Kehadiran budaya visual semakin masif digunakan sebagai cara yang praktis dalam berkomunikasi.
Jika menarik mundur ke zaman prasejarah, manusia-manusia arkais menggunakan visual sebagai media komunikasi yang mudah dipahami. Mereka menggunakan tembok-tembok gua untuk menggambarkan berbagai kisah dengan bahasa visual hasil dari artikulasi yang ingin disampaikan. Sementara itu, hari ini manusia menggunakan “tembok” media massa sebagai tempat untuk menyampaikan pesan dalam bentuk visual.
Saya Melihat, Saya Percaya (The Ways of Seeing)

Mata adalah bagian tubuh yang paling berpengaruh atas referensi visual yang diterima oleh manusia. Manusia lebih dahulu mencerna dan mengenali persepsi visual penglihatan daripada pendengaran. Sejak manusia dilahirkan, mata jadi panca indera yang paling berfungsi untuk memahami kondisi sekitar. Manusia melihat sebelum mereka dapat berbicara.
Budaya visual jadi bagian penting dalam mengomunikasikan gagasan kepada manusia, di sisi lain budaya visual juga jadi pisau bermata dua yang berbahaya bagi cara pandang manusia terhadap sesuatu. Hal tersebut terjadi karena salah satu ciri budaya visual adalah mendorong adanya cara berpikir yang instan.
“No Pict = Hoax”
Begitulah slogan khas budaya visual pada media saat ini. Banyak orang kemudian memuja-muja citra visual sebagai bukti yang dianggap valid, dalam hal ini terlihat bahwa kekuatan lisan kalah oleh kekuatan visual.
Sedangkan, pada beberapa kondisi, sumber visual juga dapat dimanipulasi sedemikian rupa jauh dari batas kebenaran, maka dari itu manusia harus memiliki referensi yang baik agar tidak terjebak dengan keimanan yang instan terhadap sumber visual.
Perempuan dalam Rezim Visual

Tony Shchirato dan Jen Webb melalui bukunya Reading The Visual menuliskan, Istilah Rezim visual menandakan bahwa budaya visual memiliki otoritas memengaruhi tindakan manusia termasuk dalam eksploitasi perempuan sebagai komoditas.
Media massa membentuk stereotip masyarakat terhadap perempuan melalui sajian visual yang lebih menyesuaikan cara pandang laki-laki.
Media memiliki hak khusus untuk mengontrol dan membangun citra perempuan, karena dalam konstruksi sosial, laki-laki dianggap lebih superior dari perempuan.
Maka dari itu laki-laki mampu meminjam media visual sebagai kaki tangan dari otoritasnya dalam membentuk citra perempuan di mata masyarakat.
Iklan sebagai Agen Pengawas dan Kontrol terhadap Citra perempuan
Pada 1950-an Amerika memulai popularitas industri visual dengan menjadikan tubuh perempuan semacam komoditas yang diekspos ke publik dan jadi alat tukar untuk memenuhi keinginan industri. Memvisualisasikan citra perempuan berada di bawah laki-laki serta menempatkan perempuan sebagai objek yang dapat memenuhi kepuasan seksual laki-laki. Seakan mengukur harkat, derajat, dan martabat perempuan melalui penggambaran visual.
Media massa kemudian mendistribusikan identitas perempuan yang dibentuk oleh budaya visual. Iklan jadi sajian yang seringkali muncul di berbagai serambi media massa.
Pelaku bisnis di balik layar sudah memosisikan penggambaran perempuan sesuai dengan kebutuhan. Tubuh dan identitas perempuan dibentuk dan diekspos sebagai bahan yang akan dijual dan menarik keuntungan bagi pelaku bisnis. Misal pada beberapa iklan kecantikan, media massa membuat ukuran standar kecantikan berdasarkan cara pandang laki-laki yang mendefinisikan apa itu cantik secara fisik.
Kemudian muncul iklan-iklan produk pemutih badan dan secara tidak langsung menjelaskan bahwa cantik itu adalah perempuan yang berkulit putih. Lalu banyak iklan yang menggambarkan perempuan sebagai insan rumah tangga yang lebih baik diam di rumah untuk melayani laki-laki dengan patuh.
Semua itu dikomunikasikan melalui visual, masyarakat sadar tak sadar menerimanya sebagai sesuatu yang normal. Baik perempuan dan laki-laki pada akhirnya menganggap citra tersebut adalah kewajaran.
Begitulah rezim visual bekerja, setidaknya ada dua hal yang dominan, yaitu kapitalisme dan normalisasi. Rezim visual menggunakan iklan sebagai salah satu media yang melengkapi otoritasnya dalam membentuk cara pandang tentang perempuan.
Hal tersebut berdasarkan kebutuhan strategi bisnis yang mengincar keuntungan. Kemudian melalui layar televisi maupun layar-layar lainnya perempuan diawasi oleh mata laki-laki dengan desiring gaze mereka. Sementara perempuan banyak yang menganggap fenomena ini sebagai sesuatu yang biasa dengan dalih citra yang dibentuk oleh visual tersebut adalah hal yang kodrati.
Karena itu, perempuan bisa saja terjebak pada industri persepsi yang memaksa membentuk citra bahwa perempuan yang ideal adalah perempuan yang divisualisasikan oleh ide yang berasal dari kepentingan industri.
Citra Perempuan dalam Layar Masa Kini
Industri media di hari ini, banyak iklan-iklan yang mulai meminimalkan posisi perempuan sebagai objek juga mengurangi konstruksi standar kecantikan tertentu. Misalnya skin tone dalam iklan alas bedak kini sudah mulai beragam tak hanya sebatas kuning langsat dan putih bersinar.
Makna cantik sudah mulai beragam dalam industri periklanan. Meskipun masih ada saja penggambaran yang lekat dengan domestikasi terhadap perempuan.
Setidaknya, saat ini perempuan sudah mulai lebih dipandang keberadaanya. Diberikan kewenangan untuk menampilkan diri sebagaimana mestinya dan atas dasar kehendaknya. Industri persepsi kemudian bergulir dari gaze laki-laki menuju otoritas perempuan terhadap tubuh mereka sendiri.
Referensi:
Schirato, Tony & Webb, Jen. Reading the Visual. Singapore, Allen & Unwin: 2004.
Fontcuberta, Joan. Pandora’s Camera. Photography After Photography. Barcelona, Mack: 2014





























Discussion about this post