• ABOUT US
  • PRIVACY POLICY
  • TERM OF USE
  • DISCLAIMER
  • HUBUNGI KAMI
  • SITEMAP
Sabtu, 4 April 2026
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
  • Login
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
Kelana Nusantara
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
  • Login
No Result
View All Result
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
Perempuan dan Fotografi

KITLV A363 - Balinese vrouwen op Bali

Memperingati Konferensi Asia Afrika Ke-65

Fakultas Sastra Himpunan Mahasiswa Atep

Perempuan dan Fotografi

Dalihnya seni, tapi?

Rizki Putra Zuwandono by Rizki Putra Zuwandono
23 April, 2020
in Budaya, ZZ Slider Utama
78 3
0
Share on Facebook

Baca jugaArtikel :

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

Tidak dapat ditampik bahwa salah satu sifat fotografi adalah menyalin realita dengan komposisi yang presisi. Lensa dengan baik menyalin citra yang tampak.

Fotografi mendokumentasikan realita. Itulah kenapa praktik dokumentasi hari ini mulai bergeser, tidak hanya berupa bahasa tulis.

Salah satu fenomenanya adalah laman media sosial. Jutaan manusia mengunggah foto di laman mereka masing-masing hampir setiap detiknya.

Beragam foto, mulai dari pemandangan, aktivitas manusia, hingga potret-potret perempuan dengan pose yang cukup vulgar. Posisi perempuan seolah adalah objek bagi pemotret.

Foto-foto ini kemudian menyebar di laman media sosial masing-masing yang memicu komentar dari koleganya.

Tidak sedikit komentar yang cenderung menempatkan subjek foto sebagai objek dengan dalih seni.

“yang merah jangan sampe lolos…”

“duh..”

“wow naughty”

Pertanyaannya, kapan praktik ini mulai berkembang dan apa motifnya?

Bandung, 2019, (c) Rizki Putra/Kelananusantara

Perempuan dalam Citra Foto Kolonial

KITLV A363 – Balinese vrouwen op Bali via digitalcollections.universiteitleiden
Menarik waktu sedikit ke belakang, fotografi sudah ada sejak zaman Hindia-Belanda.

Achmad Sunjayadi (2018) dalam penelitiannya berjudul “Mengabadikan Estetika: Fotografi dalam Promosi Pariwisata Kolonial di Hindia-Belanda”, Mengungkapkan bahwa zaman Hindia Belanda seiring dengan tren orientalisme sarjana Eropa. Foto-foto yang menampilkan kelompok masyarakat Timur sangat menarik minat, salah satunya foto perempuan.

Foto ini umumnya dikemas sebagai cinderamata atau carte de visites; berisikan foto-foto penduduk pribumi serta aktivitas adat dan budaya. Dicetak seukuran kartu pos.

Foto-foto ini menampilkan perempuan dengan pose yang cukup vulgar. Itulah satu alasan bangsa Eropa menaruh minat untuk datang ke Hindia Belanda sebagai turis.

Sunjayadi menunjukan data statistik kenaikan angka turis di kurun waktu tahun 1926-1936. Dalam kerangka ini, dapat dipahami bahwa pemerintah kolonial memiliki kesadaran menggunakan fotografi sebagai bagian dari agenda pariwisata di Hindia Belanda.

Data lainnya, Alexander Supartono dan Alexandra Moschovi (2018) dalam penelitiannya, Contesting colonial (hi)stories: (Post)colonial imaginings of South  East Asia menuliskan, seiring dengan pergeseran waktu, foto-foto perempuan yang sebelumnya digunakan sebagai cinderamata beralih sebagai bahan penelitian untuk melihat kondisi kehidupan dan kesehatan masyarakat di Hindia Belanda.

Hal tersebut memperlihatkan bagaimana foto yang sama dalam waktu yang berbeda dapat digunakan untuk motif yang berbeda.

Tradisi fotografi zaman kolonial tidak sepraktis saat ini, itulah mengapa foto-foto pada era tersebut cenderung statis. Perkembangan praktik lukis dengan pendekatan naturalisme mooi-indie turut memberikan andil sebagai bahan referensi fotografer-fotografer era kolonial.

Dalam kerangka fotografi, pendekatan tersebut berkaitan erat dengan praktik foto salon. Praktik lukis dengan foto ini cenderung tidak dapat melepaskan citra gunung, sawah, perbukitan dan perempuan.

Koran De Preanger-Bode (1923) mencatat, Preanger Amateur Fotografenclub mengadakan pameran foto salon pertama untuk agenda selama satu tahun ke depan. Tujuannya memberi tenggang waktu merefleksikan karya dari masing-masing peserta.

