Intimidasi dalam Demokrasi
siapa berani
melebihi kepala
terhadap kepala
pasti
bakal
hilang kepala
(Remy Sylado, 1989)
Puisi lahir dari pemahaman alam imajiner dan dunia ide yang disajikan melalui pencanggihan bahasa.
Kata Pradopo (2007:13) sih menggapai kepuitisan bisa dengan bermacam cara. Bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan orkestrasi; dengan pemilihan kata: bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dan sebagainya.
Riffaterre ada benarnya, menurutnya puisi selalu berubah-ubah sesuai selera dan perubahan kosep estetika. Amir Hamzah, salah seorang pelopor Angkatan Pujangga Baru sudah mulai meninggalkan konsep puitika bertipografi pantun dan syair.
Chairil Anwar melalui puisi “Aku”, menggambarkan pola konseptual berpikir yang sudah berbeda dengan zaman sebelumnya. Chairil jadi yang paling edgy di zamannya (Angkatan’45).
Remy Sylado dan Gaya Mbeling
Pada perkembangan selanjutnya, sekitar tahun 1972 lahirlah sebuah sikap baru dalam kesusastraan Indonesia. Remy Sylado hadir sebagai salah seorang penggagasnya.
Berawal dari pementasan drama pada 1972 yang bertajuk GENESIS II, Remy Sylado menamai sendiri gaya berteaternya sebagai teater mbeling.
Momentum inilah cikal-bakal yang menampilkan gaya mbeling pada ranah perpuisian Indonesia dan setelahnya lahirlah gerakan puisi mbeling.
Gerakan puisi mbeling yang digagas oleh Remy berusaha mendobrak sikap feodal dan munafik rezim Orde Baru juga pandangan estetika kesusastraan Indonesia ketika itu.
Pembaruan lahir ketika sebuah puisi berani mengungkapkan dirinya dengan sikapnya yang jujur, lugas, dan apa adanya.
Tidak ada kemunafikan bahkan untuk mengungkapkan hal-hal yang tabu seperti seks dan kekuasaan. Puisi-puisinya seperti: “Presiden”, 2002; “Intimidasi Dalam Demokrasi”, 1989; “RI Satu”, 1978; “Kudung dan Kondom”, 2002, dll yang dikumpulkan dalam satu buku berjudul: Puisi Mbeling Remy Sylado, terbit pada tahun 2004.
Mbeling Pada Awalnya
Pada awalnya, mbeling adalah nama yang diberikan oleh pengasuh rubrik puisi dalam majalah Aktuil. Dalam waktu tidak lebih dari satu tahun, nama ‘puisi mbeling’ tidak dipakai lagi dan diganti dengan “puisi awam”.
Tetapi, nama ‘puisi mbeling’ ternyata lebih populer dibandingkan dengan nama-nama yang lain. Puisi mbeling bukan saja digunakan untuk menamai sajak-sajak yang dimuat dalam majalah Aktuil, melainkan juga dalam majalah-majalah dan surat kabar yang lain (Soedjarwo, dkk : 2001).
Selain Remy yang sedikit banyak memberi gagasan utuk puisi mbeling, Afrizal Malna (Jeihan, 2000 : 15) berpendapat bahwa Jeihan banyak memberikan basis konseptual untuk gerakan puisi tersebut.
Gerakan puisi mbeling untuk pertama kalinya dipublikasikan di majalah Aktuil pada akhir tahun 1971. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa puisi yang diciptakan Jeihan pada tahun 1969 adalah cikal-bakal perpuisian mbeling di Indonesia.
Gaya Khas Puisi Mbeling
Yudiono dalam Puisi Mbeling: Kitsch dan Sastra Sepintas sedikit-banyak memetakan gaya yang khas dan identik dari puisi mbeling.
Menurut penuturannya puisi mbeling adalah hasil kreativitas seorang penyair yang memandang sesuatu dalam kehidupan sebagai kelakar, ejekan, kritik, dan main-main.
Bagi penyair mbeling, lebih banyak hal yang dapat ditertawakan daripada yang dapat dipuji atau ditangisi di dunia ini. Kemunafikan, kebobrokan, korupsi, sikap sok, dan sebagainya, dapat diejek atau ditertawakan. Juga nasib, kegagalan, cacat, atau kekurangan dalam diri sendiri, dapat dijadikan bahan ejekan dan tertawaan.
Fragmen-fragmen tersebut hadir melalui wujud puisi mbeling secara struktur. Mbeling jadi media kreatifitas, sikap, dan gaya seorang penyair secara individu yang berkaitan dengan cara dirinya memandang sesuatu.
Selain tema-tema di atas, humor juga salah satu unsur penting. Seperti halnya lelucon-lelucon dalam percakapan sehari-hari, humor dalam puisi mbeling sering mengarah kepada hal-hal yang “jorok”.
Bagi penyair-penyair mbeling, tidak ada sesuatu yang tabu. Tidak ada hal-hal yang perlu ditutup-tutupi demi sopan santun.
Setiap Orang Boleh Main-main dengan Puisi

