Sebelumnya Baca: Pangeran Biru di Tanah Timika (Babak II, Bagian II)
13 April 2019, waktu berputar seolah lebih cepat, ketika saya merasakan kembali saat-saat membereskan pakaian, segala perlengkapan, serta memori yang masih melekat
Tuhan Maha Baik, tanah Timika merestui langkah memberi alur yang indah, mempertemukan saya dengan lingkup penuh solidaritas di ruang Sekretariat Viking Papua Korwil Timika.
Tidak sebatas itu, saya pun merasa mental sosial berkembang setelah sekitar sebulan ikut serta dalam aktivitas mereka.
Selamat tinggal Viking Timika, sebelum pergi saya menitipkan secarik kertas lamaran dan CV kepada Egi untuk diberikan kepada Faisal.
“Mang nitip ieu ka Faisal nya, urang geus ngomong oge da ka Isal dititipkeun ka amang” (Mang titip ini ke Faisal ya, saya sudah ngomong juga sama Isal dititipkan ke amang) pesan saya.
“Lain, aslina Den, arek ka Raja Ampat? urang mah hariwang aslina Den ke diditu maneh cicing di mana deui eta?” (Enggak, beneran Den, mau ke Raja Ampat? saya khawatir Den, nanti di sana kamu tinggal di mana?) timpalnya.
“Aslina atuh mang, apan geus puguh aya babaturan stay di Raja Ampatna jang sementara mah” (Beneran mang, kan sudah jelas ada teman di Raja Ampat, untuk sementara) ujar saya memastikan.
“ok Den, Hooh sok atuh beberes heula, ke lamun geus siap bejaan nya, urang ngontek heula babaturan sugan aya anu bisa nganteurkeun” (okay den, lanjut dulu beres-beresnya, nanti kalau sudah siap kasih tau, saya ngabarin dulu kawan mudah-mudahan ada yang mau antar) timpalnya sambil berjalan keluar kamar tempat saya sedang beberes perlengkapan.
Ipong dan Uwa Asep mengantar saya ke pelabuhan Pamoko bersama dengan seorang supir taksi, kawan dari Egi. Taksi perlahan melewati jalan Mambrok berbelok hingga memasuki jalur utama menuju Pelabuhan Pamoko.
Cerita Berbeda di Kapal yang Sama
Setibanya di pelabuhan Pamoko saya tidak langsung menuju loket tiket. Terompet KM Tatamailau sudah dibunyikan tanda kapal akan segera berlayar.
Saya berjalan sesantai mungkin ketika Ipong bertanya, “mang Den aslina bakal bisa asup euweuh tiket?” (Mang Den, serius bakalan bisa masuk nggak ada tiket?) dengan santai saya menjawab, “bisa mang asal tulungan anteur weh nepi pahareup-hareup jeung petugas pemeriksa tiket.” (bisa bang, asalkan tolongin antar sampai hadap-hadapan dengan petugas pemeriksa tiket) terang saya.
Satu dua langkah kaki lagi jarak saya untuk berhadapan dengan petugas, tepat di dekat pintu masuk kapal. Bersamaan dengan penumpang lain yang sedang sibuk memberi tiket ke petugas, saya merangkul Ipong sambil berucap, “Mang hampuranya bisi abi aya lepat, hatur nuhun pisan sateuacana mang tos di ampihan abi”. (Mang maafin kalau-kalau saya ada salah, makasih banyak sebelumnya mang sudah mau nampung saya).
Saya kembali berjalan menaiki tangga saat semua petugas fokus dengan penumpang lain. Ditambah suasana riuh oleh penumpang yang terburu-buru berdatangan.
Sambil memeriksa petugas melempar tanya kepada saya, “ada tiketnya?” dengan nada lugas saya meyakinkan, “Su ada pak.”
Berbekal pengalaman saat berhadapan dengan petugas di Tanjung Priok. Ditambah kapal di saat terakhir sebelum keberangkatan. Semua mempermudah saya untuk sampai di titik aman lambung KM Tatamailau. Sesudah itu saya melambaikan tangan kepada Ipong dan Uwa Asep.
KM Tatamailau Sudah Seperti Rumah Sendiri Bagi Saya
Saya sudah hafal sudut-sudut kapal ini, sudah tahu mau melangkah ke mana, dan merebahkan diri di deck berapa. Tak perlu lagi mengitari seluruh bagian kapal mencari-cari tempat bersantai dan tidur.
