• ABOUT US
  • PRIVACY POLICY
  • TERM OF USE
  • DISCLAIMER
  • HUBUNGI KAMI
  • SITEMAP
Selasa, 5 Mei 2026
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
  • Login
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
Kelana Nusantara
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
  • Login
No Result
View All Result
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
Piaynemo Penyangga Perekonomian Kampung Pam (Babak II, Bagian VI)

Piaynemo Raja Ampat © Irsyam Widiyoko/Kelananusantara

Mengenang Masa Kecil Melalui Komik Dragon Ball

K-Pop, Budaya Korea yang Menimbulkan Masalah?

Piaynemo Penyangga Perekonomian Kampung Pam (Babak II, Bagian VI)

Mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Kampung Pam

Deni Rajid by Deni Rajid
18 Juni, 2020
in Kelana, ZZ Slider Utama
68 0
0
Share on Facebook

Baca jugaArtikel :

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

Sebelumnya Baca: Kampung Pam, Masalah Listrik, dan Agas (Babak II, Bagian V)

Seusai keberangkatan Sufy dan pemilik rumah (Ka Gatrija sekeluarga) ke Biak, Papua Barat. Siang itu saya putuskan untuk menghabiskan waktu mengitari pulau, setelah ternyata tidak menjumpai banyak aktivitas masyarakat.

Sepengamatan saya tidak sampai satengah pulau ini dijadikan permukiman. Hampir setengah luasnya ditumbuhi pepohonan khas pesisir.

Pasir putih bercampur patahan terumbu karang berserakan di sepanjang pesisir pulau. Musikalisasi alam menemani langkah menyisir tembok tanggul pantai di arah jalan pulang.

Tiba kembali di rumah, saya menghampiri pace Maikel yang sedang duduk-duduk di beranda dapur bersama Mama Alfredo Fakdawer. Belakangan saya tahu Mama Alfredo aktif bersama ibu-ibu PKK di kampung.

Aktivitas masyarakat mengelola kelapa menjadi sabun

View this post on Instagram

Sabun alami produksi mama mama Kampung Pam #naturalsoap #ekonomikreatif #pemberdayaan #perempuan #kampungpam #kepulauanfam #rajaampat #papuabarat

A post shared by veronica niken dewi ardhiani (@veronicanikendewi) on Aug 24, 2017 at 12:09am PDT

Saya menghabiskan siang hari di sana. Mama Alfredo menceritakan kegiatanya mengelola kelapa menjadi produk sabun.

Tertarik untuk mengetahuinya, lalu saya bertanya, “Mama, kapan aktivitas ini mulai ada di kampung Pam. Setelah mengingat kembali, Mama menjawab, “belum sampai 3 tahun mas Rojer.”

Ia juga menginformasikan tidak hanya kampung Pam yang mendapat perhatian dalam pengelolaan ini. Kampung lainnya seperti Saukabu juga mengolah buah kelapa, produknya Virgin Coconut Oil dan Kampung Saupapir mengolah kelapa jadi Handbody.

Lebih lanjut Mama menjelaskan, program ini berada di bawah bimbingan Conservation International (CI).

Masyarakat Kampung Pam, mengerjakan proses pengembangan produk turunan olahan kelapa secara berkelompok.

Sampai sekarang Dong sudah punya tiga varian produk yaitu sabun dengan wangi melati, lavender dan coconut.

Sedangkan untuk pemasaran, produk sabun dengan kemasan yang berukuran kecil dikirim ke hotel-hotel di sekitar dan untuk ukuran yang lebih besar dijual di sekitar pulau Piaynemo.

Peran penting Piaynemo bagi ekonomi masyarakat

Keberadaan Pulau Piaynemo dan aktivitas pariwisatanya memberi andil cukup signifikan untuk perekonomian masyarakat di kepulauan Pam. Pasalnya, Dong memiliki sistem kesepakatan pembagian kerja dengan melibatkan masyarakat kampung.

