Pada 22 Desember 2018, beres adzan Dzuhur setelah pulang dari rumah kakek. Berbekal modal pemberian orang tua Rp100.000 dikurangi Rp30.000 (untuk beli gas dan lauk pauk). Keputusan yang saya pilih lumayan mengagetkan mereka, saudara, kerabat serta kawan-kawan.
Sebelumnya tidak ada obrolan sama sekali kepada keluarga untuk berkelana ke Papua. Sehari sebelum saya berangkat, setelah beres mengurus persyaratan melamar kerja. Saya bilang ke ayah dan ibu ketika rumah sedang sepi. Setelah berbincang, saya bersyukur dapat restu mereka.
Saya sandarkan seperangkat tekad seisi ransel ke penghujung Timur Nusantara dengan sedikit pemberian dari ayah. Itu pun beliau meminjam tetangga, yang sesungguhnya saya tidak meminta namun ayah bilang “upami enjing mah angkatna Den, apa aya artos kantong rajut minggu ieu.” (kalau pagi berangkatnya Den, ayah ada uang hasil merajut tas minggu ini)
Saya sudah kepalang packing sehingga beliau meminta ibu untuk pergi ke rumah bibi di belakang rumah. “Pinjam uang dulu, bilang besok diganti”, pesan ayah kepada ibu sambil berjalan keluar. Pikir saya mungkin ibu berjalan ditemani perasaan dilema.
Pasalnya kalaupun dapat, itu tidak seberapa nominalnya, atau yang terpikirkan bukan Itu. Tapi ibu harus berusaha merelakan anak tunggalnya pergi jauh beribu-ribu kilometer dengan kabar samar. Kapan akan pulang kembali.
Berkelana ke Papua untuk Ayah dan Ibuku

Kami sekeluarga, relatif cukup awam informasi tentang Papua, yang kami tahu hanya sebatas BBM dan moda transportasi yang terkenal mahal serta berita tentang kekerasan yang sering muncul di layar media daring dan televisi.
Saya masih ingat uang pinjaman yang diberikan ayah ketika itu. Uang itu adalah nominal yang tersisa di keluarga. Itupun harusnya digunakan untuk keberlangsungan hidup beberapa hari ke depan.
Diiringi dengan sedikit adu mulut yang sering terjadi. Ayah bilang, “enggeus eungke deui meuli gas mah, eta jang ceucepeungan si Nenden” (Sudahlah nanti lagi beli gas nya, itu untuk pegangan si Nenden). Nenden, nama panggilan saya di rumah. Saya selalu tersentuh dengan pertengkaran kecil seperti itu kalau lagi ada di dekat mereka.
Karena merasa belum mampu memperbaiki keadaan, saya yang sudah eungga tahan, ditambah melihat raut muka ibu, eungga nunggu lama memberikan uang Rp100.000 itu ke ibu. Terus bilang, “entos ieu weuh peserkeun gas sareng nu sanesna, gampil Eni mah”, (Sudah ini saja dibelikan gas dan lainnya, gampang Eni mah) ujar saya.
Tapi ayah tetap keras melarang, sambil berkata, “enggeus eungke deui eta mah gampang” (sudah nanti lagi, itu mah gampang).
Uang gajian ayah hasil merajut dalam seminggu bisa Rp200.000 – Rp300.000, itu juga kalau lagi ada orderan. Selebihnya dari keseharian, Ayah menggarap padi di sawah milik orang lain.
Namun, saya bersikukuh mengabaikan perkataan ayah sambil mendekati ibu dan untuk kedua kalinya memberikan uang kepadanya, “atos teusawios peserkeun wae” (sudah tidak apa-apa, belikan saja). Ibu tertahan sebentar, bersama diamnya, lalu berdiri dengan mata berkaca menuju warung sepakat pada apa yang sudah dibisikan berkali-kali.