Saya berjalan menuju deck 2, tempat yang sama pernah berbagi kisah. Sampai di deck 2 berjejeran ranjang kosong, sedangkan di deck lainnya penumpang lain berebut mencari-cari tempat tidur.
Deck 2 adalah tempat paling kosong yang jarang diketahui penumpang, apalagi yang baru pertama kali naik kapal. Deck ini adalah tempat berkumpulnya para ABK, mereka dengan leluasa, bahkan mengambil kasur-kasur yang seharusnya diperuntukan buat penumpang.
Setelah saya ketahui ternyata di deck ini beberapa oknum ABK menyewakan kamar tidurnya ke penumpang, maka tidak heran di deck ini ramai oleh ABK.
Selama di kapal, saya banyak berbagi kisah dengan salah seorang ABK. Setelah saling mengenal, kemudian ia menyarankan saya untuk pindah ke tempat yang lebih nyaman. Alasannya sederhana, ia tahu saya berasal dari Bandung.
“Eeh di mana eta Bandungna?” (eeh Bandungnya di mana?) tanyanya.
“Eeh Aslina kang, abi Bandungna ti Kabupaten Majalaya, upami akang timana linggihna?” (Asli kang, saya Bandungnya di Kabupaten Majalaya, kalau akang di mana?) tanya balik saya sambil menggendong tas ransel.
“Urang di Balaendah, saha ngaran?” (saya di Balaendah, siapa Namanya?” timpalnya.
Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Para ABK Kapal
Hari pertama di atas kapal saya tahu lebih banyak tentang kehidupan para ABK. “Sampingan na anu nyieun gede, gawe di kapal mah Den” (uang sampingannya yang buat besar kerja di kapal Den) celetuk kang Asep salah satu ABK. Selidik punya selidik saya ketahui ia menyambi berjualan kipas angin di atas kapal
Ada salah seorang ABK asli Manado, belakangan saya tahu ia sudah mendengar kisah saya dari kang Asep. “Wah kalau di Bandung harga kaos murah-murah ya, bagus lagi” tanyanya.
“Lumayan bang, apalagi kalau bisa masuk langsung ke konveksi yang besar,” ujar saya sambil menggulung bako anggur kupu.
Saat tiba jam makan, saya sudah sedia nasi Ransum Loreng, energen, dan kue susu berukuran kecil namun padat. Bekal sarapan pengganjal lapar.
Nasi Ransum saya persiapkan saat perut benar-benar lapar. Sebungkus Nasi Ransum dapat untuk dua kali makan. Isinya padat dan rasanya juga enak.
Nasi Ransum saya dapat dari kang Fiki saat di Sekre Viking Timika. Ia membawa persediaan untuk di sekre. Lalu Egi menyarankan saya membawa untuk sebagai bekal di perjalanan.
Tawar Menawar Nasib
Ketika kapal mendekati sandar di Pelabuhan Tual, pengeras suara berbunyi menandakan akan diadakan pemeriksaan tiket. Kang Asep ABK bergegas menjajakan jualannya, “kang santai yah, saya mau mutar-mutar lagi”.
Selain menjual kipas angin dan asesoris, ia juga kerap menjajakan barang lainnya, ia sudah paham betul barang-barang yang sifatnya musiman dan laku di atas kapal.
Kemudian saya menuju deck 4, tempat petugas sekuriti, untuk tawar menawar ongkos perjalanan sampai Sorong.
“Pak sebelumnya saya mau minta tolong”, ujar saya. “Iya, saya bisa tolong apa sama mas nya, kalau saya bisa, ya saya tolongin” ujar salah seorang sekuriti dengan nada sedikit tinggi.
Saya tetap santai menanggapi tanpa merasa khawatir. “Begini pak, tujuan saya pelabuhan Sorong, tapi maaf sebelumnya uang saya tidak besar pak, cuma Rp250 ribu, tapi yang Rp50 ribu untuk pegangan selama di atas kapal, bagaimana pak?” terang saya.
“Aduh mana bisa sampai Sorong mas, itu paling bisa dibantu sampai Kaimana saja, 200 ribu mana cukup. Belum di potong makan,” ujarnya
“Minta tolong pak, gak masalah tidak dapat makan juga,” timpal saya. “Gimana ya mas, Rp250 ribu sudah,” dengan nada yang masih sedikit tinggi.
“Minta tolong pak, ini yang Rp50 ribu nya untuk jaga-jaga. Tidak dapat makan juga tak apa pak,” sekali lagi saya menegaskan, kemudian tidak lama uang itu langsung diambil, mencatat nama dan deck tempat saya tidur.