Dapat dipahami bahwa pada periode itu kamera adalah barang langka, hanya sedikit orang dapat mengaksesnya karena harga yang tinggi.

Pertanyaannya kemudian, apakah foto-foto tersebut bernilai seni?

KITLV A363 – Rivier tussen terrassen op Bali via digitalcollections.universiteitleiden   

Foto dan Seni

Di Indonesia, sampai saat ini fotografi masuk kategori karya seni atau tidak masih jadi bahan perdebatan. Namun, dalam konteks Indonesia, tulisan Arsath Ro’is (1951) yang dirilis majalah Zenith dapat dijadikan salah satu rujukan.

Tulisan ini terbagi jadi empat bagian, pertama ‘Seni Potret’, kedua ‘Potret Manusia’, ketiga ‘Potret Pemandangan’, dan keempat ‘Potret Benda’

Menurutnya kemampuan teknis hanya persoalan efisiensi waktu pembuatan, tidak lebih dari itu. Siapa dan sejauh apa visi fotografer itu yang paling penting. Argumennya berdasarkan pada anologi berikut,

“Kalau seorang anak diberikan alat pemotret dan suruh dia membuat potret adiknja (menekan knop sdja) dihalaman jang terang disinari matahari, hasilnja kelak potret manusia djuga. Apakah hasilnja itu bermutu seni? Tentu tidak, bukan? Satu tjontoh lagi: kalau seorang anak membuat gambar dibuku tulisannja disekolah dapatkah ia dibandingkan dengan Sudjojono atau Affandi? Bukankah hasilnja dinamakan gambar djuga? Tidak bukan? Nah, demikian djugalah halnja dalam seni potret!” (Zenit, 1951)

Kutipan ini memberikan gambaran bahwa yang paling utama dari karya foto sama halnya dengan karya seni lain. Siapakah sosok di balik karya dan apa visi karya tersebut.

Pernyataan ini memperlihatkan gambaran bahwa subjek fotografi tidak harus selalu indah.

Subjek dapat direpresentasikan dengan berbagai hal, asalkan konstekstual. Visi pada tataran ini lebih penting ketimbang keindahan itu sendiri.

Sepertinya tidak salah bila mengaitkan argumen ini dengan fenomena foto potrait di dunia digital dan media sosial saat ini.

Perkembangan praktik fotografi cenderung berjalan di tempat. Kembali pada citra foto sebagai objek seperti pada zaman kolonial.

Alih-alih menampilkan keindahan tubuh perempuan dengan dalih seni, saat ini output dari foto potrait justru terkesan erat hubungannya dengan sudut pandang laki-laki dalam melihat perempuan sebagai objek.

Jurnal

Moschovi, Alexandra, and Supartono, Alexander. Contesting Colonial (hi)stories: (Post)colonial imaginings of South East Asia. 2018 (sure.sunderland.ac.uk)

Sunjayadi, Achmad. Mengabadikan Estetika: Fotografi dalam Promosi Pariwisata di Hindia-Belanda. Wacana, 2008

Majalah dan Koran

De Preanger-Bode, 13 Desember, 1923

Ro’is, Arsath, Seni Potret, Majalah Zenith, 1951.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags: FotografiHindia BelandaKolonialSejarah Fotografi
Share44Tweet28Pin10SendShareSend
Previous Post

Memperingati Konferensi Asia Afrika Ke-65

Next Post

Fakultas Sastra Himpunan Mahasiswa Atep

Rizki Putra Zuwandono

Rizki Putra Zuwandono

Saya tertarik pada kajian fotografi, sejarah dan seni.

Related Posts

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!
Acara

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
106
Kelana

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
122
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah
Sosok

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
238
Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan
Akomodasi

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

3 Februari, 2022
341
Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu
Budaya

Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu

1 Februari, 2022
972
Backpackeran dari Jakarta – Nusa Penida Budget Rp2 Jutaan
Kelana

Backpackeran dari Jakarta – Nusa Penida Budget Rp2 Jutaan

10 Desember, 2021
377

Discussion about this post

Artikel Terpopuler

Berkelana ke Wilayah Penutur Bahasa Sunda di Jawa Tengah

Berkelana ke Wilayah Penutur Bahasa Sunda di Jawa Tengah

23 Mei, 2020
3.6k
Black Metal, Berkenalan dengan Kegelapan

Black Metal, Berkenalan dengan Kegelapan

14 September, 2020
2.5k
Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

26 Februari, 2020
15.6k
Mengapa Orang Sunda Malas?

Mengapa Orang Sunda Malas?