Saya lanjut membereskan baju, berkas-berkas lamaran kerja, dan beberapa buku bacaan untuk di perjalanan kalau-kalau merasa bosan. Sambil mengemas, penguat tekad sudah terucap, dari apa yang sudah terlontarkan kata ‘gampil eni mah’.
Ibu pulang dari warung dengan membawa 1 buah gas, seperempat minyak goreng, 2 bungkus mie rebus dan telur untuk makan siang saya dan ayah. Sisanya diberikan uang kembalian Rp70.000 untuk bekal perjalanan saya.
Papalidan, Menepi Sejenak di Jatinangor
Keluar dari gang rumah, saya menggunakan moda transportasi umum sampai di terminal Majalaya. Ibu ikut mengantarkan saya melepas rindu beriringan dari rumah hingga depan jalan raya. Saya pun melambaikan tangan sebelum menaiki angkot.
Sesampainya di terminal, mulailah saya menumpang truk. Truk cuma membawa saya sampai pertengahan jalan, selanjutnya nyambung menumpang truk lainnya menuju Cileunyi.
Saya putuskan untuk nunggu truk yang arah Cileunyi. Sebatang rokok terhisap habis, namun yang di nanti eungga terlihat.
Akhirnya saya pasang telunjuk, naik angkutan umum, karena hari sudah makin sore, sedangkan angkot sudah masuk jam terakhir.
Nasib, angkutan yang saya tumpangi kejebak macet panjang. Lalu saya putuskan turun dan jalan kaki sampai di pertigaan jalan utama yang menghubungkan lintas Garut, Jawa dan tol Purbaleunyi.
Ketika lalu-lintas kendaraan padat merayap, saya jalan mendekati mobil pickup dan minta tolong, “bang ke arah mana?”, Ujar saya. “Putar balik ka arah Jatinangor”, timpalnya.
“Teusawios abi ikut nebeng dugi ka Sayang kang?“, “Muhun mangga kang”. (Tidak apa-apa saya menumpang sampai ke Sayang, kang? Iya silakan kang). Sampai juga akhirnya di kota ternyaman sedunia. Jatinangor.
Selepas berkumandang adzan Maghrib. Saya memilih untuk beristirahat di kos-kosan teman yang masih berjuang untuk keluar dari kandang kampus.
Pada 22 Desember, saya menginap satu malam. Sudah diputuskan saya memulai dari Jatinangor dengan tujuan pertama Jakarta Utara.
Lampaui, Pesan Sahabat Saya
Hari ini, 23 Desember 2018, Jatinangor adalah keharusan bagi saya untuk memulai suatu petualangan jarak jauh dalam waktu lama. Saya selalu bersyukur pernah tinggal dan menggauli kota ini.
Jatinangor. Banyak yang ngasih julukan kota ini. Memberi makna yang mewakili individu. Kota yang beregenerasi. “Jatinangor itu ngeselin, tapi ngangenin”, ungkapan yang mewakili saya.
Entah siapa pencetusnya, bagi saya that’s true. Berlapis-lapis memori tertanam di kawasan ini, tapi saya sadar harus bisa melampaui semua itu.
Keberangkatan pagi itu ditunda sampai menjelang sore karena hujan deras. Saya mikir eungga akan berangkat kalau nunggu hujan reda.
Akhirnya saya putuskan angkat ransel dengan diantar cs-ku sikalem juga tegar, sampai di tempat truk parkir, di pinggir jalan, sebelum gerbang tol.
Kami berdua larut dalam obrolan perpisahan. Di warung kopi diselingi hujan deras. Dramatis sinematik pisan lah. Saya selalu inget pesannya, “sekeras apapun nanti di Jakarta atau di mana pun harus bisa melampauinya”.
Menarik bagi saya, kata ‘lampaui’ mutlak harus menyatu di setiap akal manusia. Jangan menyerah, jangan pulang sebelum mencapai apa yang diinginkan.