Sebuah Pilihan Harus Membayar Ongkos di Atas Kapal
Ada beberapa alasan kenapa saya memutuskan tidak membeli tiket di loket pelabuhan. Pertama, ketika di awal keberangkatan dari Timika, saat sampai di pelabuhan, terompet penanda sudah dibunyikan 3 kali. Artinya waktu saya terlalu mepet.
Alasan selanjutnya adalah saya merasa pelayanan Pelni masih perlu beberapa pembenahan. Fasilitas, makanan, dan tempat beristirahat tidak sebanding dengan harga yang dibayarkan.
Satu lagi yang paling utama adalah kapasitas kapal tidak berbanding dengan jumlah penumpang. Sehingga tidak heran sering terjadi keributan masalah tempat tidur antar penumpang.
Idealnya, satu tiket mendapatkan satu tempat tidur, jadi penumpang akan tidur sesuai dengan data yang tertulis di dalam tiket. Tidak akan di sembarang tempat.
14 April 2019, Kapal Sandar di Pelabuhan Tual
14 April kapal sandar selama 8 jam di pelabuhan Tual. Waktu yang panjang bagi saya yang tidak memiliki tiket. Sehingga tidak bisa turun menikmati suasana kota di sekitar pelabuhan.
Berbeda kondisi dengan penumpang yang memiliki tiket, momen sandar ini sangat dinantikan. 8 jam waktu yang cukup bagi mereka turun dari kapal untuk mandi, berbelanja lauk pauk, atau berpelesir memanfaatkan waktu.
Saya merasa sedikit kecewa, apalagi setelah tahu kabar mengenai kota yang dijuluki Raja Ampatnya Maluku ini. Di sana banyak terdapat pasir putih. Di sekitar pelabuhanya saja anak-anak bergembira riang mandi air laut. Sayang saya tidak bisa turun dari kapal.
Selama sandar saya mencuri waktu sejenak bersama ruang kosong yang sudah seperti kamar pribadi. Menghabiskan waktu dengan membaca, kadang menggoreskan catatan putih, merangkai kata.
Selepas makan sore, saya habiskan waktu di kafetaria sekadar duduk dan menyeruput kopi, memandang luasnya lautan bermanja lukisan awan. Ketika sore tiba, sisi teras kapal dipenuhi para penumpang menikmati senja.
Pukul 17.00 WIT kapal tarik jangkar kembali berlayar perlahan meninggalkan kota Tual, melaju menghantam gelombang berlantai air di kegelapan, hamparan bintang jadi penghantar tidur saya menuju kota Senja.
Esok paginya, selepas bangun dari tidur, saya ke tempat biasa di lantai atas. Menyusuri anak tangga melewati beberapa kabin penumpang di kanan-kiri.
Saya menemukan keasikan tersendiri ketika mengamati aktivitas unik ini. Para penumpang ada yang bermain kartu, menyeduh mie, yang ngobrol juga nggak mau kalah macam di pasar.
Sesampainya di lantai atas kipas angin alam mengeringkan keringat. Duduk di pelataran lantai samping kapal berpagar besi, bermandikan cahaya matahari menjelang siang. Saya sempatkan untuk sarapan cereal, nasi ransum loreng, susu balok, dan menghisap tembakau gulung. Sampai tidak terasa KM Tatamailau sudah sandar di Kaimana.
Surga Kecil Bernama Kaimana

Kan kuingat selalu, ‘kan kukenang selalu
Senja indah, senja di Kaimana
Seiring surya meredupkan sinar
Dikau datang ke hati berdebar
(Alfian – Senja di Kaimana)
Ini adalah kali kedua saya sandar dengan kapal yang sama, juga cerita berulang mengenai Kota Senja. Begitulah orang asli Papua, wisatawan, maupun perantau menjuluki Kaimana, Papua Barat.
Apa yang dikisahkan Pace Yan membekas dan benar adanya, “ada lagunya itu mas, Senja di Kaimana” kenang saya.
Pada perjalanan kali ini beberapa penumpang menambahkan julukan lain, “Surga Kecil Saudara dari Raja Ampat” untuk Kota Kaimana. “Dorang mudah saja menjelaskan julukan Kota senja, karena hampir tiap hari mas senjanya bagus terus,” kata salah seorang penumpang, saat kami ngopi di kafetaria lantai atas. Ada juga yang bilang di kota ini senja paling eksotis muncul satu tahun sekali, bisa di awal atau akhir tahun.
