• ABOUT US
  • PRIVACY POLICY
  • TERM OF USE
  • DISCLAIMER
  • HUBUNGI KAMI
  • SITEMAP
Jumat, 31 Juli 2026
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
  • Login
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
Kelana Nusantara
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
  • Login
No Result
View All Result
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
Memori Indah Tentang Pesta Dango

Penulis (kanan) bersama Ko Ana (kiri) dan tetua Kayaan (tengah) © Ismu Widjaya/Kelananusantara

Iya Resto Vegan, Kehidupan Tidak Pernah Berakhir

Makan Rendang Sambil Ngopi di Dapur Suamistri

Memori Indah Tentang Pesta Dango

Keceriaan Berbuah Renungan

Abroorza A. Yusra by Abroorza A. Yusra
7 Juni, 2020
in Budaya, ZZ Slider Utama
42 2
0
Share on Facebook

Baca jugaArtikel :

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

Ni’nah halo amee

Kame Klunaan dusa

Kelaan kame umah ame

Hurung je uss ame

Na vah in ke nap ame

 

O Tipang apii’ ni naa’

Apii’ Tipang apii ni naa’

 

Inilah dalam (hati) kami

Kami orang berdosa

Agar kami tidak susah

Dapat rumah kami

 

Tuhan, ambillah ini

Ambillah Tuhan, ambillah persembahan kami

(Mada Bakti Kayaan, diterjemahkan ke bahasa Kayaan oleh Lusia Ping dari MB. Nogzy)

Risalah Dango

Pembukaan acara Naik Dango di Gereja Santu Antonius Dari Padua © Abroorza A.Yusra/Kelananusantara

Puja-puji itu saya dengar ketika acara pembukaan Dango di Gereja Santu Antonius Dari Padua. “Dango” dan “Gereja”, ritual adat dan ritual agama, disandingkan.

Pesta Dango, awalnya merupakan pesta panen bagi masyarakat Kayaan. Secara mitologis, diterangkan oleh Huanajoo Ko Ana, adalah bentuk penghormatan kepada Hunyang Bulan (semacam Dewi Sri dalam mitologi Jawa) yang merelakan dirinya menjadi padi. Dalam perkembangannya, Dango bukan lagi sekadar tentang panen.

Ko Ana menjelaskan, “Dango juga merupakan doa, rasa terima kasih, kecintaan terhadap alam, dan simbol persatuan”. Penjelasan Ko Ana saya temukan juga di buku Apo Kayaan dan Di Pedalaman Kalimantan (Dr. Anton W. Nieuwenhuis, 1984).

Budaya Masyarakat Kayaan

Masyarakat Kayaan mengikuti acara Dango © Abroorza A. Yusra/Kelananusantara

Penjelasan Ko Ana dan referensi buku-buku tadi memperjelas konsep budaya dan sisi religi masyarakat Kayaan. Seni, sebagai sebuah ekspresi sekaligus representasi, menunjukkan bahwa budaya Kayaan tidak dapat dilepaskan dari hubungan sesama manusia, alam, dan Tuhan.

Tarian Pejuu Lasah dipimpin penari yang memegang Mandau. Artinya: pengeyahan marabahaya dan bencana. Tarian Anokiaa berisi tarian dengan memegang bersama-sama seutas kain: menunjukkan simbol keharmonisan dan persatuan.

Begitu pun dengan pakaian yang dikenakan. Para penari Pejuu Lasah menggunakan Tengkulas yang terdiri dari kepala dan ekor burung Enggang.

Aksesoris tersebut bermakna rasa terima kasih masyarakat Kayaan terhadap bantuan burung Enggang saat mereka tiba di hulu Sungai Kapuas dari Apo Kayan (sekarang masuk wilayah Kalimantan Timur). Ini jadi sebuah bentuk kecintaan dan penghormatan kepada alam.

