Sebelumnya Baca: Menafsir Puisi Abad Dua Puluh Karya Jeihan
Tradisi menurut Nyoman Kutha Ratna adalah kebiasaan-kebiasaan, perilaku masyarakat yang pada umumnya diwariskan secara turun-temurun, sejak nenek moyang hingga sekarang.
Karisma tradisi ditunjukkan melalui pola-pola yang dilakukan dengan rasa patuh karena dianggap sebagai cara yang baik dan benar. Tradisi dengan demikian didominasi oleh orde sosial, pola-pola perilaku diikat oleh ciri-ciri kelompok dan solidaritas primordial pada umumnya.
Belum berhenti sampai di titik itu, Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi menuliskan, kebudayaan tradisional terbagi dalam dua kategori, yaitu antara budaya keraton dan budaya populer.
Kedua kategori ini pernah dialami Indonesia sebagai konteks budaya dan pernah jadi suatu dualisme. Dan kedua kategori tersebut dipengaruhi budaya Islam.
Budaya Keraton
Budaya keraton dalam istilah lain disebut budaya istana, dikembangkan oleh abdi-dalem mulai dari pujangga sampai arsitek.
Raja berkepentingan menciptakan simbol-simbol budaya tertentu dengan tujuan untuk melestarikan kekuasaannya. Biasanya, bentuk-bentuk kebudayaan yang diciptakan untuk itu berupa mitos.
Efek yang ingin dicapai oleh penciptaan simbol-simbol budaya mitologis kerajaan ini dimaksudkan agar rakyat loyal kepada raja. Pengaruh kebudayaan Islam di dalam budaya keraton terdapat pada Babad Jawa, sebagai salah satu karya kerajaan.
Dalam Babad Jawa, raja digambarkan sebagai pemegang “wahyu”. Ia merasa sah untuk mengklaim dirinya sebagai wakil Tuhan untuk memerintah rakyatnya.
Sultan Agung sebagai contoh, diberi gelar Khalifatullah, wakil Tuhan di tanah Jawa. Namun, masuknya budaya Islam di dalam keraton tidak memengaruhi keseluruhan budaya Jawa. Penerimaan yang dilakukan oleh keraton Jawa terhadap pengaruh Islam cenderung bersifat defensif.
Menerima pengaruh-pengaruh tertentu dari Islam selama dapat diadopsi untuk status-quo kekuasaan Jawa dan dapat ditundukkan dalam konsep kosmologinya.
Inilah sikap yang kemudian jadi karakteristik budaya keraton Jawa ketika berhadapan dengan Islam. Suatu sikap yang berbeda dengan budaya keraton di luar Jawa yang cenderung menerima sepenuhnya pengaruh Islam sebagai unsur pembentuk utama.
Budaya Populer (Budaya Rakyat)
Budaya yang selanjutnya adalah budaya populer, budaya ini adalah milik rakyat yang berada di luar keraton. Sama dengan budaya keraton, dalam budaya populer juga dikenal adanya cerita-cerita mitologis dan mitos.
Menurut Kuntowijoyo, yang lebih penting diamati adalah akibat pengaruh budaya populer, Islam jadi berwarna mistis.
Tapi pada perkembangan berikutnya kebudayaan populer di Indonesia banyak menyerap konsep dan simbol-simbol Islam. Sehingga sering tampak bahwa Islam muncul sebagai sumber kebudayaan yang penting dalam kebudayaan populer Indonesia.
Pengaruh Islam sangat terasa dalam bidang keilmuan di lingkungan kebudayaan populer Indonesia. Dalam ilmu pengetahuan tradisional sering dikenal dengan istilah ngelmu, konsep-konsep Islam tampak jelas, mulai dari pembahasan tentang kosmologi sampai adab bersuami-istri.
“Sesungguhnya ngelmu-ngelmu Jawa seperti yang terdapat dalam buku-buku Betal Jemur atau Adam Ma’na sangat dipengaruhi oleh kitab Mujarobat yang kendatipun banyak dikritik sangat sinkretik, masih memperlihatkan pengaruh Islam yang kuat, dibandingkan buku sebelumnya”, tulis Kuntowijaya
Kebudayaan tradisi atau tradisional di Nusantara banyak dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan lain yang datang dari wilayah sistem kepercayaan.
