Sebelumnya Baca: Merawat Ragam Jejak di Pantai Paloh
Satu per satu telur itu keluar dari rahim, kemudian masuk ke galian pasir yang telah dibuat sang Induk beberapa jam sebelumnya. Di pelupuk mata sang Induk menggenang air mata, yang sesekali jatuh.
Apakah itu air mata kesakitan, kebahagiaan, atau hanya sebuah proses biologis dalam proses peneluran, tak dapat dipastikan.
Namun, air mata itu bisa dimaknai sebagi tanda, bahwa usaha menelurkan tukik, generasi-generasi penyu berikutnya bukan perkara yang gampang.
Penyu, Makhluk Purba yang Masih Bertahan Hidup

Penyu adalah makhluk purba, yang keberadaanya diperkirakan sudah ada jutaan tahun lalu, sezaman dengan bangsa dinosaurus.
Dalam The Island of Bali karya Jose Miguel Covarrubias, di bagian penerjemahan manuskrip penciptaan, Catur Yoga, tercantum kalimat, “Pada awalnya adalah ketiadaan, semuanya hampa, hanya ada ruang kosong. Dengan bermeditasi, Sang Dewa Ular Antaboga menciptakan penyu Bedawang, di atasnya melingkar dua ekor ular, sebagai penopang dunia.”
Teks manuskrip ini dapat ditafsirkan, sudah berapa abad lamanya Penyu hidup di atas Bumi ini, jauh sebelum adanya manusia.
Sekarang, ulah homo sapiens semakin mendominasi dengan segala kegiatan eksploitasi pada satwa maupun lautan. Perilaku ini memungkinkan dalam rentang waktu seratus tahun ke depan akan menjadi akhir periode kehidupan satwa yang telah bertahan hidup jutaan tahun ini.
Pantai Paloh, Habitat Bertelur Penyu
Salah satu kecenderungan kepunahan ini dapat dilihat di pantai Paloh yang terletak di pesisir Kabupaten Sambas, bagian barat laut Kalimantan Barat.
Pantai Paloh adalah pantai terpanjang di Indonesia habitat penyu bertelur. Panjang lokasi bertelurnya mencapai hingga enam puluh tiga kilometer.
Total panjang pantai Paloh sendiri ialah sekitar seratus kilometer, terbentang dari utara hingga selatan, dari Camar Bulan (perbatasan Indonesia-Malaysia) hingga Sungai Sekura. Wilayah ini sering disebut dengan istilah The Tail of Borneo.
Kembali ke Pantai untuk Bertelur

Tepat di hadapan pantai Paloh adalah Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. Di luasnya lautan tersebut penyu berlalu-lalang menjelajah bumi. Hingga tiba waktunya bertelur, ia akan kembali ke pantai yang menjadi tempat kelahirannya.
Sistem navigasi penyu berdasarkan naluri biologis – tanda kebesaran Tuhan. Hal ini membuat predikasi populasi penyu jadi lebih mudah dilakukan ketika ia kembali ke pantai. Ketimbang harus menghitungnya di dalam laut.
Di pantai Paloh, jumlah penyu yang bertelur semakin berkurang dari tahun ke tahun. Bulan Juni hingga Agustus adalah musim puncak bertelur di pantai ini.
Penyu Hijau Paling Sering Ditemui Bertelur

Selama rentang waktu tersebut, berbagai jenis penyu naik ke pantai. Ada empat jenis yang terdekteksi ditemui di wilayah ini. Penyu Hijau (Chelonia mydas) adalah jenis yang paling mudah dijumpai. Jumlahnya mencapai 98 persen dari semua penyu yang naik ke pantai Paloh.
Tiga jenis lainnya, yaitu Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), hanya bisa dijumpai dengan usaha, doa, dan keberuntungan.
Ada sekitar 20-30 ekor penyu berlabuh untuk bertelur dalam satu malam. Artinya, setiap bulan, terdapat sekitar tiga ratus penyu bertelur di pantai ini. Masing-masing penyu mengeluarkan rata-rata 100 telur, dalam rentang waktu satu bulan ada 3.000 telur penyu.
Rasio Kehidupan Tukik

Total kalkulasi jumlah telur terhitung banyak. Tetapi, rasio kemungkinan hidup tukik (penyu yang baru keluar dari cangkangnya) sangat kecil. Hanya 1 ekor tukik yang bisa bertahan hidup hingga dewasa dari 1000 butir telur yang menetas. Artinya, dari 3.000 telur, hanya akan ada 3 ekor tukik tiap bulannya yang dapat tumbuh dewasa.
Rasio hidup yang kecil semakin diperparah oleh tingkat ancaman. Induk-induk penyu biasanya memilih tempat bertelur di bagian pantai yang berbatasan dengan ilalang.
Di bawah pohon pinus atau kelapa, jauh dari bibir pantai. Walau tersembunyi, ketika naik ke darat, induk meninggalkan jejak. Jejak itu yang kemudian ditelusuri para pemburu telur penyu.
Penyu juga rentan terhadap cahaya dan sampah. Jika rumah penduduk semakin marak di pinggir pantai, sampah semakin bertumpuk-tumpuk, penyu lebih mengundurkan diri, tidak peduli bahwa telur-telur yang seharusnya dikeluarkan menjadi busuk di dalam tubuhnya.
Menyiasati Ancaman Kehidupan Penyu

Semua hambatan dan ancaman regenerasi kehidupan ini yang akhirnya membuat populasi penyu semakin sedikit tiap generasi. Hal ini belum dihitung dengan penyu-penyu yang mati di lautan akibat terkena racun limbah atau diburu.
Tidak mustahil seratus tahun kemudian keberadaannya benar-benar tiada. Tentu, akan benar-benar terjadi jika tidak ada upaya antisipasi. Beruntung, Paloh memiliki orang-orang baik, yang percaya bahwa penyu merupakan salah satu ciptaan Tuhan yang harus dijaga.
Mengembangkan Ekowisata Pantai Paloh

Masyarakat sekitar pantai Paloh yang sadar hidup berdampingan dengan habitat penyu. Membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kambau Borneo. Sejak tahun 2009, tugas mereka hanya satu, yaitu menjamin telur-telur penyu yang ada berhasil menetas.
Salah satu aktivitas yang sedang dikembangkan adalah ekowisata. Melalui program ini, siapa saja diperbolehkan melihat penyu bertelur, asal mengikuti prosedur.
Penyu tetap dapat melanjutkan kehidupan sesuai dengan nalurinya. Manusia dapat berwisata alam dibarengi dengan edukasi dan kesadaran sejak dalam pikiran tentang kelestarian alam, khususnya penyu.
Memang bukan tanpa kendala, tetapi sudah ada konsistensi. Satu dekade keberadaan Pokmaswas, setidaknya perburuan telur berkurang. Penyu dapat datang dengan tenang. Lamat-lamat, masyarakat mengembalikan fungsi pantai Paloh sebagai surga bagi ibu Penyu untuk bertelur. Satwa purba ini punya peluang tetap ‘ada’ lebih dari seratus tahun lagi. Semoga.




























Discussion about this post