Ada sebuah pertanyaan lucu, mana yang semestinya.
“Makan untuk hidup atau hidup untuk makan?”
Di suatu sore, saya adu argumentasi dengan seorang kawan. Saya bersikeras bahwa “makan untuk hidup”, sedangkan kawan saya, yang seorang jurnalis senior, sebaliknya.
Tidak ada yang mau mengalah, dan tidak perlu saya sebutkan landasan argumen masing-masing. Perdebatan tidak berfaedah itu berakhir pada sepiring gorengan dan es teh. Pada: makan. Pada: kenyang.
Andai tidak ada gorengan itu dan makanan, bisa jadi debat kusir kami terus berlanjut. Mungkin juga semakin panas.
Lapar sering membuat kita lebih merasa sensitif, emosi lebih mudah menanjak, dan berpikir lebih tanpa logika.
Seperti binatang. Ketika lapar, anjing yang tidak diberi makan seminggu jadi lebih buas. Majikannya sendiri bisa dicabik-cabik.
Ramsay Bolton di serial Game of Thrones, mati mengenaskan dengan cara itu. Ia terlalu percaya diri akan memenangkan perang melawan aliansi House Stark.
Tidak memberi makan anjing-anjing peliharaannya sebagai bagian rencana sadis membunuh para tawanan. Eh, ternyata ia kalah dan niat sadisnya berbalik arah.
Manusia banyak memiliki kesamaan dengan binatang, termasuk soal merespon akibat dari kelaparan. Tidak jarang kelaparan membenarkan untuk menikam sesama.
Perperangan lebih mudah terjadi di negara yang bertanah gersang, berpenduduk miskin, yang satu porsi nasi lengkap dengan lauk pauknya adalah sebuah kemewahan.
Hikmah spiritual dalam novel Lapar
Jadi, barang siapa yang berhasil melewati kelaparan dengan tetap menjadi manusia, itulah sebaik-baiknya manusia.
Kira-kira itu hikmah spiritual yang bisa saya dapat dari membaca novel Lapar (Sult), terbit pertama kali tahun 1890, karya Knut Hamsun, novelis Norwegia peraih Nobel Kesusastraan tahun 1920.
Lapar berkisah tentang perjuangan tokoh ‘aku’ pada suatu musim gugur di kota Christiania (sekarang “Oslo”) Norwegia dalam melawan kondisi lapar.
Penderitaan tokoh ‘aku’ jadi isi cerita dari awal hingga akhir novel. Belum apa-apa, di paragraf kedua bagian pembuka, sudah ada deskripsi: Aku sedang terkapar, terjaga, dalam kamarku di loteng rumah (hlm. 3).
Tidak ada uang, tak ada makanan. Maka, ia membawa satu per satu barang miliknya ke rumah gadai. Demi mendapatkan sedikit uang untuk setidaknya bisa membeli sekeping roti.
Bukannya ia tidak mau berusaha. Ia berupaya jadi penulis. Namun, tulisan-tulisan yang dikirimnya selalu ditolak, dengan cara kasar maupun halus.
Sesekali ia mencoba menjajal pekerjaan lain, tetapi tidak ada orang yang mau mempekerjakannya.
Selama berhari-hari, tidak ada apapun yang masuk ke perut. Agar bisa setidaknya meredakan penderitaan, ia bahkan terpaksa memunguti kepingan-kepingan kayu di pinggir jalan untuk digigit.
Bahkan, batu-batu kecil yang dibersihkan untuk sekadar dihisap, serta mengemis tulang dari tukang daging dengan alasan ‘untuk anjingku’.
Seperti Sisifus dalam Epos Yunani Kuno
Kisah kelaparan tokoh ‘aku’ dalam novel Lapar yang mendapat sedikit makanan , kemudian lapar lagi, menggadai barang lagi, makan roti sedikit, lapar lagi, memiliki kemiripan dengan Sisifus.
