Sebagian dari kita mungkin sudah mendengar kisah bagaimana Adam diciptakan dan diperkenalkan kepada makhluk Tuhan lainnya semasa di surga. Bahkan, beberapa literatur menyebutkan bahwa Adam hidup sampai 930 tahun. Lalu, bagaimana dengan Hawa? Bagaimana ia diciptakan, diturunkan ke bumi, sampai akhirnya melahirkan manusia-manusia lainnya di muka bumi ini?
Benarkah Hawa diciptakan dari Tulang Rusuk Adam?
Menurut tradisi Yahudi, Adam dikecam sebelum dia dipertemukan dengan Hawa. Dalam buku abad pertengahan yang berjudul The Alphabet of Ben-Sira. Disebutkan bahwa istri pertama Adam adalah Lilith yang marah dan kemudian bersekutu dengan setan.
Tuhan lalu mengecamnya dan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Konsep inilah yang kemudian mengonstruksi anggapan bahwa Hawa (perempuan) harus menaati Adam (laki-laki).
Kisah tentang Lilith tidak terdapat dalam Alquran maupun Alkitab. Namun, sebagian besar pendapat tentang Lilith merujuk pada Kejadian 1:27 yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan dari tanah liat dalam waktu yang bersamaan.
Sementara itu, Kejadian 2:22 merepresentasikan penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki yang diyakini sebagai penciptaan Hawa.
Mengutip Massachusetts Bible Society, mayoritas cendekiawan berpendapat bahwa kisah-kisah dalam bab-bab pertama Kejadian tidak merepresentasikan peristiwa-peristiwa sejarah yang nyata, tetapi lebih kepada penyampaian ide-ide teologis dan refleksi-refleksi tentang sifat-sifat kemanusiaan dan kondisi manusia.
Artinya, penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam pun dapat diinterpretasikan lebih luas ketimbang memaknainya secara harfiah.
Sementara itu, dalam ajaran Islam, terdapat ayat Alquran yang menyebutkan penciptaan manusia sebagai berikut:
“Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dari ′diri yang satu′ (nafs wahidah), dan darinya Allah menciptakan pasangannya (zawjaha), dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan wanita banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa:1)
Dalam ayat tersebut, tidak ada satu pun kalimat atau kata yang merepresentasikan perbedaan substansial mengenai penciptaan perempuan dan laki-laki. Ini menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak membeda-bedakan kedudukan perempuan dan laki-laki.
Lalu, Dari Mana Asal-usul “Hawa diciptakan dari Tulang Rusuk Adam”?
Banyak ulama yang menginterpretasikan secara harfiah makna menciptakan kalian dari diri yang satu (nafs wahidah), dan darinya Allah menciptakan pasangannya (zawjaha) sehingga menganggap bahwa Hawa benar-benar diciptakan dari Adam.
Dalam Exploring Islam, Farhad Shafti menyebutkan bahwa penggunaan kalimat tersebut tidak selalu bermakna harfiah. Kalimat itu bisa juga merujuk pada ‘sifat tertentu’, seperti pada ayat yang berbunyi, “Manusia diciptakan dari sifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Anbiyaa:37)
Mitos penciptaan Hawa dari tulang rusuk juga kemudian semakin berkembang dalam kebudayaan Islam karena hadis berikut:
“Bersikap baiklah kepada perempuan karena seorang ia diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika kalian mencoba meluruskannya, itu akan patah. Sebaliknya, jika kalian membiarkannya apa adanya, itu akan tetap bengkok. Jadi, perlakukanlah wanita dengan baik.” (HR. Bukhari 3331 & Muslim 1468)
Dampak dari Interpretasi
Banyak orang yang benar-benar mengartikan narasi tersebut secara harfiah sehingga meyakini bahwa Hawa benar-benar diciptakan dari tulang rusuk Adam. Namun, dalam perkembangan kajian Islam, beberapa ulama kontemporer meyakini adanya perbedaan interpretasi dalam konteks ini.