Belakangan saya tahu proses pengelolaan tempat wisata di pulau Piaynemo. Pulau ini dikelola oleh masyarakat di tiga kampung. Menggunakan sistem bergulir dengan tenggat waktu satu minggu sekali.

Misal, minggu sekarang bagiannya Kampung Saukabu untuk mengelola Piaynemo, minggu selanjutnya Saupapir, hingga tiba giliran kampung Pam untuk satu minggu ke depan.

Piaynemo diakui oleh Mama Alfredo sebagai tonggak mata pencaharian masyarakat Kampung Pam. Tujuan pemasaran komoditas lokal seperti buah pinang, aksesoris kerajinan tangan, dan kelapa muda.

Aktivitas lainnya selain berjualan, masyarakat juga berperan menjaga pos tiket masuk berwisata secara bergantian di Piaynemo.

Kopra, komoditas warisan nenek moyang

Bagi masyarakat Pam, Kopra (daging buah kelapa yang sudah dikeringkan) adalah mata pencaharian utama yang diwarisi secara turun temurun, selain aktivitas nelayan tentunya.

Pace Maikel bercerita sekilas pengalaman saat menjadi pekerja tani Kopra di kebun milik Bapa Saul Urbasa.

Biasa Dong mengerjakannya secara berkelompok dan hasilnya dibagi rata setelah panen. Misalnya, lahan dikerjakan lima orang.

Upah per orang bisa sampai Rp1.5 juta bersih dengan potongan bensin, kopi, gula, rokok yang terlebih dahulu mereka ambil di kios.

Berbeda halnya jika pengerjaan lahan digarap dengan sedikit orang, upahnya pun bisa lebih besar. Pada 2019 kopra yang sudah kering harga per satu kilo gramnya Rp3.500.

Saat panen tiba masyarakat biasa menginap di pulau hingga satu minggu atau lebih bergantung dari banyaknya hasil panen.

Pengetahuan tentang Kopra dari Pace Maikel

Pace penuh semangat menceritakan sambil meragakan detail pekerjaanya ketika kami berdua di halaman rumah. Ia langsung membawa peralatan tempurnya.

“Rojer, parang ini gunanya untuk mengambil kelapa tua yang su jatuh dari pohon, tokiakan (pukul ke arah kelapa), lalu masukan ke saloy (keranjang),” Pace beberapa kali memperlihatkan gayanya dengan menujuk saloy yang digendong.

“Terus kalau kelapa su terkumpul selanjutnya dikupas, dan dapat ambil buahnya,” Pace mencungkil isi kelapa sambil melanjutkan, “serabut/ampas kelapa ini mas, masih dapat dipakai untuk bahan bakar selama asar kelapa,” terang pace sambil menegaskan.

“Nanti kalau lagi kebetulan saya ada kerja Kopra, Rojer bisa ikut ee, supaya jelas, kalau ini buat gambaran saja toh,” tegas Pace.

Jelang sore itu kami duduk-duduk kembali dengan ditemani anggur kupu (tembakau) dan kopi senang.

Menyaksikan cara memancing masyarakat Pam

Sore hari tiba, saya kembali berjalan mendekati dermaga kecil berlantai papan, kali ini saya memperhatikan aktivitas kaka-kaka dan anak-anak kecil sedang bermain dengan cigi (nama alat pancing dari bambu, nilon dan mata kail).

Tempat ini jadi sangat ramai jelang air pasang. Menghampar pemandangan segerombolan hitam bergerak di balik birunya air laut. Menandakan ikan oci sedang bermain tidak jauh dari ref hingga ke kolong papan jembatan.

Saya pertama kali menyaksikan aktivitas memancing tanpa umpan, cukup bermodalkan mata kail yang sudah terpasang di cigi.

Sekilas terlihat mudah, hanya dengan melemparkan mata kail ke arah titik hitam bergerombol.