15 Mei, 2020
11.2k
Sanggama dan Pesantren: Penyatuan Nafsu dan Rahasia Ilahi (Bagian I)

Sanggama dan Pesantren: Penyatuan Nafsu dan Rahasia Ilahi (Bagian I)

14 September, 2020
2.3k
Tizi Restaurant, Sajikan Makanan Khas Jerman di Bandung

Tizi Restaurant, Sajikan Makanan Khas Jerman di Bandung

5 Agustus, 2020
2.9k

Rekomendasi Kelana

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

2 Mei, 2025
184
Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
106

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
122
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
238
Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

16 Oktober, 2023
167
Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

21 September, 2023
126

Yuk Ikuti Kelana Nusantara!

  • Setiap jejak yang kita ingat  mengandung mineral-mineral lautan yang kita kecap    sumbawa  sumbawaisland  rumputlaut  kelananusantara
  • Saat ini kita buka program magang untuk siapa saja  sebab Kelana Nusantara kini hadir dengan wajah baru  Saat ini kita membutuhkan ide dan pemikiran kalian untuk dituangkan disini  khususnya di bidang media digital   Join with us   untuk form sudah tertera di bio  Selamat berpetualang
  • Penayangan perdana Demon Slayer  Entertainment District Arc menuai protes dari fans dengan Tengen Uzui salah satu protaganisnya disebut melakukan poligami   Demon Slayer  Entertainment District Arc memperkenalkan Tengen Uzui  seorang Hashira  mentor selanjutnya Tanjiro Kamado  mantan ninja yang memiliki 3 istri   Tengen Uzui hadir dengan segala pesona  mengakui dirinya pribadi yang selama hidupnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Nusa Penida kerap menjadi destinasi untuk dikunjungi wisatawan yang memiki hobi diving   Sahabat Kelana yang penasaran dengan eksotika keindahan bawah laut Nusa Penida tentu harus menyiapkan budget khusus    Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Kehadiran moda transportasi darat  dalam hal ini kereta api trem uap di Demak tidak lepas dari meningkatnya arus perdagangan antara Eropa dan Hindia-Belanda   Terutama setelah pembukaan Terusan Suez pada 1869   Investasi asing kemudian  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sebenarnya uang yang dihabiskan dunia untuk persenjataan militer dan perang dalam satu minggu cukup untuk memberi  makanan  seluruh manusia di bumi dalam setahun   Fakta yang mencengangkan  memang  sementara perang terus dilangsungkan tanpa jelas ujungnya  di pelosok dunia  miliunan manusia meringkih bertahan hidup dalam kelaparan   Tapi  bisakah makanan menjadi penopang basis perubahan   Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sahabat Kelana  perlu diketahui sebelum mengulas 5 rekomendasi villa bambu terbaik untuk Honeymoon asik di Bali   Pemerintah saat ini memberlakukan pembatasan perjalanan bagi wisatawan asing  sebagai reaksi munculnya varian Covid-19 B 1 1 529  Omicron   Hongkong dan beberapa negara Afrika      Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Anantha Wijayanto salah satu pegiat kaktus asal Bali berbagi tips bikin Green House kaktus rumahan dengan budget Rp500 ribu   Idealnya  setiap tanaman khususnya kaktus disarankan memiliki naungan  untuk menjaga stabilitas suhu dan kelembapan udara   Meski kaktus memiliki habitat asli di gurun  namun  ada pertimbangan tanaman ini umumnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Mang Eden salah satu petani kaktus terbesar di Lembang berbagi cara grafting kaktus yang benar   Tim redaksi Kelananusantara  beberapa waktu yang lalu  mengunjungi Kampung Cicalung Desa Wangunharja  Kecamatan Lembang  Kabupaten Bandung Barat   Lokasi ini berdekatan dengan destinasi wisata yang cukup terkenal     Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
Facebook Twitter Instagram

Bekal Petualanganmu

Iwakmedia Digital Indonesia

Iwakmedia Workshop II
Ruko Jatimurni, Jl Jatimurni No. 2.
Jatipadang, Pasar Minggu.
Kode Pos 12540. (+6221) 780 8020.
Jakarta - Indonesia
Basecamp Kelana Nusantara
Jl. Mentor, Gg Dakota, RT.01/RW.05
Sukaraja, Cicendo.
Kode Pos 40175.
Kota Bandung - Indonesia

Tentang Kelana Nusantara

  • About Us
  • Privacy Policy
  • Term Of Use
  • Disclaimer
  • CONTACT US

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

No Result
View All Result
  • About Us
  • Term Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Sitemap
  • Kelana
  • Sosok
  • Akomodasi
  • Budaya
  • Kuliner
  • Hipotesa
  • Acara
  • Login

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Cookie settingsACCEPT
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary Always Enabled

Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.

Non-necessary

Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.

Add New Playlist