Inkulturisasi Kebudayaan dan Kepercayaan

Ketika Khatolik masuk di sekitar tahun 70-an, tradisi dan kebudayaan mereka tidak tergerus. Justru, yang terjadi adalah asimilasi kebudayaan dan kepercayaan. Inkulturisasi, kira-kira begitu istilah ensiklopedi kebudayaannya.

Bentuk konkret inkulturisasi yang berlangsung kurang lebih seperti ini: masyarakat Kayaan terdahulu menganggungkan konsep spiritual pada tiga pilar, yakni Tenangan (pembagi rejeki), Tipang (pencipta), dan Tinge (pemelihara). Tiga pilar ini memiliki kemiripan dengan konsep trinitas gereja.

Trinitas Kayaan dan Gereja yang bermuara pada satu kekuasaan. “Ini jugalah yang memudahkan Kristen diterima di Kayaan,” ujar Pastor Suhardi. Dialah yang memimpin langsung acara pembukaan Dango di Gereja Gereja Santu Antonius Dari Padua.

Sebab itu, akhirnya tidak perlu heran, di gereja, lagu-lagu rohani dinyanyikan dalam bahasa Dayak Kayaan. Di gereja, tarian-tarian juga ditampilkan. Di kehidupan sehari-hari, mereka menjadi orang Kayaan sekaligus penganut Khatolik.

Makan Gak Makan (Babi) Asal Kumpul

Penulis (kanan) bersama Ko Ana (kiri) dan tetua Kayaan (tengah) © Ismu Widjaya/Kelananusantara

Semangkuk sup babi dihidangkan di depan saya, pada acara Dango di rumah Betang, saat jam makan siang. Dengan sengaja. Padahal, dia yang menyediakan, tahu bahwa saya tidak memakannya.

Jefri namanya. Bukan orang Kayaan, melainkan seorang diakon (asisten pendeta Khatolik) yang sedang bertugas di desa Ida’ Beraan.

“Kalau Rojay makan babi, saya makan juga,” ujarnya. Seketika saya tahu bahwa ia sedang bercanda. Sekaligus, saya juga tahu bahwa ia tidak memakan Babi, entah karena memang begitu syarat menjadi seorang diakon, atau karena itu pantangan buat dirinya sendiri.

Maka, saya ambil sup babi yang lain, dan saya hidangkan di hadapannya persis seperti yang ia lakukan kepada saya.

“Ayo kita makan, bersama,” tantang saya.

“Kalau tidak makan Babi di Dango, tidak sah Dangonya.” Seorang kenalan warga asli yang berada di sekitar kami memanas-manasi.

Saya angkat sup babi saya. Diakon Jefri angkat sup babinya. Dekat bibit, gerakan terhenti, dan kami tertawa. Mereka yang menyaksikan tingkah laku kami, turut tertawa. Sup kami berdua, akhirnya berpindah ke hadapan para penikmat babi sejati.

Asupan saya berganti menjadi hidangan non-babi. Dalam acara Dango (dan acara Dayak yang lain sebagaimana saya ketahui nantinya di perjalanan-perjalanan yang lain), selalu disediakan dua jenis hidangan, yang mengandung babi dan yang tidak.

Mengamalkan Perbedaan Keyakinan dengan Keceriaan

Biasanya, pesta ritual apapun, termasuk acara naik panen, selalu mengundang desa-desa tetangga. Di antara tamu undangan, ada yang beragama Islam. Di Dango Kayaan , mereka turut mengundang Desa Sambus yang mayoritas penduduknya adalah muslim.

Selama acara makan-makan, tidak ada sekat, yang makan babi dan yang tidak makan babi duduk bersisian, berdampingan, berdempetan. Usai makan, ada unjuk tari-tarian.

Masyarakat muslim Sambus menampilkan Tari Jepin (tari khas suku Melayu). Sorak-sorai setiap yang hadir mengiringi.

Usai Dango, semua kembali ke kehidupan masing-masing. Saya kembali ke kota, makan indomie lagi, menonton televisi lagi, dan scrolling hape lagi.