Seketika mata kail menyentuh air, langsung dapat ditarik, jika dirasa berat tanda ikan oci tersangkut di mata kali.

Namun tidak segampang yang dibayangkan, setelah saya mencoba, beberapa kali gagal terus, untuk bisa dapat satu ekor saja susahnya minta ampun ee.

Bagi Dong yang sudah terbiasa memancing ikan dengan cigi, sebentar saja sudah dapat satu loyang ikan oci.

Anak-anak kecil juga tidak kalah aktif, dong memancing sambil bermain menggunakan tali nilon dengan mata kail dan umpan tepung. Ikan bukan untuk dikonsumsi tapi dilepas kembali.

Lembayung berangsung padam, menggeser keceriaan di dermaga kecil ke dalam kampung. Jajaran blok pertama yang berdekatan dengan dermaga jadi bagian tempat anak-anak menghabiskan malam.

Berbagi kisah semalam suntuk dengan Pace Maikel

Saya kembali ke beranda teras Pace Maikel, berteman bintang serta keheningan malam yang menyusup di gendang telinga.

Duduk berdua dengan Pace, saya mengawali obrolan dengan mengisahkan kehidupan di pulau Jawa, hingga kisah keberangkatan dari rumah hingga sampai di kampung ini. Sedangkan Pace berkisah seputar perkampungan Raja Ampat.

Selama tembakau masih setia mendampingi malam yang panjang. Kami berbagi cerita tanpa henti. Dibalut kisah lucu dan haru. Malam berlalu tak berasa, hingga kantuk menghentikan obrolan.

Sejarah lisan Kampung Pam

Besok paginya, 22 April 2019, hari ketiga saya tinggal di Kampung Pam dengan berbagai aktivitas dan pengalaman baru. Saya kemudian mengenang kebiasaan Nenek di kampung, pegunungan Jawa Barat.

Pagi-pagi sekali masyarakat Pam sudah menyapu halaman. Belakangan saya ketahui sebelum menyapu Dong biasa mencuci piring dan membuat kue.

Seusai menyapu biasanya Dong duduk-duduk santai di beranda rumah. Setelah sarapan dengan kue dan segelas kopi/teh barulah kehidupan seisi kampung dimulai.

Beberapa dari mereka bersiap pergi berkebun, lahanya berada di pulau seberang. Dong bilang Tanah Besar atau Arfos. Di sana masyarakat bercocok tanam keladi, petatas, kasbih, pisang, sagu, pinang, dan kelapa.

Mayoritas hasil panen dikonsumi untuk kebutuhan rumah tangga, kecuali hasil kebun seperti pinang dan kopra yang dijadikan komoditi untuk dijual.

Berdasarkan sejarah lisan yang dituturkan oleh Bapa Saul Urbasa. Sekitar tahun 1930an sebelum mendiami kampung Pam, masyarakat tinggal di Tanah Besar, Arfos.

Orang Sawai, atau saat ini dikenal dengan orang Seram yang menyematkan nama Pam untuk kampung ini. Jadi ceritanya, dulu mereka melepas jaring di wilayah Pam.

Setelah ikan penuh. Jaring ditarik, lalu putus. Dari kejadian itu diberilah nama Pam Bemuk. Pam berarti Jaring, Bemuk berarti putus.

Aktivitas kerajinan tangan masyarakat

Selain berkebun, saat luang Mace-mace di kampung mengisi waktu dengan menganyam senat (tikar).

Saya mendekat ke salah satu rumah saat sedang berkeliling, lalu berjumpa dengan Mace Lorina yang sedang menganyam.

Mace cerita, senat yang dikerjakannya berbahan dasar gaba-gaba (batang) pohon sagu. Gaba-gaba diambil lalu diraut menggunakan pisau.

“Kalau dulu mas, yang pesan senat banyak, kitong (kita orang) sampe tidak berhenti bikin. Kalau sekarang su berkurang, jual satu-dua saja susah,” jelas Mama Lorina saat di beranda rumahnya.