Max Lane dalam Bangsa yang Belum Selesai: Indonesia menambahkan, Hinduisme, Budaisme, dan kemudian Islam, telah menyebar di Nusantara dengan keluasan dan kedalaman berbeda. Melalui proses dinamis dan lokal.
Kebudayaan-kebudayaan lain ini mengusung gagasan, literatur, dan teknologi baru yang saling menyesuaikan. Digunakan dalam proses, dikendalikan, serta dikembangkan oleh kekuatan sosial yang ada di Nusantara.
Budaya Nusantara Berubah Jadi Sebatas Tradisi
Sejak abad ke-16 dan seterusnya, perampasan kemakmuran dan pembatasan alih pengetahuan telah menjadi norma. Budaya nusantara berubah menjadi tradisi yang dipelihara langsung oleh kebijakan kolonial atau dijaga dengan isolasi yang dipaksakan agar tak bertranformasi jadi sesuatu yang baru.
Situasi kemandekan kebudayaan dan pemisahan wilayah berlangsung hampir selama 400 tahun hingga kebangkitan nasional Indonesia, pada awal abad ke-20.
Kebangkitan ini melaju jadi gerakan yang memperjuangkan kebebasan dan kolonialisme. Gerakan revolusi nasional demi kemerdekaan dan membangun landasan bangsa. Negara baru yang merdeka.
Lane menambahkan mengenai saling hubungan antara identitas kebangsaan dan pengaruh kolonial terhadap pembentukan suatu bangsa yang penah terjajah dan pernah memiliki kebudayaan asli.
Kata bangsa dan revolusi telah memainkan peran sentral dalam sejarah modern. Masyarakat, pengelompokan etnik, suku, klan, kerajaan, negara dalam berbagai bentuknya, telah ada selama ribuan tahun di berbagai belahan dunia.
Tapi, bangsa adalah gejala baru yang dihasilkan dari perjuangan menumbangkan feodalisme Eropa. Sistem yang memecah wilayah dan kekuasaan kebangsawanan berdasarkan bahasa, hukum, batas wilayah, dan identitas.
Perjuangan tersebut digerakkan oleh kaum borjuis, kelas baru yang memiliki uang dan harta kekayaan. Aktivitas perdagangan kaum ini dibatasi dan terhambat, salah satunya oleh fragmentasi akibat desentralisasi sistem feodal.
Tradisi dan Modern, Timur dan Barat
Kata tradisi dan modern identik dengan Timur dan Barat. Keduanya menurut Nyoman Kutha Ratna awalnya mengarah pada letak geografis masing-masing wilayah, namun bergeser dari segi pemaknaan. Paradigma kontemporer mengenai Timur dan Barat sarat dengan makna tambahan.
Bukan lagi berkaitan dengan kondisi geografis, melainkan pada perilaku dan tata cara kehidupan sosial, etos kerja, dan sistem kepercayaan. Khususnya perbedaan pada kemajuan sistem informasi dan teknologi.
Timur dikonotasikan dengan dunia mistik dan spiritual, lebih banyak mengkaji masalah-masalah kehidupan dalam kaitannya dengan kebutuhan rohaniah. Sebaliknya, Barat dikaitkan dengan dunia logika dan realitas, lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan jasmaniah.
Krisis Kebebasan Manusia Indonesia
Kembali pada struktur puisi Abad Dua Puluh, saya menafsirkan simbol ‘X’ sebagai posisi setiap manusia. Individu yang berdiri sendiri namun merasa terasing dengan keberadaannya. Daerah ‘X’ terlarang bagi dirinya dan orang lain yang berdiri di dekatnya.
Ketika dihubungkan dengan wacana mengenai kebebasan. ‘X’ menandakan kebebasan individu manusia Indonesia dalam meletakkan cara berpikir dan memandang sesuatu.
