Desa Kertasari berada di wilayah kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. NTB sudah mulai dikenal oleh wisatawan dunia sebagai destinasi alternatif selain Bali. Lombok dengan pantai Senggigi beserta Gili Trawangan, Meno, dan Air sudah lebih dulu memikat mata dunia karena keindahan alam serta budayanya.
NTB punya satu lagi pulau dengan keindahan dan kekayaan alam yang tidak kalah dengan Lombok. Pada perjalanan kali ini, Sahabat Kelana akan diajak untuk menelusuri desa Kertasari, daerah penghasil rumput laut terbesar di NTB. Desa ini berada di wilayah pulau Sumbawa yang berada tepat di timur pulau Lombok.
Identitas Desa Kertasari

Desa Kertasari memiliki fenomena yang tidak banyak ditemui desa lain di Indonesia. Secara teritorial desa ini berada di ujung barat pulau Sumbawa. Uniknya, hampir 100 % masyarakatnya berasal dari Pulau Selayar, menggunakan bahasa Selayar sebagai alat komunikasi dan sehari-seharinya hidup dengan menerapkan adat dan budaya Selayar.

Bahasa Selayar sendiri punya identitas yang unik, bahasa Selayar bukan bahasa Makassar, bukan juga bahasa Bugis, ataupun Mandar akan tetapi jika dicermati, bahasa ini adalah gabungan dari bahasa-bahasa tersebut. Perlu diketahui Pulau Selayar berada di selatan provinsi Sulawesi Selatan. Artinya butuh berkilo-kilo meter jaraknya dari Selayar menuju desa Kertasari.

Tidak banyak literatur yang membahas tentang migrasi masyarakat dari pulau Selayar ke sisi barat pulau Sumbawa, khususnya ke desa Kertasari. Kutipan bait, ‘nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera’ bukan hanya lirik judul lagu semata. Nenek moyang masyarakat Kertasari sudah membuktikan itu.
Rumput Laut Komoditas Utama Masyarakat

Desa Kertasari memiliki kontur laut dangkal sepanjang +- 500 meter dari bibir pantai. Masyarakat desa menyesuaikan topografi pantai dengan membudidayakan tumbuhan rumput laut sebagai mata pencaharian utama. Rumput Laut jenis Eucheuma cottonii berwarna hijau tumbuh subur dan hingga hari ini menjadi komoditas utama masyarakat di desa ini.

Kultur Hidup yang Dibawa dari Selayar

Masyarakat desa Kertasari membawa serta kultur Selayar menuju wilayah perantauannya. Tidak hanya bahasa, salah satu yang terpenting adalah cara untuk mendapatkan penghasilan, hidup dari hasil laut. Mental inilah yang membuat desa Kertasari kaya akan rumput laut dengan hasil per/satu kali panen sebanyak 50-60 ton kering.

Khusus di desa Kertasari metode tanam yang digunakan adalah metode patok dasar. Memanfaatkan pasang surut air laut, masyarakat mulai menanam ketika air surut.

Rumput laut jenis Eucheuma cottonii membutuhkan waktu 45 hari untuk fase satu kali panen, waktu terhitung dari pertama kali ditanam, ditambah lagi waktu 5 hari untuk proses penjemuran, hingga rumput laut kering maksimal dan siap untuk dijual.
Keindahan Alam Desa Kertasari

Di musim panen, desa Kertasari terlihat sangat hijau, mata dititipkan keindahan visual rumput laut yang tumbuh subur menghampar di sisi laut. Desa ini bukan hanya indah, namun menyimpan berbagai keunikan dan pengetahuan baru.

Itulah sekilas cerita perjalanan mengunjungi desa Kertasari, Sahabat Kelana akan menemukan rasa yang berbeda wisata edukasi berbaur dengan alam dan masyarakat. Mengenal Desa Kertasari sebagai penghasil rumput terbesar di NTB.




























Discussion about this post