Dalam jumrah.com, Wahbah Zuhaili menyebutkan bahwa narasi penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam adalah untuk merepresentasikan kekuasaan Allah dalam menciptakan sesuatu yang hidup dari makhluk hidup lainnya.
Bukan dengan cara kelahiran seperti yang kita alami sekarang. Bahkan, dalam perkembangan sains, diketahui bahwa terdapat kesamaan peta genetik dan jumlah kromosom pada Adam dan Hawa.
Ia juga menyebutkan bahwa pesan penting dalam hadis di atas bukan tentang penciptaan Hawa, melainkan tentang perintah bagi kaum laki-laki untuk bersikap baik terhadap perempuan.
Dari segi bahasa, Zuhaili menjelaskan bahwa kata min dalam bahasa Arab yang biasanya bermakna ‘dari’ bisa juga bermakna ‘seperti’. Sehingga kalimat perempuan diciptakan dari tulang rusuk lebih condong kepada perempuan diciptakan seperti tulang rusuk.
Lebih lanjut lagi, konsep teologis yang menganggap bahwa Hawa benar-benar diciptakan dari tulang rusuk Adam juga berdampak signifikan terhadap konstruksi psikologis, sosial budaya, ekonomi, dan politis sehingga banyak orang menganggap perempuan sebagai manusia kelas dua yang kedudukannya berada di bawah laki-laki dan harus selalu taat pada perintah laki-laki.
Representasi Kesetaraan dalam Penciptaan Manusia
Sebagian literatur menyebutkan bahwa sebagai bagian dari hukuman karena Hawa telah memakan buah Pohon Pengetahuan, Tuhan memberinya rasa sakit ketika melahirkan.
Beberapa pihak menganggap hukuman ini adalah bagian dari wujud tanggung jawab Hawa atas dosanya.
Tidak sedikit masyarakat yang percaya bahwa Hawa adalah biang keladi dari peristiwa diturunkannya Adam ke muka bumi. Dalam konteks sastra lisan, Hawa dianggap sebagai perempuan yang menggoda Adam untuk memakan buah Pohon Pengetahuan atau buah khuldi.
Pada abad pertengahan dan modern, banyak pihak meyakini kalau Hawa menggoda Adam untuk melakukan dosa pertama.
Dalam ajaran Islam, disebutkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Sehingga Alquran menyebutkan, baik Adam maupun Hawa sama-sama bertanggung jawab atas dosa memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah. Tapi, apakah karena kesalahan itulah maka keduanya benar-benar diusir dari surga?
Dua Surga yang Berbeda
Dalam QS. Al-Baqarah:30 yang berbunyi, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” yang artinya, sejak awal Adam dan Hawa memang diciptakan untuk tinggal di bumi. Kejadian tersebut digambarkan terjadi sebelum penciptaan Adam dan Hawa.
Di sisi lain, sebuah studi komparatif antara Alquran dan Taurat mengatakan bahwa pemahaman surga dalam konteks tempat tinggal Adam dan Hawa berbeda dengan surga yang kita idam-idamkan selama ini karena surga yang digambarkan di akhirat memiliki nilai-nilai yang tidak dinyatakan dalam surga tempat kediaman Adam dan Hawa sebelum turun ke bumi, yaitu:
- Surga akhirat penghuninya kekal di dalamnya. Jika merujuk pada nilai tersebut, maka tidak mungkin Adam dan Hawa diusir dari surga.
- Setan tidak dapat masuk ke dalamnya. Sementara dalam konteks kejadian Adam dan Hawa, keduanya diturunkan karena tergoda bujukan setan.
- Surga pascakiamat disediakan sebagai balasan bagi orang-orang yang telah berbuat baik. Namun, Adam dan Hawa mendiami surga sebelum adanya perhitungan amal.
- Surga di akhirat bersifat bebas sehingga tidak ada larangan bagi penghuninya untuk melakukan apa pun. Dalam konteks ini, Adam dan Hawa mendapati satu larangan untuk tidak mendekati buah khuldi (pohon pengetahuan).