Legenda dalam Epos Yunani Kuno itu dikutuk para dewa untuk mengerjakan satu hal saja dalam hidupnya: mendorong batu ke puncak bukit, menggelindingkannya lagi ke lembah, mendorong lagi, menggelindingkannya lagi, dan terus begitu. Absurd.
Kalau memang begitu, kenapa tidak bunuh diri saja? Seandainya tokoh ‘aku’ dalam novel Lapar atau Sisifus memilih untuk bunuh diri, barangkali kita bisa memaklumi.
Bunuh diri jadi pilihan logis ketika kehidupan tidak lagi menawarkan apapun kecuali stagnasi kehidupan.
Lapar-makan-lapar-makan. Dorong-gelinding-dorong-gelindingkan. Tidak ada bedanya mati di hari ini dengan mati sebulan, setahun, atau seabad kemudian.
Tetapi mereka tidak memilih untuk bunuh diri.
Alasannya, karena “memiliki sesuatu untuk dipertahankan”. Saya tidak menggunakan kalimat, misalnya, “memiliki sesuatu untuk diraih”, sebab jika demikian, ada kemungkinan sesuatu itu gagal untuk diraih.
Memberi peluang untuk putus asa, lalu bunuh diri. Tidak. Tidak demikian. Dan memang bukan hal seperti itu yang tersiratkan dari Sisifus maupun tokoh ‘aku’ Lapar.
Absurditas hidup bukan sebuah kekosongan
Sisifus, dalam Mite Sisifus, Pergulatan dengan Absurditas, sebuah esai filsafatnya Albert Camus, mempertahankan keyakinan bahwa absurditas hidup bukanlah sebuah kekosongan. Justru, ada kebahagiaan di dalamnya.
Nasibnya adalah miliknya. Batunya adalah bendanya. Begitu pula manusia absurd, ketika ia merenungi kepedihannya,… Sisifus mengajarkan kesetiaan lebih tinggi. Ia juga menilai bahwa semua baik adanya. Setiap butiran batu itu, setiap kilau mineral dari gunung, membentuk sebuah dunia tersendiri…Perlu dibayangkan bahwa Sisifus berbahagia! (hal 159, Mite Sisifus)
Sementara tokoh ‘aku’ Lapar, mempertahankan nilai-nilai perjuangan dan kemanusiaan yang dibutuhkan untuk jadi manusia.
Sekalipun menderita kelaparan akut, ia tetap merasa bersalah ketika menggadai selimut kawannya.
Ia bahkan berharap bisa membalas kebaikan induk semangnya yang memberinya roti dan segelas susu, walau akhirnya ia diusir oleh induk semangnya itu.
Hal-hal tersebut yang kiranya membuat Sisifus dan tokoh ‘aku’ Lapar, tidak memilih untuk bunuh diri.
Mereka mempertahankan kebahagian telah menjadi manusia, dan mempertahankan segala bentuk kebaikan yang bisa dibuat oleh manusia, walau berada di dalam kondisi dan situasi yang menderita dan mengenaskan.
Sama halnya dengan kita
Kita, saya pikir sama dengan Sisifus maupun ‘aku’ Lapar. Atau lebih gampangnya, balik saja kalimatnya: mereka merepresentasikan diri kita. Senantiasa lapar, stagnan, jenuh, jengah, bosan, terjebak dalam beban tak berujung.
Tetapi, tidak semua dari kita berhasil jadi manusia yang mempertahankan nilai-nilai kemanusian.
Akui saja, tidak sedikit yang lantas menjadi binatang – bahkan lebih rendah dari binatang. Walau kehidupannya tidak lagi berkutat pada kesulitan mencari makan. Tidak sedikit juga yang memilih untuk mati.
Jadi, makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Terserahlah. Apapun itu, tetaplah semangat mencari makan dan hidup sebagai manusia. Makan, makan dulu kalau begitu. Cheers!
Ilustrasi sampul artikel oleh Jason Adam Katzenstein




























Discussion about this post