Kamera terjatuh ke sungai. Sial. Saya tak memegangnya cukup erat ketika motor dinaikkan ke sampan.
Saya melompat, tergelincir sedikit, dan tangan kanan yang memegang kamera DSLR itu lupa dengan tugasnya mempertahankan kamera.
Sekian detik kamera terendam di sungai sudah cukup membuat was-was. Bagaimana tidak, jika terjadi kerusakan, habis sudah rencana.
Saya dan seorang kawan, Ismu, datang ke acara Naik Dango Kayaan (pesta panen masyarakat Dayak Kayaan) ini dengan tujuan membuat film dokumenter.
Apa ada cara khusus membuat film dengan kamera yang rusak? Saya belum pernah dengar. Mengganti dengan kamera lain? Ya kami membawa cadangan, tetapi kualitasnya tidak setara dengan kamera yang jatuh ke sungai itu.
Kembali ke kota? Untuk mencapai Sungai Mendalam, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tempat kamera tercebur, dan ke Desa Ida’ Beraan, lokasi tujuan kami, memerlukan waktu sekitar 16 jam dari kota Pontianak.
Durasi perjalanan itu berlaku untuk kendaraan yang lewat jalur darat, dengan sebagian besar kondisi jalan mirip kubangan babi.
Jadi, tidak ada pilihan mundur. Kami tetap melanjutkan tujuan dengan rasa was-was.
Tiba di desa tujuan, segera kami membongkar kamera. Lensa, baterai, memory card, dan body dipisahkan. Setiap bagian dianginkan dan dijemur sejenak.
Pertolongan pertama pada benda elektronik itu berhasil. Kamera hidup. Kami tetap dapat berkerja. Syukurlah. Saya batal dianggap sebagai biang kegagalan, walau tidak terhindarkan dari sumpah serapah Ismu.
Misa yang Bersamaan dengan Pembukaan Pesta Dango
Hari masih pagi ketika tiba di desa. Segera kami bergegas menuju Gereja Santu Antonius Dari Padua, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Putussibau Utara. Di sana akan diadakan misa. Bukan misa biasa. Misa kali ini bersamaan dengan pembukaan pesta dango (baca: dange). Dalam istilah sub-suku Dayak lain, pesta panen biasanya disebut dengan gawai.
Dango Dayak Kayaan di Desa Ida’ Beraan berlangsung selama seminggu. Dalam rentang waktu itu, kami membiasakan telinga dengan alunan dendang dari mudi dan kelentang, alat musik pukul khas Kayaan, yang hampir setiap hari dimainkan di Rumah Betang Kayaan.
Acara puncak berlangsung di dua hari terakhir. Hari-hari sebelumnya diisi dengan ritual sederhana dan persiapan. Orang-orang berkerja sama membuat penghout (surai-surai dari kayu Payoung untuk ditempel di dinding) dan membentuk tublak (bunga dari kayu berbentuk segi empat untuk digantung).
Para calon penari peju lasaah dan hudo (tari khas Kayaan) yang umumnya masih berstatus pelajar, pun terlihat rajin berlatih.
Soal tari ini, sesekali saya ikut mencoba mempraktikkan, sambil berharap jiwa seni gerak saya muncul dengan anggun. Ternyata percuma. Gerakan saya lebih menyerupai anjing kebelet buang aer. Gerakan anjing bahkan mungkin lebih bagus dari saya.
Ko Ana, Hoanijaan di Desa Ida’ Beraan