Saya sudah memprediksi, bakalan lama di Jakarta. Sebelum gerbang tol Cileunyi saya nunggu truk di pinggir pos lalu-lintas sebelah kiri dari arah tol masuk. Kemudian cs saya pamit karena dia ada janji yang harus dikerjain.
Lama eungga dapet truk. Di sore hari yang gemericik ini, saya jalan beberapa meter ke depan mendekati mobil box pengangkut gas yang sedang menepi di warung pkl pinggir trotoar.
Saya mulai melobi menceritakan maksud tujuan saya. “Bang tujuanya kemana?”, tanya saya. “Karawang, kenapa de?”, timpalnya. “Ahh tidak bang, boleh saya ikut numpang bang?”. “Kemana de?”, “Tujuan saya ke Jakarta Utara bang, kalau diperbolehkan ikut nanti saya sambung cari tumpangan lagi, bagaimana bang masih bisa ikut?”
Mereka berdua berunding sebentar dan keputusanya saya dibolehkan hanya sampai rest Area KM 19 terus ngasih pesen, “jangan macem-macem ya”.
Menepi di Rest Area Bekasi
Di rest area Bekasi, emosi lumayan dikuras melobi supaya dapat tebengan. Banyak kendaraan plat B, BA, BK, Bl mayoritas lintas Sumatra saat saya muterin rest area.
Tapi gak segampang itu, benar yang dibilang sopir box, “sekarang gak kaya dulu, ikut-ikut nebeng gampang, akang masih beruntung, tapi sekarang udah beda jamanya”, ingat saya sela istirahat di rest area Bekasi.
Ia juga cerita sempet kena peras duit dan Hp oleh penebeng yang dikasih tumpangan, apalagi kalau yang nebeng bawa senjata tajam, udah gak bisa ngapa-ngapain lagi, ujarnya.
Saya ngerti, kenapa dia sempat mengingatkan, “asal jangan macem-macem ya”.
Malam ini mendung, terasa sulit menemukan keajaiban, dapat tumpangan untuk sampai di Tanjung Priok.
Setelah coba kembali berkeliling, saya memutuskan duduk sebentar di deket Pom Bensin. Lalu, menghampiri setiap kontainer yang mengisi minyak. Hingga ke empat kalinya, saat saya bertanya akhirnya ketemu juga orang baik, supir kontainer tujuan Sunter.
Pada pukul 22.00 WIB, keluar pintu tol Sunter Jak-ut, truk yang saya tumpangi menepi tepat di depan warung kopi sisi trotoar. Saya langsung pesen kopi dan berbatang-batang rokok. Jeda sejenak sambil bertanya-tanya kendaraan selanjutnya, tujuan Tanjung Priok.
Udah gak mungkin bagi saya buat nebeng truk atau mobil pickup karena Ibu Kota dapat diperkirakan kemungkinannya ketika memasuki jam malam.
Penjual kopi ngasih saran untuk naik bus, itupun kalau masih ada, jalan kaki lumayan jauh terangnya.
Akhirnya tiba di Jakarta, tengah malam, tanpa merasakan panik seperti yang dipikirkan sebelumnya. Saya sampai di terminal Tanjung Priok.
Angkutan umum tinggal satu yang bersiap mengarah ke pelabulan. Sampai di gerbang masuk pelabuhan, dikasih pesan oleh sopir angkot. “hati-hati mas, tanya-tanya lagi aja ke sekuriti di sana”, ujarnya.
Jalan kaki, ditemani alunan suara mesin-mesin petikemas, hentakan truk tronton dan kontainer. Makan waktu 1 jam buat sampe di lantai dua pelabuhan penumpang Tanjung Priok.
Sebelumnya, ada kendaraan roda dua menghampiri beberapa kali, tapi saya tolak, bukan karena gak nerima kebaikan, tapi ngikutin kata hati, jalan kaki saja. Menghampiri kerumunan orang kemudian bertanya kepada mereka.




























Discussion about this post