Albert Camus dalam Krisis Kebebasan mengungkapkan, kebebasan sesungguhnya tidak akan mampu menjawab semua hal, terutama karena ada batas-batas.
Kebebasan seseorang mencapai batas ketika mulai merambah daerah kebebasan orang lain. Tak seorang pun berhak atas kebebasan mutlak. Batas mulai dan berakhirnya kebebasan, saat hak dan kewajiban menyatu, disebut hukum.
Simbol ‘X’ berjumlah dua puluh berupa ikon imaji bangunan ‘kotak’ mengarah pada konteks pemaknaan yang sudah dituliskan oleh Jeihan melalui judul puisi ini, Abad Dua Puluh. Simbol ‘X’ adalah gambaran mengenai kondisi identitas manusia Indonesia.
Manusia Indonesia berada di posisi yang terasing. Sulit untuk menetapkan identitasnya, antara tetap mempertahankan tradisi atau mengikuti arus kemajuan dan perubahan.
Keterasingan muncul berdasarkan apa yang sudah dijabarkan oleh Camus. Setiap individu berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Pada titik ketika bisa saja terjadi suatu benturan dengan hak individu lain yang juga ingin menentukan jalan hidupnya.
Sedangkan, secara hukum manusia Indonesia berhak dan bebas mengutarakan pendapat ataupun sudut pandangnya masing-masing.
Menempuh Masyarakat yang Sehat dalam Keterasingan Identitas
Demokrasi adalah kata yang paling sering didengar ketika menghubungkan dengan hak dan kebebasan individu. Hak untuk bebas nampaknya tidak sejalan dengan kewajiban yang menyertainya.
Visual kotak yang terdiri dari sekumpulan simbol ’X’ bila dikaitkan dengan konsep Erich Fromm dalam Masyarakat yang Sehat adalah simbol dari masyarakat.
Kelompok sosial, institusi, atau bahkan negara yang dijadikan pegangan oleh individu untuk mengatasi masalah keterpisahan.
Manusia menurut Fromm dapat mengusahakan persatuan dengan dunia melalui jalan kepatuhan kepada fungsi kelompok sosial, masyarakat, atau bahkan negara.
Manusia mengatasi keterpisahan eksistensi individualnya dengan menjadi bagian dari seseorang atau sesuatu yang lebih besar, lebih berkuasa darinya. Manusia mengalami (menjalani) identitasnya dalam hubungan dengan kekuatan pribadi atau lembaga yang dipatuhi itu.
Fungsi Demokrasi dalam Mengatasi Masalah Manusia
Berdasarkan penuturan Erich Fromm, peran dari simbol ‘X’ yang tersusun sebagai bangunan masyarakat ataupun negara idealnya dapat mengarahkan jalan bagi individu untuk mengatasi masalah keterpisahan.
Menyambung dengan apa yang dikatakan oleh Camus, fungsi negara terdapat pada aspek hukum yang mampu menjamin hak dan kewajiban setiap individu.
Menjadi manusia bebas tidak semudah anggapan. Satu-satunya pihak yang menganggap hal itu mudah justru adalah mereka yang menyangkal kebebasan itu sendiri.
Kebebasan ditolak bukan karena hak-hak istimewanya, melainkan karena kewajiban yang melelahkan. Sebaliknya, pihak yang berperan menjamin segala hak dan kewajiban. Idealnya memahami untuk mencapai itu semua diperlukan usaha dan kewaspadaan tanpa henti.
Di satu sisi kewaspadaan yang tidak sesuai porsi dapat memicu keterasingan yang saling mengasingkan satu sama lain. Membentuk pola kebebasan yang saling menyesatkan dalam penerapan fungsi hak dan kewajiban.
Demokrasi akhirnya jadi sistem pemerintahan Indonesia sebagai sebuah bangsa dalam menanggung beban kewaspadaan kebebasan mengutarakan pendapat dan menunjukan jati diri individu.
Demokrasi mengandung unsur kebebasan yang identik dengan budaya barat. Demokrasi bersinggungan dengan budaya komunal tradisional. Benturan keduanya hadir pada bait terkahir puisi ini, berupa frasa: ‘Kita Mau Ke Mana?’.