Aneka peristiwa di tempat antah berantah terhubung kembali dengan saya. Tawuran, penyitaan buku, keributan sengit gara-gara beda penafsiran ayat kitab suci, kafir-mengkafirkan, ini itu lainnya.

Saya tertawa. Usai tertawa yang nyaris terbahak, saya merenungkan kata-kata Mamak. Ia adalah seorang Kayaan, penganut Khatolik namun bersuami muslim.

Selama satu minggu di tengah masyarakat Kayaan, rumahnya sering saya santroni untuk numpang makan malam. Ia bahkan ngomel-ngomel jika saya tidak datang.

Mamak bercerita pada saya, “Mayoritas di sini Khatolik, yang muslim cuma sepuluh KK (Kepala keluarga). Tapi, tidak pernah kelahi. Untuk Dango, kita sama-sama kerja. Tidak apa-apa beda iman. Semuanya kan niatnya sama. Menyembah Tuhan. Mau masuk surga.”

Mamak tidak bersekolah tinggi. Jarang keluar dari desanya. Hidup di rumah papan. Ruangan di rumahnya tidak lebih dari ruang tamu, tengah, dan dua kamar.

Masakannya sederhana, namun nyaman. Ketika bercakap dengannya, seolah saya telah mengenalnya cukup lama. Ia selalu ramah….

Jika memang agama diwahyukan untuk manusia dan bukan manusia untuk agama, maka salah satu ukuran baik-buruknya sikap hidup beragama adalah dengan menggunakan standar dan kategori kemanusiaan, bukannya ideologi atau sentimen kelompok -Komaruddin Hidayat.

*Acara Dango Kayaan dalam tulisan ini dilaksanakan pada tahun 2012, di Desa Ida’ Beraan, Kabupaten Kapuas Hulu.

Tags: Budaya KayaanBudaya NusantaraDangoKayaankelananusantara
Share68Tweet15Pin5SendShareSend
Previous Post

Iya Resto Vegan, Kehidupan Tidak Pernah Berakhir

Next Post

Makan Rendang Sambil Ngopi di Dapur Suamistri

Abroorza A. Yusra

Abroorza A. Yusra

Penulis, penggiat literasi, dan pendukung konservasi lingkungan. Kelahiran 1987. Bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat.

Related Posts

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!
Acara

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
120
Kelana

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
147
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah
Sosok

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
249
Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan
Akomodasi

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

3 Februari, 2022
349
Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu
Budaya

Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu

1 Februari, 2022
1k
Backpackeran dari Jakarta – Nusa Penida Budget Rp2 Jutaan
Kelana

Backpackeran dari Jakarta – Nusa Penida Budget Rp2 Jutaan

10 Desember, 2021
389

Discussion about this post

Artikel Terpopuler

Mengapa Orang Sunda Malas?

Mengapa Orang Sunda Malas?

15 Mei, 2020
11.4k
Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

26 Februari, 2020
16.1k
Lebakmuncang, Desa Wisata Ciwidey

Lebakmuncang, Desa Wisata Ciwidey

20 Februari, 2020
1.8k
Warisan Keluarga Schumtzer di Ganjuran, Yogyakarta

Warisan Keluarga Schumtzer di Ganjuran, Yogyakarta

14 September, 2020
3.2k

Mengintip Surga Bagi Pecinta Ikan Hias di Yogyakarta

20 April, 2020
1.1k
Jejak CIA dalam Sastra Indonesia Sebelum 1965

Jejak CIA dalam Sastra Indonesia Sebelum 1965

27 Mei, 2020
3.3k

Rekomendasi Kelana

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

2 Mei, 2025
225
Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
120

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
147
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
249
Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

16 Oktober, 2023
172
Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

21 September, 2023
133

Yuk Ikuti Kelana Nusantara!

