“Jangan terlalu banyak tertawa, jika tidak ingin dianggap gila”
Di tengah pandemi saat ini, mendengar kalimat itu saya sendiri tidak peduli. Toh, kita akan gila pada akhirnya jika pendemi ini tidak kunjung selesai. Lalu apa manfaatnya tertawa di tengah pandemi ini?
Tertawa Baik untuk Imunitas Tubuh?
Ketika pandemi Covid-19 mulai menyebar di Indonesia, mesin pencarian Google dipenuhi oleh kata pencarian ‘imunitas’, ‘kekebalan tubuh’, dan lain sebagainya.
Salah satu pemicunya, banyak penelitian yang menuliskan bahwa virus corona bisa sembuh sendiri dengan sistem kekebalan tubuh. Syaratnya satu, sistem kekebalan tubuh kita harus kuat.
Hasilnya, setiap orang berlomba, termasuk saya, untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan berbagai asupan vitamin dan nutris, dari asupan makanan. Aktivitas positif lainnya, dengan mulai rutin berolahraga.
Semua kegiatan tersebut dilakukan untuk satu hal; menguatkan sistem kekebalan tubuh, demi terlindung dari virus corona yang terkutuk ini.
Nah, terus apa hubungannya dengan tertawa? usut punya usut, tertawa juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Melansir penelitian Help Guide, tertawa dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, karena bisa membuat suasana hati jadi lebih baik, rasa sakit berkurang dan dapat meredakan stres.
Berdasarkan penelitian tersebut, tertawa memang tidak langsung bekerja untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, tapi secara psikis dapat merangsang sistem kekebalan tubuh jadi lebih kuat.
Pandemi ini secara nyata menghadirkan rasa takut, panik dan gelisah. Konsultan manajemen stres Lorreta LaRoche, menjelaskan bahwa tertawa dapat membantu otak lebih rileks di tengah tekanan pikiran.
Terutama menanggapi kondisi saat ini, kabar tentang kematian karena corona, positif, dan diduga tertular corona, dapat menekan pikiran.
Tertawa Simbol Harapan
Di tengah serbuan kabar tentang corona yang membuat otak kita semakin tertekan dan cenderung memengaruhi sistem kekebalan tubuh, tertawa jadi salah satu jalan keluar.
Erica Rhodes, pelawak dari Amerika Serikat menyampaikan kepada The Associated Press, “tertawa adalah simbol harapan dan kebutuhan terbesar dalam hidup manusia”.
Rhodes juga menekankan bahwa tertawa memiliki kekuatan yang dapat menyembuhkan. Hal ini berkaitan dengan pengertian tentang humor. Bambang Sugiharto, dosen filsafat Universitas Katolik Parahyangan, mengatakan bahwa humor dalam pengertian kuno berasal dari kata ‘humour’, salah satu cairan di dalam tubuh yang dianggap dapat menentukan kesehatan dan karakter seseorang.
Pada perkembangannya secara perlahan, kata ‘humour’ mengalami pergeseran makna, yaitu sesuatu yang mengandung kelucuan, dapat ditertawakan, dan menyebabkan kita senang serta bahagia.
Tertawa memiliki kaitan erat dengan kesehatan jiwa, kesenangan, dan kebahagiaan. Namun dalam persfektif agama, tertawa juga memiliki konotasi negatif.
Dalam Islam, terdapat hadist shahih yang menyatakan bahwa terlalu sering tertawa dapat mengeraskan hati. Dalam Katolik, disampaikan oleh Bambang Sugiharto, pada era Gereja Katolik, tokoh-tokoh Gereja seperti Ambrosius, Hironimus, Basilius dan Yohannes Chrisostomus menganggap bahwa tertawa (terbahak-bahak) adalah gejala jiwa yang tidak tertata. Kepribadian yang kurang bermartabat.
Tertawa Sebelum Terlanda Ketidakwarasan
Terlepas dari konotasi negatif tertawa dalam persfektif agama, Islam dan Katolik. Tertawa juga memberikan dampak positif bagi kesehatan jiwa dan berujung baik bagi sistem kekebalan tubuh.
Di tengah masa pandemi corona virus saat ini, selain berlomba untuk tetap sehat dan tidak tertular, kita juga harus berlomba untuk tetap waras.
Di tengah masa karantina, manusia lepas dari salah satu kebutuhannya yaitu melakukan interaksi sosial. Kecemasan pada akhirnya bisa membuat kita gila. Mungkin, sama gilanya dengan terus tertawa.
Pada akhirnya, kita harus bertahan. Memilih untuk berjuang dan selalu waras. Tertawa memiliki aspek positif untuk kesehatan tubuh dan jiwa, selama tidak terlalu berlebihan. Tidak usah dibawa repot hanya untuk tertawa.
Mengingat pesan legendaris Warkop DKI, ‘tertawalah sebelum tertawa itu dilarang’. Di tengah pandemi ini, izinkan saya memelintis pesan legendaris Warkop DKI tersebut,’ tertawalah sebelum terlanda ketidakwarasan’




























Discussion about this post