Frasa ’Kita Mau Ke Mana?’ dapat ditafsirkan sebagai kritik Jeihan kepada identitas individu atau identitas ideologi secara keseluruan manusia Indonesia. Identitas individu dan ideologi nasional akhirnya jadi terasing terhadap dirinya sendiri.
Dua Dasar Pijakan Manusia Indonesia
Pada bait pertama ada sebuah baris tambahan, terdiri dari dua simbol ’X’ yang menyangga bangunan ‘kotak’. Dua simbol ’X’ jadi dasar atau akar identitas masyarakat dan manusia Indonesia.
Dua simbol ’X’ ini bila dikaitkan dengan pembahasan yang sudah diuraikan di atas mengarah pada dua pilihan. Tetap mempertahankan tradisi warisan luhur nenek moyang atau begitu saja menerima pemikiran modern yang dibawa kolonialisme bangsa Barat.
Setiap unit pada puisi ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Simbol ’X’ bermakna manusia Indonesia sebagai seorang individu. Simbol ’X’ yang membentuk kotak bermakna kumpulan manusia di dalam masyarakat, institusi, atau bahkan negara yang dijadikan objek kepatuhan.
Dua simbol ’X’ yang berada di dasar bangunan kotak menandakan akar, dasar, pondasi identitas masyarkat, institusi, dan Bangsa Indonesia. Bangunan tersebut memiliki dua akar dan saling berpengaruh, hasil dari proses sejarah yang dilalui oleh bangsa Indonesia.
Menafsirkan Bentuk Visual Kotak yang Dibangun dari Kumpulan Simbol ‘X’
Simbol ’X’ yang membentuk bangunan kotak, menyiratkan sebuah jawaban yang ditawarkan oleh Jeihan. Simbol ini menandakan sesuatu yang statis. Membuat batas-batas sehingga yang satu dengan yang lain berpotensi saling terpisah.
Bentuknya yang bertingkat dua puluh baris menyiratkan pesan, menandakan pola dan tatanan masyarakat Indonesia yang linier. Memandang sesuatu berdasarkan strata dan tingkatan.
Posisi dualisme juga mengakibatkan keterasingan yang membedakan posisi dan keberadaan manusia: berada di atas dan berada di bawah.
Kondisi ini melahirkan kesenjangan dan kecurigaan sesama manusia yang disimbolkan oleh ‘X’. Setiap ‘X’ merasa terasing dengan ‘X’ di sampingnya, ‘X’ di bawahnya, dan ‘X’ di atasnya.
Erich Fromm menjelaskan mengenai masalah keterpisahan, menurutnya, kemungkinan lain untuk mengatasi keterpisahan terdapat dalam arah yang berlawanan: manusia mencoba untuk menyatukan dirinya dengan dunia melalui jalan berkuasa, menjadikan orang lain bagian dari dirinya dan mengatasi masalah eksistensi individualnya dengan dominasi.
Elemen umum antara kepatuhan dan dominasi adalah kodrat simbiosis keterbukaan. Individu-individu yang terlibat di dalamnya kehilangan integritas maupun kebebasannya. Hidup saling mengandalkan satu sama lain. Memuaskan hasrat hati akan kedekatan, namun kepercayaan diri dan kekuatan batinnya berkurang.
Mensyaratkan kebebasan dan tidak bergantung, lebih jauh lagi terus-menerus diancam oleh permusuhan, yang sadar atau tidak sadar keluar dari hubungan simbiosis tersebut.
Konsep Cinta Menurut Fromm dan Camus dalam Mengatasi Masalah Keterpisahaan dan Keterasingan
Petikan kata ‘berlawanan’ menurut Erich Fromm dapat dipahami sebagai keharusan untuk bersatu dengan sesama manusia lain. Saling menjalani hubungan adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan ini berada di belakang semua fenomena yang membentuk keseluruhan hubungan manusiawi yang intim. Keseluruhan hasrat yang disebut cinta dalam arti kata seluas-luasnya.
