Alih-alih menggencarkan pesan persatuan dan toleransi, yang menjadi tajuk utama dari kunjungan Obama sepuluh tahun yang lalu adalah kesannya soal kuliner jalanan Indonesia. “Bakso, nasi goreng, … semuanya enak!”
Tidak lengkap rasanya bertualang ke Timur Jawa tanpa mencoba bakso. Tapi jangan heran jika menemukan bakso yang tidak enak serta tingkah yang janggal dari penjualnya, bisa jadi dia mata-mata negara.
Kaitan kuliner jalanan kesukaan Obama kecil itu dengan spionase sudah jadi rahasia umum. Apa saja sih kuliner nusantara pinggir jalan yang lazim digunakan untuk berkamuflase itu?
Kuliner Jalanan di Persimpangan Spionase

Beberapa waktu lalu (10/10/19), jagat Twitter gempar oleh utas fiksi dari akun @ricohore yang viral. Ia mengisahkan pedagang bakso yang dulunya berprofesi sebagai intel.
Pak Bagyo tulis utas itu, lebih memilih berdagang bakso karena ramai daripada meneruskan karirnya sebagai intelejen, sementara kasusnya tidak pernah tuntas. Imajinasi ini bisa dikatakan liar, tapi tidak sepenuhnya. Teknik penyamaran ini dikonfirmasi oleh kepolisian.
Salah satu perwira dari Satreskim Polrestabes Bandung, Tri menceritakan kepada Tribun soal penyamarannya menjadi tukang bakso.
Pada siang hari menyamar berjualan bakso, saat malam tiba berubah menjadi penjual sekoteng. Kasatreskim Polrestabes Kota Bandung, M Rifai juga menerangkan bahwa hal seperti itu lumrah dilakukan untuk menggali informasi.
Bakso adalah kuliner nusantara yang populer. Bruce Kraig dan Collen Taylor Sen (2013) mengatakan bakso pada umumnya terbuat dari daging sapi yang dicampur dengan sedikit tepung tapioka—daging lain biasanya juga digunakan seperti ayam, ikan, atau udang. Varian bakso sering ditemui dan menjadi favorit khalayak adalah Bakso Wonogiri dan Bakso Malang.
Dalam bahasa Hokkien bakso berarti daging giling, dalam konteks aslinya merujuk pada daging babi. Kuliner ini adalah salah satu warisan dari Dinasti Ming. Tapi menurut Ken Woytisek, instruktur koki kuliner Asia dari Culinary Institute of America’s St. Helena, California, bakso mungkin saja berasal dari Belanda.
Selain bakso, kuliner nusantara yang wajib Sahabat Kelana coba adalah nasi goreng. Kuliner ini juga memiliki kisah spionase.
Beberapa waktu setelah teror Sharinah—Thamrin, warga perumahan Suradita, Desa Suradita, Cisauk, Kabupaten Tangerang sempat curiga dengan pedagang nasi goreng yang tiba-tiba berkeliling di wilayah mereka.
Menurut warga, pedagang itu terlihat janggal karena jarang ditemui. Setelah operasi penangkapan Dian Apriana, calon pengantin bom bunuh diri selesai. Ia tidak terlihat berdagang lagi.
Beberapa pelanggannnya jadi bingung, tapi teka-teki hilangnya pedagang nasi goreng keliling dadakan itu bermuara pada kecurigaan, “bisa jadi ia adalah intel Densus 88”.
Menurut Street Food Around the World: An Encyclopedia of Food and Culture nasi goreng juga merupakan jajanan kuliner varian dari nasi yang digoreng di wilayah Cina daratan. Nasi goreng dimasak dengan minyak dan berbagai sayuran yang dibumbui dengan bawang putih, lada, saus tomat, sambal, kecap manis, dan beberapa bumbu lainnya.
Terdapat banyak varian nasi goreng di seluruh Indonesia. Salah satunya, Nasi Goreng Magelangan yang merupakan campuran nasi goreng dan mie.