Selama kapal sandar pikiran saya tertarik arus oleh cerita di kafetaria, tentang pulau-pulau indah di Kaimana. Dorang bilang Kaimana masih saudara dengan Raja Ampat, hanya saja daerah ini belum banyak diketahui oleh wisatawan.
Destinasi yang terekspos juga baru beberapa titik, masih banyak spot yang belum dijadikan tempat wisata. Kaimana lahir pada 12 April 2003, dengan dasar hukum Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan 14 Kabupaten di Papua.
Mencari Tahu Lebih Banyak Tentang Kaimana

Satu jam waktu yang dibutuhkan untuk kapal sandar, momen yang sebentar ini saya manfaatkan untuk berselancar mencari bacaan di beberapa media daring tentang Kaimana.
Saya baru tahu, Kaimana punya Teluk Triton. Banyak yang mengatakan destinasi ini keindahannya sudah mendunia, sebanding dengan Raja Ampat.
Ketika mengetahui hal ini, saya bermunajat semoga waktu membawa saya ke tempat ini, “Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi”.
Tatamailau mengantarkan saya untuk sampai di surga ini. Semua informasi yang saya baca membuat semakin bertambah keinginan untuk sampai di beberapa destinasi yang ada di Kaimana.
Jejak Sejarah di Kaimana
Selain destinasi alam ada satu tempat yang menarik bagi saya yaitu Benteng Fort du Bus. Jejak sejarah menempel pada penggalan kisah peninggalan Perang Dunia II. Benteng ini adalah bukti kekuasaan Belanda atas Papua Nieuw Guinea.
Penamaan Fort du Bus berasal dari seorang Jendral Hindia Belanda bernama Leonard Piere Joseph Burggraaf du Bus de Ghisignes. Pada 24 Agustus 1828, benteng ini diresmikan bertepatan dengan ulang tahun Raja Willem.
Sejarah menuliskan, berdasarkan persetujuan pemerintah Belanda di Ambon pada 1835, seluruh prajurit ditarik dari kawasan Kaimana karena perubuhan iklim dan wabah penyakit Malaria. Benteng Fort du Bus hingga hari ini dijaga eksitensinya dengan baik oleh masyarakat sebagai situs wisata sejarah.
Perjumpaan dengan Steven (Pemuda Papua Berdialek Sunda)

Seusai berlabuh di kota senja, KM Tatamailau melanjutkan perjalanan berlayar menuju FakfAK, saya kembali berbagi kisah dengan penumpang lain yang hendak menikmati senja di samping teras lantai 6.
Steven, pemuda asal Merauku. Ia membuat saya terkejut ketika menyapa,“kang dari Bandung ya?” tanyanya. Tidak mau ketinggalan momen langka ini, kemudian saya menimpali obrolan dengan Bahasa Sunda. Bahasa ternyata membuat keakraban kami semakin tidak memiliki jarak.
“Hampura nya urang mah nyariosna kasar, baheula sok diajarkeun bahasana teh anu kasar-kasarna we hungkul ku barudak Cimahi” (maaf ya saya mah bicaranya kasar, dulu suka diajarin bahasanya tuh yang kasar-kasarnya saja sama teman di Cimahi), ungkapnya dengan aksen Supa (Sunda Papua). “Santai Steve”, timpal saya.
Perantau dari Papua di Tanah Sunda
Patah-patah Steven mengakui cukup mengerti bahasa Sunda. “Eta ceunah mah ceuk barudak, ameh tereh bisa” (itu soalnya kata teman-teman supaya cepet bisa) lanjutnya sambil mengenang masa ketika tinggal di Cimahi beberapa tahun silam.
Ia bercerita, hampir 4 tahun lebih tinggal di Cimahi. Ketika itu ia hidup bersama dengan orang Bandung yang kelak membuat dirinya mendapat pekerjaan.
Steven juga mencurahkan kerinduanya pada Kota Kembang. Setelah meminang perempuan kesayangannya, ia janji akan kembali ke Bandung. “Beutaheun mang” (nyaman bang) ungkapnya.
Perjalanan Steven untuk Memastikan Kisah Cintanya
Steven menceritakan tentang kisah cinta dan rencana pernikahannya. Menurutnya, bagi masyarakat kecil yang hidup dengan penuh kesederhanaan mas kawin bukanlah hal yang mudah.
