Kilau langit menyisih halaman sebuah gereja yang telah berusia lebih dari seabad, Geredja Katholik Bebas Santo Albanus, Kelurahan Citarum, Kota Bandung. Sore itu, Lilis (57) bersama kedua anak dan cucunya berjejer renggang berjarak satu setengah meter, antre untuk sebuah paket makanan.
Lilis datang sekitar sejam sebelum waktu pembagian. Ia bukan warga kelurahan setempat, datang dari Cihapit yang berjarak kurang lebih dua kilometer dari Gereja. Lilis sengaja datang setelah mendapat kabar dari seorang tetangga.
Sehari-hari ia menjaga sebuah kios pakaian milik saudaranya di Pasar Baru, tapi berhenti kerja setelah kios itu tutup seiring pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Bandung pada 22 April lalu. Lilis kehilangan penghasilan, karenanya merasa kesulitan bahkan untuk makan. Sementara sang suami bernasib hampir sama.
“Dia kuli bangunan. Kira-kira sebulan sudah tidak kerja, belum ada panggilan lagi,” ujarnya di sela antrean, Kamis (14/5) lalu.
Di muka gereja yang putih renta, Lilis tak banyak bicara, seperti juga puluhan orang lain yang turut antre. Suasana terasa lebih hening, mungkin larut pada penantian masing-masing. Sesekali, hanya terdengar gurau di antara anak-cucu Lilis yang masih kecil.
Tepat jam empat, acara diawali dengan sambutan, dilanjutkan pemindaian suhu tubuh, pengecekan masker, lalu satu-satu dipandu untuk melakukan cuci tangan terlebih dahulu di dua wastafel portable yang telah disediakan. Setelah itu, paket-paket makanan itu diserahkan.
Lilis dan anak-cucunya mendapat giliran. Mereka pulang dengan masing-masing satu jinjingan. Ketika dihampiri, Lilis mengaku bersyukur dan sangat berterima kasih. “Alhamdulilah,” katanya.
Ribuan Paket Makanan

Koodinator pelaksana harian jemaat City Light Community Church (CLCC), Jeffrey menyampaikan, ada sekitar 155 paket makanan yang disiapkan khusus sore itu. Pembagian sendiri telah dilakukan sejak Jumat (8/5) pekan lalu. Perkiraan kasar, jemaat CLCC akan menyiapkan 3.000 paket makanan untuk terus dibagikan tiap sore hingga hari lebaran nanti.
“Khusus saat lebaran nanti, kami ingin berbagi ketupat,” ujar Jeffrey.
Per hari, paket makanan yang dibagikan rata-rata berjumlah 150 hingga 200 paket. Kata Jeffrey, seluruh makanan tersebut dibeli dari hasil uang sumbangan para jemaat. Dengan swakelola, kegiatan itu diselenggarakan semata untuk berbagi, kepada siapa saja.
“Untuk orang-orang yang sedang menjalani puasa Ramadan, untuk mereka semua yang tengah lapar,” kata Jeffrey.
“Intinya, siapa saja boleh datang. Gereja atau kita semua, saya kira, harus bisa jadi perpanjangan tangan penyaluran berkat bagi sesama, terutama di masa sulit seperti sekarang. Semoga ini membantu,” imbuhnya.
Ketua RW 06, Kelurahan Citarum, Anne yang turut hadir saat pembagian, menyambut gembira kegiatan tersebut. Ia berharap kebaikan para jemaat bisa bermanfaat, tidak hanya bagi warga sekitar, tapi juga warga di luar daerahnya. Menurut Anne, sejumlah warga bahkan ada yang akhirnya terus datang setiap sore ke halaman gereja itu.
Anne mengungkapkan, di wilayahnya terdapat titik pembagian lain, yakni di GBKP Ranggun Pusat, Jalan Lombok. Di sana, pembagian paket makanan telah menginjak hari yang ke-38. Terhitung sudah hampir 3.000 paket makanan dibagikan sejak hari pertama, dan rencananya masih akan berlanjut hingga lebaran nanti.
“Kegiatan ini berlangsung di wilayah saya. Selaku Ketua RW saya tentu sangat senang sekali. Saya bersuka cita, karena artinya banyak orang yang bisa makan,” ujarnya.
Filantropi Pandemi

Karitas yang dijumpai di halaman Gereja Albanus adalah bagian yang tak terpisah dari suatu lanskap yang lebih besar. Di seberang halaman Gereja, hal serupa masih terus berduyun dari berbagai kalangan, kelompok, maupun perorangan.
Di hari yang sama, di pertigaan jalan depan Gedung Sate misalnya, ada Norita, Alin dan Mira yang membagikan 200 paket makanan kepada para pengendara, maupun petugas pos penjagaan, hasil galangan dana pribadi melalui Grup-Grup Whatsapp keluarga.
Ada pula Atar dan teman-teman siswa SMP Negeri 2 Bandung yang membawa sekitar 100 paket makanan, menyisir bilangan Jalan Sumatera, lalu berbagi untuk para pengumpul rongsokan.
Sehari, mereka berhasil mengumpulkan donasi Rp800 ribu dari sejumlah siswa yang tergabung dalam suatu komunitas. Dan masih banyak lagi.
Rasa simpati, perilaku saling berbagi atau kedermawanan kiranya merupakan klise kemanusiaan yang senantiasa bermanfaat. Kerap menjelma dalam beragam bentuk dari yang kasat sampai yang paling senyap sekalipun.
Di luaran sana, di samping berita duka, sebaran Covid-19 yang masih bertambah, atau bansos pemerintah yang masih semrawut, muncul gerakan filantropi yang menyebar seperti pandemi itu sendiri.




























Discussion about this post