Selain mendorak tabu estetika kepuitikan dengan tatanannya, puisi-puisi mbeling juga memberikan keleluasaan bagi semua penulis untuk berkereativitas di ranah perpuisian Indonesia.
Ini secara langsung bertentangan dengan ungkapan Chairil Anwar yang pernah berkata, “yang bukan penyair tidak boleh ikut ambil bagian”, (Jeihan, 2000 : 14).
Chairil seperti ingin menegaskan bahwa tidak semua orang bisa menulis puisi, bahkan tidak boleh ikut ambil bagian di dalam dunia perpuisian. Itu anggapan seorang Chairil Anwar yang pada saat itu mewakili zamannya.
Sementara itu, bagi gerakan puisi mbeling, pendapat itu tidak berlaku. Sesuai dengan apa yang diungkapkan Jeihan bahwa yang bukan penyair boleh ikut ambil bagian.
Ini artinya setiap orang boleh menulis puisi, boleh main-main dengan puisi. Gembira ria dengan puisi.
Puisi Mbeling Berontak Terhadap Nilai-nilai yang Kaku
Mengenai konstruksi lama, segala yang sudah jadi konvensi di masa lalu ditanggapi oleh puisi mbeling dengan memosisikan diri di jalurnya sendiri.
Sebelum muncul puisi-puisi mbeling, terdapat beberapa jalur dalam perpuisian di Indonesia. Tapi, puisi mbeling tidak peduli dengan segala jalur itu.
Puisi mbeling berontak terhadap nilai-nilai yang kaku serta kemapanannya yang hanya berkutat dengan formasi lama.
Puisi mbeling sebagai entitas seni menyajikan imajinasi dengan bahan dasar kata yang memiliki banyak persepsi dan penilaian bila dilihat dari kebaruannya.
Kredo Puisi Sutardji

Cetakan I, 1981
Penerbit Sinar Harapan, Jakarta.
Desain sampul : Didit Chris dan Rekan
Tata Letak : Edhi SW
Tragedi Winka dan Sihka
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku
Sutardji Calzoum Bachri,
O Amuk Kapak, 1981
Dari segi kebaruan, Sutardji Calzoum Bachri membongkar esensi kepuitikan yang lama dengan kredo puisi yang ditulis pada 30 Maret 1973 dan dimuat majalah Horison No.12 Th.IX, Desember 1974.
Menurut kredo puisinya ia menyampaikan bahwa kata-kata bukanlah alat yang mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air.
Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam keseharian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian. Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea.
Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri. Bagi Bachri, menulis puisi adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya.
Pada mulanya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi dirinya adalah mengembalikan kata kepada mantera.
Antara Chairil dan Sutardji
Chairil dan Sutardji secara kepuitikan adalah tokoh pembaruan di ranah perpuisian Indonesia dan kedua konsep yang dibawa oleh mereka menunjukkan saling berhubungan.
Dami N Toda dalam Angan-angan Budaya Jawa: Analisis Semiotik Pengakuan Pariyem karya Bakdi Soemanto, mengungkap bahwa Chairil bertolak dari ‘kepercayaan terhadap kata atau bahasa’, sedangkan Sutardji bertolak dari ‘penampilan kekuatan kata atau bahasa’ sebagai alat estetik satu-satunya atau pun juga tidak menganggapnya sebagai alat estetik tetapi menerimanya sebagai suatu objek atau makhluk lain yang substansial hadir dan punya identitas sendiri.
Chairil bertolak dari ‘kepercayaan bahwa kata/bahasa’ mampu menyampaikan keutuhan rasa estetik, ‘sekaligus’ menyadari pula bahwa kata/bahasa ‘sering tidak berdaya apa-apa’ sebagai alat estetik dan komunikasi.
Sedangkan Sutardji, bertolak dari ‘ketidakberdayaan kata/bahasa’ sebagai alat estetik, sekaligus juga menyadari memanfaatkan kata/bahasa sejauh keterbatasan eksistensinya, untuk menolong sebagian atau seutuhnya pengalaman estetik.
Dengan kata lain, estetika Chairil Anwar bertolak dari ‘ethosnya’ kata/bahasa; sedangkan estetika Sutardji Calzoum Bachri bertolak dari ‘pathosnya’ kata/bahasa sebagai makhluk hidup perpuisian.
Berdasarkan apresiasi Toda mengenai kepuitikan dan kebaruan perpuisian di Indonesia, konsep yang dibawa oleh Chairil dan Sutardji ikut berpengaruh kepada lahirnya konsep kepuitikan yang kemudian disajikan oleh puisi mbeling.




























Discussion about this post