsung konferensi tersebut.
Ia membuat sebuah laporan khusus berjudul The Color Curtain: A Report on Bandung Conference (1956). Belakangan diketahui Wright disokong oleh CIA.
Pertemuan besar yang mengadu urat itu menghasilkan Dasasila Bandung. Negara-negara yang terlibat bersepakat untuk bekerjasama, menjunjung persamaan derajat serta saling menghormati.
Dasasila Bandung juga menekankan pengakuan kemerdekaan negara-negara baru di Asia dan Afrika.

Setelah 65 Tahun Konferensi Asia—Afrika
Ahmad Ben Bella, presiden Aljazair dikudeta. KAA kedua yang diadakan di Aljazair pada 29 Juni 1965 tetap berjalan. Tempat KAA II secara misterius dibom. Konferensi pun dibatalkan, para delegasi yang telah sampai di Aljazair mengungsi.
Seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, kedua blok bertarung melalui infiltrasi di tanah Asia—Afrika untuk memperebutkan pengaruh ideologi.
Perang Dingin menyebabkan negara-negara Asia—Afrika tidak stabil. Serangkaian kudeta di belahan dunia selatan terjadi setelahnya.
Meski KAA II batal digelar, semangat KAA melatarbelakangi berdirinya banyak organisasi yang memakai nama Asia—Afrika.
Semisal persatuan wartawan, pengarang, film, wanita sampai organ religius seperti Islam. Organ-organ itu ada yang memiliki kaitan langsung dan tidak. Wildan (2018) menyebutnya sebagai warisan intelektual.
Semangat Asia—Afrika adalah semangat kemerdekaan dan solidaritas. Enam puluh lima tahun yang lalu jadi tonggak kebangkitan negara-negara bekas jajahan. Mereka bersepakat mengulurkan tangan satu sama lain atas nama solidaritas.
KAA lebih dari sekadar pertemuan politik. Giorgio Shani (2016) menyebut tujuan utama dari konferensi adalah untuk menemukan titik temu dan visi untuk masa depan.
Bukan kapitalisme atau komunisme, tapi caranya adalah dekolonisasi. Penghapusan daerah jajahan untuk selama-lamanya.
Ia juga menyebut Bandung, sebagai sebuah situs ingatan, lieu de mémoire. Ia meminjam frasa itu dari sejarawan Prancis, Pierre Nora.
Dengan begitu kita dapat melihat Bandung sebagai situs ingatan atas janji penghapusan abadi kolonialisme.
Janji dekolonisasi Konferensi Bandung dalam konteks hubungan internasional seolah telah dilupakan.
Meskipun peringatan KAA ke-60 lalu menuai banyak kritik di balik kemegahannya, tetapi peringatan itu menghasilkan Deklarasi Mengenai Palestina. Kemegahan abadi dari KAA adalah kemerdekaan.
Jadi, Sahabat Kelana ada yang punya rencana berkunjung ke Museum Asia—Afrika setelah pandemi ini reda? Sampai bertemu di sana!




























Discussion about this post