Ia juga menceritakan masih memiliki kerabat dengan Bapa Saul Urbasa, setelah Mama Lorina tahu di mana saya tinggal.

“Mama, baru yang beli kebanyakan dari daerah mana saja?”

“Kebanyakan dijual ke luar kabupaten Raja Ampat mas,” ujar Mama. Kemudian saya menanyakan nilai jualnya.

“Harga jual beragam menyesuaikan ukuran, senat kecil berkisaran di harga Rp100.000 dan yang sedang Rp150.00 dan yang jumbo bisa sampai Rp300.000,” ujar Mama

Harga ini menyesuaikan dengan realita yang ada. Raja Ampat adalah wilayah kepulauan, minyak dan bensin jadi kebutuhan primer yang menguras uang masyarakat.

Saat ini Mace menyediakan senat jika ada pesanan saja. Seperti yang sedang dikerjakan ini untuk dikirim ke Sorong.

Selain menganyam senat, masyarakat juga membuat tas Noken. Tas ini menggunakan material yang tumbuh di pesisir Raja Ampat.

Masyarakat pu bahasa sendiri, Dong menyebutnya daun tikar, daun ini berasal dari pohon tikar yang bersirip dan berduri.

Proses pembuatanya, daun dibakar, kemudian diraut supaya mudah dianyam dan memiliki ketahan.

Kemudian daun jemur, semula dari warna hijau sampai keputih-putihan baru bisa dijadikan bahan noken. Selain itu masih ada kebiasan lain dari masyarakat yaitu menganyam topi dan atap rumah.

Semua mata pencaharian masyarakat ini warisan turun temurun. Aktivitas ini masih dapat dijumpai di seluruh perkampungan pesisir Raja Ampat, terang Mace. Biasanya pesanan datang dari tamu yang berwisata dan pegawai di pemerintahan.

Foto sampul artikel oleh: Irsyam Widiyoko

Share223Tweet24Pin8SendShareSend
Previous Post

Mengenang Masa Kecil Melalui Komik Dragon Ball

Next Post

K-Pop, Budaya Korea yang Menimbulkan Masalah?

Deni Rajid

Deni Rajid

Saya bagian dari alumnus Seni musik tradisional, Sejarah, hingga menggauli backpacker writing story without money.

Related Posts

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!
Acara

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
107
Kelana

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
126
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah
Sosok

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
239
Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang
Kelana

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

16 Oktober, 2023
168
Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan
Akomodasi

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

3 Februari, 2022
343
Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu
Budaya

Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu

1 Februari, 2022
981

Discussion about this post

Artikel Terpopuler

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

26 Februari, 2020
15.7k
Sawahlunto, Situs Warisan Budaya Dunia

Sawahlunto, Situs Warisan Budaya Dunia

14 September, 2020
969
Tizi Restaurant, Sajikan Makanan Khas Jerman di Bandung

Tizi Restaurant, Sajikan Makanan Khas Jerman di Bandung

5 Agustus, 2020
2.9k
Sejarah Trem Uap: Stasiun Demak Abad 19

Sejarah Trem Uap: Stasiun Demak Abad 19

9 Desember, 2021
666
Perkebunan Buah Tin di Ciwidey

Perkebunan Buah Tin di Ciwidey

20 Februari, 2020
1.8k
Perempuan dan Fotografi

Perempuan dan Fotografi

23 April, 2020
510

Rekomendasi Kelana

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

2 Mei, 2025
198
Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
107

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
126
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
239
Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

16 Oktober, 2023
168
Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

21 September, 2023
129

Yuk Ikuti Kelana Nusantara!

