Zaman sekarang istilah ‘babu’ terdengar memiliki konotasi yang negatif untuk menyebut para pekerja rumah tangga.
Namun, di kehidupan sehari-hari kita masih suka mendengar idiom ‘mental babu’ dilontarkan kepada perempuan yang memilih berkerja di ruang domestik.
Penyebutan kata ‘babu’ dengan berbagai konotasinya tidak terjadi begitu saja, ada latar belakang sejarah di belakangnya.
Mari kita kembali ke zaman penjajahan, berkaca pada mental yang dibangun oleh kaum kolonialis memperlakukan perempuan yang mengabdikan diri di rumah Tuan dan Nyonya Belanda.
Perempuan yang patuh untuk selalu siap sedia kapanpun dan di manapun ia harus menerima perintah. Istilah “Baboe” kemudian muncul untuk menyebut perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga.
Munculnya Istilah Baboe

Menurut film dokumenter, Ze Noemen Me Baboe karya sutradara Sandra Beerends, istilah baboe adalah akronim suku kata ba dan boe. Ba yang berasal dari kata “Mba” dan Boe yang berasal dari kata “Iboe”.
Pada masa itu baboe diklasifikasikan jadi beberapa jenis, yaitu baboe het huispersoneel yang bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, kinderdagblijf baboe yang bertugas untuk mengasuh anak, baboe voor de keukeun yang bekerja sebagai juru masak dan wasbaboe yang bekerja mencuci pakaian sang majikan.
Menengok Baboe di Masa Lalu

Pada masa awal kehadirannya di Hindia Belanda, para majikan laki-laki Eropa datang tanpa disertai para perempuan karena sulitnya transportasi dan jarak tempuh yang sangat jauh menuju tanah Nusantara.
Maka dari itu peran pekerja rumah tangga sangat penting bagi mereka (Soekiman, 2011:37). Sekitar tahun 1930 orang-orang di Hindia Belanda baik itu orang Eropa maupun Pribumi dituntut untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup.
Bukan hanya para laki-laki saja yang diharuskan untuk bekerja, perempuan juga mengemban beban serupa agar dapat menunjang hidup keluarga.
Bangsa Eropa baik laki-laki maupun perempuan ketika itu sibuk mengurusi serba-serbi pekerjaan yang berurusan dengan tanah koloni, karena itu mereka memercayakan perempuan pribumi sebagai pekerja yang mengurusi pekerjaan rumah tangga.
Bagi masyarakat Eropa yang merantau di tanah koloni, kepemilikan atas pekerja rumah tangga Pribumi adalah hal biasa. Tidak hanya karena biaya jasa yang sangat murah, melainkan juga mereka adalah orang yang memiliki peran penting jika sedang dibutuhkan dalam keadaan mendesak.
Kebutuhan tersebut memiliki keterkaitan dengan laki-laki Eropa lajang yang berangkat ke koloni di usia muda. Bagi orang-orang Eropa yang sudah memiliki penghasilan mumpuni dapat dipastikan akan merekrut tenaga kerja dengan kemampuan yang lengkap untuk mengurus rumahtangga mereka.
Di tengah masyarakat yang terkotak-kotak seperti di Hindia Belanda, kepemilikan Pembantu Rumah tangga sangat penting karena berkaitan dengan prestise dan harga diri. Hal ini bahkan dipandang sebagai suatu keharusan, yaitu bukti nyata akan kesejahteraan dan supremasi orang Eropa (Baay, 2017:31)
Posisi Baboe dalam Lapisan Masyarakat Kolonial

Dari semua kelompok dominan di tanah bekas koloni, pekerja rumah tangga merupakan posisi yang paling subaltern. Mereka dibungkam oleh sifat patuh atas pekerjaan dan subordinasi kelas asal mereka.
Pembantu Indonesia atau Jawa di Hindia Belanda tidak diharapkan atau diizinkan untuk berbicara bagi dirinya sendiri. Mereka juga tidak pernah mendapatkan suara karena tekanan di pasar tenaga kerja, seperti halnya dengan pembantu rumah tangga di Eropa pada abad ke dua puluh. (Scholten, 2000: 85)
Hal semacam itu memperlihatkan bahwa pekerja rumah tangga, khususnya Baboe memiliki kedudukan yang amat sangat rendah, terhimpit di antara tiga bagian oposisi biner.
Pertama, Baboe sebagai inferior antara pelayan dan majikan yang memiliki peran sebagai superior. Kedua, Baboe dipandang amat sangat dangkal karena dia adalah Pribumi golongan terendah di tatanan bangsa koloni, sementara sang majikan yang berasal dari Eropa merasa bahwa rasnya berada pada tingkat kehormatan paling tinggi, dan yang ketiga, posisi Baboe sebagai perempuan berdasarkan kontrak sosial dianggap sebagai gender yang tersubordinasi.
Refleksi Baboe di Masa Kini
Melalui retrodiksi tersebut dapat dibayangkan betapa tersingkirnya babu dari lapisan masyarakat, bahkan jika harus menarik waktu ke masa kini.
Istilah babu mengalami pergeseran makna dan malah digunakan untuk merujuk pekerja rendahan. Alih-alih memandang perannya yang cukup besar, banyak orang malah melihat bahwa itu adalah pekerjaan murahan yang tidak berharkat maupun bermartabat.
Babu dianggap sebagai pekerja kasar yang lemah tak berdaya, padahal babu memiliki peran amat besar khususnya dalam latar belakang sejarah.
Para babu menjadi tonggak akulturasi kelahiran budaya Indis yang hingga saat ini masih hidup dan terus dilembagakan. Selain itu, tanpa adanya peran mereka maka pekerjaan rumah tangga tidak mungkin seringan mengangkat kapas di tengah kehidupan di era industri di masa kini.
Referensi:
Lochter-Scholten, Elsbeth. Woman and Colonial State: Essays on Gender and Modernity in The Nederlands Indies (Amsterdam: Amsterdam University Press, 2000)
Soekiman, Djoko. Kebudayaan Indis dari Zaman Kompeni sampai Revolusi (Depok: Komunitas Bambu, 2011)
Baay, Reggie. Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda (Depok: Komunitas Bambu, 2017)
Jurnal:
Siska Nurazizah dan Indra Fibiona, Pengasuhan Anak Eropa oleh Wanita Pribumi (Boboe) di Hindia Belanda Abad ke XIX-awal abad ke XX (Yogyakarta:BPNB Yogyakarta) Jantra Vol. 11 no 1, Juni 2016




























Discussion about this post