Erich Fromm menawarkan konsep mengenai cinta, menafsirkan kata cinta memaknainya sebagai pola keterbukaan kepada sesama manusia sebagai satuan individu. Ketika sesama manusia sudah saling terbuka, maka kecenderungan lahirnya kecurigaan akan menipis secara perlahan.
Menawarkan cinta sebagai aspek yang positif sebagai gerak dan tindak aktif manusia untuk saling mengenal satu sama lain. Ketika sesama manusia sudah saling mengenal, maka keterasingan dan keterpisahan perlahan akan menipis dan menemui titik temu.
Albert Camus juga memiliki bahasanya sendiri dengan mengatakan, bila orang-orang mengetahui kemampuan manusia, ia juga memahami bahwa bukan sosok manusianya yang perlu dilindungi, melainkan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka karena potensi kebebasannya. Diri manusia mengakui sejauh menyangkut diri sendiri.
Setiap individu tidak mampu mencintai seluruh umat manusia jika bukan dengan cinta yang amat luas dan sedikit abstrak. Kebebasan pada akhirnya adalah kesempatan mengamalkan hal-hal yang lebih baik daripada sebelumnya, sedangkan penindasan adalah bentuk kebatilan yang sangat pasti.
Dua dasar Identitas Manusia Indonesia
Apa yang dikutipkan oleh Fromm ternyata tidak berhasil terlahir sepenuhnya. Jeihan berkata lain menyampaikannya melalui puisi sebagai kritik.
Dua simbol ‘X’ yang berperan sebagai penopang keseluruhan 20 bentuk ‘X’ berupa bangunan kotak, tetaplah simbol ‘X’ yang terasing. Terpisah, berada di paling bawah seolah dua simbol ‘X’ tersebut memikul beban berat ‘X’ lainnya.
Saya menafsirkan, dua simbol ’X’ menandakan identitas manusia Indonesia yaitu ‘tradisi’ dan ‘modern’. Dua dasar ini tidak bisa saling terbuka dan mengisi satu sama lain.
Sementara, Kutha Ratna (2008) mempunyai konsep keselarasan antara ‘tradisi’ dan ‘modern’. Menurutnya, sebagai kontemplasi masa lampau, tradisi tidak perlu bersifat statis. Sebaliknya, sebagai akumulasi interaksi sosial sepanjang sejarah, tradisi secara terus-menerus mesti menyesuaikan diri dengan perubahan masyarakat.
Dalam proses perubahan tersebut tradisi dapat mempertahankan diri, artinya selalu diresapi secara intens oleh masyarakat pendukungnya. Dalam hubungan inilah, tradisi dan modern dapat berjalan beriringan.
Tradisi dan modernisasi bukan dua gejala yang terpisah, tetapi sebaliknya, selalu dalam bentuk saling melengkapi, sebagai proses dinamis. Tradisi dan modernisasi bukanlah dua gejala yang mesti dipertentangkan secara diametral.
Kemajuan bangsa justru dihasilkan melalui interdependensi antara keduanya sebab modernisasi pada dasarnya adalah proses, bukan hasil.
Indonesia, Kita Mau Ke Mana?
Ide yang dikutipkan oleh Kutha Ratna ini, nampak belum berjalan pada kenyataannya. Jeihan melalui bait terakhirnya tetap mempertanyakan perihal mengenai identitas manusia Indonesia.
Bait terakhir yang tertulis: ’Kita Mau Ke Mana?’ menandai cara berpikir manusia Indonesia yang terjepit antara identitas tradisional yang mengutamakan keselarasan spiritual dan modern yang mengutamakan kemajuan rasional.
Kondisi terjepit ini yang membawa setiap individu berada di posisi terpisah dengan individu lainnya. Simbol ’X’ melambangkan kondisi terasing yang tidak mengetahui keberadaan dirinya sendiri.
Kata ’kita’ menandai seluruh manusia Indonesia termasuk Jeihan sendiri di dalamnya. Kata ’Ke Mana?’ menandai arah identitas Indonesia yang berhubungan dengan masa depan manusia Indonesia.




























Discussion about this post