  • Setiap jejak yang kita ingat  mengandung mineral-mineral lautan yang kita kecap    sumbawa  sumbawaisland  rumputlaut  kelananusantara
  • Saat ini kita buka program magang untuk siapa saja  sebab Kelana Nusantara kini hadir dengan wajah baru  Saat ini kita membutuhkan ide dan pemikiran kalian untuk dituangkan disini  khususnya di bidang media digital   Join with us   untuk form sudah tertera di bio  Selamat berpetualang
  • Penayangan perdana Demon Slayer  Entertainment District Arc menuai protes dari fans dengan Tengen Uzui salah satu protaganisnya disebut melakukan poligami   Demon Slayer  Entertainment District Arc memperkenalkan Tengen Uzui  seorang Hashira  mentor selanjutnya Tanjiro Kamado  mantan ninja yang memiliki 3 istri   Tengen Uzui hadir dengan segala pesona  mengakui dirinya pribadi yang selama hidupnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Nusa Penida kerap menjadi destinasi untuk dikunjungi wisatawan yang memiki hobi diving   Sahabat Kelana yang penasaran dengan eksotika keindahan bawah laut Nusa Penida tentu harus menyiapkan budget khusus    Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Kehadiran moda transportasi darat  dalam hal ini kereta api trem uap di Demak tidak lepas dari meningkatnya arus perdagangan antara Eropa dan Hindia-Belanda   Terutama setelah pembukaan Terusan Suez pada 1869   Investasi asing kemudian  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sebenarnya uang yang dihabiskan dunia untuk persenjataan militer dan perang dalam satu minggu cukup untuk memberi  makanan  seluruh manusia di bumi dalam setahun   Fakta yang mencengangkan  memang  sementara perang terus dilangsungkan tanpa jelas ujungnya  di pelosok dunia  miliunan manusia meringkih bertahan hidup dalam kelaparan   Tapi  bisakah makanan menjadi penopang basis perubahan   Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sahabat Kelana  perlu diketahui sebelum mengulas 5 rekomendasi villa bambu terbaik untuk Honeymoon asik di Bali   Pemerintah saat ini memberlakukan pembatasan perjalanan bagi wisatawan asing  sebagai reaksi munculnya varian Covid-19 B 1 1 529  Omicron   Hongkong dan beberapa negara Afrika      Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Anantha Wijayanto salah satu pegiat kaktus asal Bali berbagi tips bikin Green House kaktus rumahan dengan budget Rp500 ribu   Idealnya  setiap tanaman khususnya kaktus disarankan memiliki naungan  untuk menjaga stabilitas suhu dan kelembapan udara   Meski kaktus memiliki habitat asli di gurun  namun  ada pertimbangan tanaman ini umumnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Mang Eden salah satu petani kaktus terbesar di Lembang berbagi cara grafting kaktus yang benar   Tim redaksi Kelananusantara  beberapa waktu yang lalu  mengunjungi Kampung Cicalung Desa Wangunharja  Kecamatan Lembang  Kabupaten Bandung Barat   Lokasi ini berdekatan dengan destinasi wisata yang cukup terkenal     Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
Facebook Twitter Instagram

Bekal Petualanganmu

Iwakmedia Digital Indonesia

Iwakmedia Workshop II
Ruko Jatimurni, Jl Jatimurni No. 2.
Jatipadang, Pasar Minggu.
Kode Pos 12540. (+6221) 780 8020.
Jakarta - Indonesia
Basecamp Kelana Nusantara
Jl. Mentor, Gg Dakota, RT.01/RW.05
Sukaraja, Cicendo.
Kode Pos 40175.
Kota Bandung - Indonesia

Tentang Kelana Nusantara

  • About Us
  • Privacy Policy
  • Term Of Use
  • Disclaimer
  • CONTACT US

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

No Result
View All Result
  • About Us
  • Term Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Sitemap
  • Kelana
  • Sosok
  • Akomodasi
  • Budaya
  • Kuliner
  • Hipotesa
  • Acara
  • Login

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Cookie settingsACCEPT
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary Always Enabled

Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.

Non-necessary

Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.

Add New Playlist