Ko Ana seorang Hoanijaan (seniman Kayaan), yang jadi pengajar tari sontak menertawakan saya, lalu menuturkan bahwa jika tari hanya dipahami sebagai gerakan, akan sulit sekali belajar.
Tari memiliki makna yang lebih dalam dari pada sekadar berlenggak lenggok. Maksudnya, sebuah gerakan tari harus dinikmati sebagai ekspresi diri sepenuhnya, dari jiwa hingga pikiran.
Tentu ajaran Ko Ana benar adanya. Tetapi dalam persepsi saya, kalimat-kalimatnya sangat menusuk. Sejak hari itu, hingga kini, saya menyerah untuk menekuni dunia tari.
Ko Ana, dia sosok yang mengagumkan. Tidak semua orang bisa mendapat gelar hoanijaan, seniman. Kemampuan seninya adalah yang terbaik di masyarakat Dayak Kayaan Ida’ Beraan.
Main sampek (alat musik petik) bisa. Main mudi (alat musik pukul seperti gamelan) bisa. Dayung (menembang dengan bahasa Dayak Kayaan), dia jagonya. Menari, jangan dibicarakan lagi, dia pakarnya.
Sosok Penting di Ritual Adat Pesta Dango
Beliau pun adalah sosok penting dalam pesta dango. Sebagian besar ritual adat melibatkan dirinya. Misalnya, hanya dia yang boleh melaksanakan proses persembahan atau mater halok dengan tujuan agar acara dango aman, terhindar dari mara bahaya, dan membahagian semua yang datang.
Persembahan berupa daging babi masak, tuak yang ditampung ke dalam tawe (bambu kecil), rokok, sirih, dan dinoanyeh (kulit ketan yang digoreng dengan minyak babi). Seluruhnya dimasukkan ke dalam tempat bambu yang disebut belakak. Ko Ana kemudian meletakkannya di hutan, di sisi kanan, kiri, dan depan rumah adat.
Di hadapan beliau, dapat saya pastikan, orang yang sering mengaku-aku sebagai seniman dengan mengandalkan rambut gondrong dan omong kosong teori filsafat, akan menciut. Contoh: saya.
Ritual Mendirikan Rumah Dango
Salah satu ritual adat terpenting di dalam dango adalah mendirikan Rumah Dango. Rumah ini, hanya khusus dibuat untuk acara Dango. Usai Dango, akan dirubuhkan.
Rumah tersebut hanya terdiri dari satu ruangan. Ukurannya sekitar 3×3 meter. Tingginya, sama dengan rumah betang (kira-kira dua meter) dari tanah. Semacam rumah panggung.
Bahan-bahan untuk rumah tersebut, antara lain adalah kayu hubo, hibo, buluh (bambu) kuning, dan akar tavaa’. Maaf saya tak tahu istilahnya dalam bahasa Indonesia (istilah dalam bahasa Kayaan saya contek langsung dari catatan Ko Ana).
Intinya, yang hendak saya sampaikan, rumah tersebut tidak dibuat dari sembarang bahan, namun dengan materi-materi khusus, dengan ritual khusus pula.
Pendirian rumah diawali dengan sebuah upacara. Seorang anak laki-laki yang masih lengkap orang tua dan kakek-neneknya (ini rukun wajib pendirian Rumah Dango), jadi orang yang meletakkan tiang pertama.
Ia diantar oleh para penari yang menari ke titik area yang akan didirikan rumah. Berbagai macam doa adat dibacakan tetua. Rumah Dango pun mulai bisa dibangun. Tiang pertama dipancang pada pagi hari dan menjelang sore Rumah Dango rampung.
Hari Puncak Pesta Dango

Di hari puncak, seluruh masyarakat desa hadir. Tamu-tamu undangan juga tiba. Tarian hudo ditampilkan untuk menyambut para tamu.
Rumah betang yang sebelumnya terasa seluas lapangan voli, menjadi terasa sempit. Orang-orang duduk berjejal-jejal, berhimpit-himpitan.
Tarian pejuu lasah yang dipimpin seorang perempuan yang memegang Mandau mengawali rangkai acara. Mandau pada tari pejuu lasah digunakan untuk pemotongan persembahan: seekor babi. Nivak uting istilah untuk ritual ini. Hati babi “dibaca” oleh tetua adat sebagai cara melihat kemungkinan masa depan.
Prosesi kemudian dilanjutkan ke acara pemberkatan atau melaa’. Para keluarga silih berganti membawa anaknya ke dalam rumah Dango untuk didoakan.
Macam-macam kategori doa-doa itu. Ada neguika ketanaa’ (doa mohon kelancaran ladang), mayaa’ tivii (doa mohon perlindungan), nyinaah (doa untuk kesatuan seluruh masyarakat), atau tepujoo’ ujan (doa agar cuaca baik).
Doa-doa, inilah yang jadi substansi dango.

Sepanjang dango, tuak diedarkan berkeliling. Awal acara yang serius, lamat-lamat menjadi cair. Tiap pidato, tiap percakapan, selalu diselipkan guyonan, membuat yang hadir sesekali tertawa, bahkan terbahak.
Hingga waktu pun menuntut ulii’ wa (penutupan). Coreng moreng arang, dicoretkan pada setiap orang yang mengikuti dango. Tawa-tawa semakin membahana. Semua bersyukur. Mudi, kelentang dan sapek, tak henti dibunyikan. Tuak tak henti diedarkan.
Beruntung tidak ada peristiwa kamera yang jatuh ke dalam tong tuak. Mungkin karena kali ini saya dan Ismu sudah berdoa.




























Discussion about this post