Kuliner jalanan lainnya yang akrab dengan spionase selain bakso, sekoteng, dan nasi goreng adalah cilok. Kuliner asal Jawa Barat ini adalah akronim dari aci dicolok.
Kuliner ini jadi opsi teman nongkrong pelbagai kalangan. Selain Cilok, Siomay juga jadi opsi yang dipilih oleh intelejen Densus 88. Ketika itu, pada 2014 melumpuhkan terduga teroris di Ciputat. Warga mengira kuat pedagang siomay yang tengah menyamar itulah yang melumpuhkan terduga teroris dengan timah panas.
Kuliner dan Spionase Dunia
Penyamaran, seperti yang diungkap oleh mantan Kepala Penyamaran CIA, Jonna Mendez, membuat identitas asli kita hilang digantikan dengan yang lain. Ia juga mengatakan dalam operasi klandestin, kafe adalah tempat yang rawan.
Ketika melindungi klien, misalnya, bisa jadi seorang yang duduk di meja seberang adalah musuh. Tetapi, kafe dan restoran juga jadi kunci dari operasi penguntitan. Kafe dan restoran di sisi lain juga strategis untuk operasi pengintaian.
Dikutip dari NPR, Amaryllis Fox seorang mantan agen CIA mengatakan, “Dalam banyak hal, restoran dan kafe merupakan sumber kehidupan mata-mata”. Banyak kemungkinan pertemuan terjadi di dalam restoran dengan orang-orang yang diburu.
Dalam bukunya Life Undercover: Coming of Age in the CIA cerita-ceritanya memang berkaitan dengan restoran dan kafe. Semisal pertemuannya dengan Min Zi, salah satu tokoh dari protes 8888 yang menentang junta militer di Myanmar.
Kafe dan restauran sebagai tempat operasi dapat dilihat di dalam film atau series. Semisal di film Casino Royale atau serial Le Bureau des Legéndes yang menceritakan kerja mata-mata tanpa bumbu kecanggihan teknologi.
Dalam salah satu episode series yang berlatar di Paris itu Guillaume Debailly mengajarkan kepada Marina Loiseau cara mendapatkan informasi dari target di sebuah kafe.
Mendapat informasi yang cukup dari musuh adalah hal yang penting untuk menjamin keamanan, tulis filsuf China Sun Tzu dalam The Art of War. Filosofi itulah yang kemudian membuat kerja intelejen China hampir mirip dengan Indonesia.
Seperti yang diceritakan oleh Fox, para pedagang kuliner jalanan adalah bagian dari mesin raksasa intelejen China.
Trik Aman Jajan di Jalanan
Masyarakat kita sering membuat candaan, jika kuliner jalanan yang kita pesan tidak enak bisa jadi penjualnya adalah agen intelejen yang sedang menyamar. Beberapa penuturan di masyarakat juga mengungkap bahwa tidak jarang mereka “mengerjai” para pedagang yang diduga intel ini.
Cara mengenalinya mudah, biasanya bahasa tubuhnya aneh, terlihat waspada, serta sering menanyakan hal yang tidak wajar kepada pembeli.
Seperti yang dikisahkan oleh para mantan mata-mata, mereka membutuhkan latihan yang cukup intens agar penyamarannya terlihat wajar. Mendorong gerobak, melayani penjual, serta memasak akan terlihat janggal jika tidak terbiasa.
Akan tetapi, trik usang yang gampang diendus ini mulai ditinggalkan. Sekarang berkamuflase paling lazim adalah menjadi pengantar makanan ojek daring. Beberapa kasus kriminal telah terbukti dibongkar oleh para tukang ojek yang di dalam jaketnya terdapat pistol dan borgol.
Tapi di Prancis atau di belahan dunia lain, tidak ada tukang bakso keliling, apalagi nasi goreng. Tak heran jika, restoran dan kafe adalah kunci, sementara jalanan di Indonesia adalah tempat dari segala informasi.




























Discussion about this post