Namun di balik itu Steven menjelaskan semahal apapun nominal yang mesti dikeluarkan, Tuhan selalu memberi jalan. Ketika ada salah satu keluarga yang mau menikah, sistem kekeluargaan di Papua masih sangat kuat untuk saling menutupi kekurangan tersebut. Jelas Steven sambil menggulung tembakau.
Ia juga mengisahkan, harus menunaikan kewajiban datang ke rumah calon mempelainya supaya bisa langsung bicara dengan kedua orang tuanya.
Kalau sudah pasti, tinggal mencari rezeki untuk mempersiapkan semuanya. Tapi Steven lebih berharap pernikahannya berlangsung secara sederhana dan kekeluargaan.
Sedikit Bantuan Saya untuk Steven
“Kang ieu urang oge bingung, aduh kumaha ngomongnanya, aya sim card na hungkul ieu teh arek nelepon pulsana beak, bae urang rek nyuhunkeun bantosan?” (Kang gimana bilangnya yah saya juga bingung, ini cuma ada sim card nya saja, ini tuh saya ingin telepon pulsanya habis, tidak apa saya mau minta tolongnya) ungkap Steven.
Kemudian dimasukannya kartu sim miliknya ke dalam telepon genggam saya. Ia tertawa bahagia bisa bersua suara dengan perempuan kesayanganya.
Dapat dikatakan, Steven senasib dengan saya perihal ongkos. “Kang, sarua urang oge bawa duit teh pas pisan jang tiket hungkul” (Kang, sama saya juga bawa uang ngepas buat tiket saja)
Penuh percaya diri ia memberi tahu saya, “aslina mang, mantap, ke kumaha ieu sakedeng deui sandar di Fakfak, geus apal alamat Imahna?” (serius bang, keren, nanti bagaimana ini sebentar lagi sandar di Fakfak, sudah hafal alamat tinggalnya) tanya saya.
“Heueh puguh urang teu apal pisan mang, ieu nembean urang ka FakfAK na oge” (justru itu saya tidak tahu sama sekali mang, ini baru pertama kali saya ke Fakfak nya juga) timpalnya.
“Haduh juara steven euy” puji saya hati. Betapa cinta mengalahkan kekhawatiran yang belum tentu akan terjadi.
Sesandarnya di Fakfak pukul 19.00 WIT, Steven melepas sim card sambil berpamitan. “Hatur nuhun pisannya mang, telepona” (makasih banyak mang atas teleponya). Kemudian saya menuju tempat tidur, sambil melepas kepergian Steven.
Sandar di Sorong (Pace Patis Menolong Saya)
Tinggalah saya menunggu satu pelabuhan lagi untuk sampai di Sorong. Istirahat, memejamkan mata, mengulur waktu supaya tidak terasa, berharap ketika bangun kapal sudah sandar di Pelabuhan besar Sorong.
Beruntung saya berada di deck 2, kipas angin tersedia karena ada Kang Asep, kamar mandi pun layak untuk mandi. Berbeda dengan deck 3 dan 4 kondisinya, WC nya gelap, tidak usah diceritakan fasilitasnya, hampir tidak layak.
Begitu kapal sandar di Sorong, tanpa disengaja saya berjumpa kembali dengan Pace Patis TKBM, Tuhan sudah mempersiapkan saya jalan. Terakhir saya berjumpa dengannya sekitar satu bulan yang lalu di kantor pelni sehari sebelum membeli tiket KM Tatamailau untuk berlayar ke Timika.
Kali ini tanpa banyak bicara, saya langsung meminta bantuan untuk menuju Pelabuhan Rakyat, karena jam sudah menunjukkan pukul 13.40 WIT, sedangkan jadwal keberangkatan kapal cepat Exspress Bahari pukul 14.00 WIT. Hanya berlomba dengan waktu.
Sesampainya di Pelabuhan Rakyat saya langsung diarahkan ke tempat beli tiket oleh pace. Tertulis nama saya di tiket kapal Sorong menuju Waisai.
Kendaraan roda dua pace kembali menyusuri aspal dermaga Pelabuhan Rakyat, pas di muka pintu kapal saya di turunkan. Di akhir percakapan Pace meminta tolong perihal uang “tolong pinjam dulu buat di rumah” ujar pace, namun saat itu saya menceritakan keadaan saya, hingga pace mengerti, lalu berucap ”maaf sebelumnya pace saya hanya bisa memberi uang bensin saja Rp50.000”
Kemudian kami berpisah dan saling bertukar kontak handphone.




























Discussion about this post