  • Setiap jejak yang kita ingat  mengandung mineral-mineral lautan yang kita kecap    sumbawa  sumbawaisland  rumputlaut  kelananusantara
  • Saat ini kita buka program magang untuk siapa saja  sebab Kelana Nusantara kini hadir dengan wajah baru  Saat ini kita membutuhkan ide dan pemikiran kalian untuk dituangkan disini  khususnya di bidang media digital   Join with us   untuk form sudah tertera di bio  Selamat berpetualang
  • Penayangan perdana Demon Slayer  Entertainment District Arc menuai protes dari fans dengan Tengen Uzui salah satu protaganisnya disebut melakukan poligami   Demon Slayer  Entertainment District Arc memperkenalkan Tengen Uzui  seorang Hashira  mentor selanjutnya Tanjiro Kamado  mantan ninja yang memiliki 3 istri   Tengen Uzui hadir dengan segala pesona  mengakui dirinya pribadi yang selama hidupnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Nusa Penida kerap menjadi destinasi untuk dikunjungi wisatawan yang memiki hobi diving   Sahabat Kelana yang penasaran dengan eksotika keindahan bawah laut Nusa Penida tentu harus menyiapkan budget khusus    Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Kehadiran moda transportasi darat  dalam hal ini kereta api trem uap di Demak tidak lepas dari meningkatnya arus perdagangan antara Eropa dan Hindia-Belanda   Terutama setelah pembukaan Terusan Suez pada 1869   Investasi asing kemudian  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sebenarnya uang yang dihabiskan dunia untuk persenjataan militer dan perang dalam satu minggu cukup untuk memberi  makanan  seluruh manusia di bumi dalam setahun   Fakta yang mencengangkan  memang  sementara perang terus dilangsungkan tanpa jelas ujungnya  di pelosok dunia  miliunan manusia meringkih bertahan hidup dalam kelaparan   Tapi  bisakah makanan menjadi penopang basis perubahan   Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sahabat Kelana  perlu diketahui sebelum mengulas 5 rekomendasi villa bambu terbaik untuk Honeymoon asik di Bali   Pemerintah saat ini memberlakukan pembatasan perjalanan bagi wisatawan asing  sebagai reaksi munculnya varian Covid-19 B 1 1 529  Omicron   Hongkong dan beberapa negara Afrika      Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Anantha Wijayanto salah satu pegiat kaktus asal Bali berbagi tips bikin Green House kaktus rumahan dengan budget Rp500 ribu   Idealnya  setiap tanaman khususnya kaktus disarankan memiliki naungan  untuk menjaga stabilitas suhu dan kelembapan udara   Meski kaktus memiliki habitat asli di gurun  namun  ada pertimbangan tanaman ini umumnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Mang Eden salah satu petani kaktus terbesar di Lembang berbagi cara grafting kaktus yang benar   Tim redaksi Kelananusantara  beberapa waktu yang lalu  mengunjungi Kampung Cicalung Desa Wangunharja  Kecamatan Lembang  Kabupaten Bandung Barat   Lokasi ini berdekatan dengan destinasi wisata yang cukup terkenal     Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
Facebook Twitter Instagram

Bekal Petualanganmu

Iwakmedia Digital Indonesia

Iwakmedia Workshop II
Ruko Jatimurni, Jl Jatimurni No. 2.
Jatipadang, Pasar Minggu.
Kode Pos 12540. (+6221) 780 8020.
Jakarta - Indonesia
Basecamp Kelana Nusantara
Jl. Mentor, Gg Dakota, RT.01/RW.05
Sukaraja, Cicendo.
Kode Pos 40175.
Kota Bandung - Indonesia

Tentang Kelana Nusantara

  • About Us
  • Privacy Policy
  • Term Of Use
  • Disclaimer
  • CONTACT US

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

No Result
View All Result
  • About Us
  • Term Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Sitemap
  • Kelana
  • Sosok
  • Akomodasi
  • Budaya
  • Kuliner
  • Hipotesa
  • Acara
  • Login

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Cookie settingsACCEPT
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary Always Enabled

Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.

Non-necessary

Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.

Add New Playlist