Tuhan Tidak Mendiskriminasi Adam dan Hawa sebagai Entitas Dominan dan Subordinat
Terlepas dari benar atau tidaknya kebenaran tentang surga tersebut, kita tetap bisa melihat bahwa Tuhan tidak mendiskriminasi Adam dan Hawa sebagai entitas dominan dan subordinat. Keduanya diciptakan secara bersamaan dengan kedudukan yang setara.
Jika merujuk pada ayat dan hadis yang sudah disebutkan di atas (dan kita bersepakat bahwa narasi tersebut tidak harus diinterpretasikan secara harfiah), terdapat representasi kesetaraan yang digunakan dalam metafora perempuan diciptakan dari (seperti) tulang rusuk.
Seorang ahli tafsir Alkitab abad ke-18 mengatakan, “Hawa tidak dibuat dari kepala Adam untuk memerintahnya atau dari kaki Adam untuk diinjak-injak olehnya, melainkan dari tulang rusuk yang ada di sisinya agar kedudukannya setara, di bawah lengannya untuk dilindungi, dan dekat hatinya untuk dicintai.”
Di lain pihak, Katekismus menyebutkan, “Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk satu sama lain, bukan berarti Allah membiarkan mereka setengah jadi dan tidak lengkap: Allah menciptakan mereka untuk menjadi persekutuan orang-orang, yang masing-masing dapat membantu orang lain, karena mereka sesama manusia dan saling melengkapi, seperti halnya maskulin dan feminin.”(Catechism of the Catholic Church:372)
Sejalan dengan itu, seorang ahli paleontologi dan ahli esai Harvard bernama Stephen Jay Gould mengatakan bahwa penciptaan Adam dan Hawa membuat kita menyadari bahwa semua manusia, meskipun terdapat perbedaan dalam penampilan fisik, tetap berasal dari entitas yang sama. Ada jenis persaudaraan biologis yang jauh lebih mendalam daripada yang pernah kita sadari.
Arti nama Adam dan Hawa
Beberapa pihak meyakini bahwa nama Adam berasal dari kata adom yang berarti ‘merah’ yang kemudian dikaitkan dengan kata dominion yang berarti ‘kekuasaan’.
Sementara itu, EW Lane dalam leksikon Arab-Inggrisnya menyebutkan bahwa Hawa berasal dari bahasa Arab yang bermakna ‘kecokelatan’ atau ‘sawo matang’.
Namun, dalam perkembangannya, banyak ahli tafsir dan cendekiawan yang meyakini bahwa Adam berasal dari bahasa Ibrani klasik yang berarti ‘bumi’, ‘manusia’, dan ‘tanah’.
Kata ini berkaitan dengan adamah yang berarti ‘tanah’ dan dam yang berarti ‘darah’, serta tidak ada hubungannya dengan kata dominion yang berasal dari bahasa Latin yang kemudian menjadi istilah Indo-Eropa.
Sementara itu, nama Hawa bersumber dari banyak bahasa, yaitu bahasa Ibrani chavvah/havvah yang berarti ‘bernapas’ atau chayyah/hayyah yang berarti ‘hidup’, dalam bahasa Yunani eve yang berarti ‘hidup’, dan bahasa Arab hawwaa yang berarti ‘kehidupan’.
Dua Entitas yang Saling Melengkapi
Artinya, bumi (Adam) dan kehidupan (Hawa) adalah dua entitas yang saling melengkapi. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah di antara keduanya.
Kedudukan tersebut kemudian diperjelas dengan pendapat Carol Lynos Meyers yang mengatakan bahwa kisah Hawa yang beredar di kalangan masyarakat pada abad pertengahan memengaruhi gagasan masyarakat Barat terkait gender dan identitas perempuan.
Meski banyak mitos yang beredar tentang persepsi negatif Hawa, Gereja Katolik mengakui Adam dan Hawa sebagai santo dan santa. Hal ini direpresentasikan dengan adanya pesta liturgi tradisional untuk keduanya yang dirayakan pada 24 Desember sejak Abad Pertengahan.
Sementara dalam Islam, Hawa dipandang sebagai ummul basyar (ibu semua umat manusia) sehingga merepresentasikan bahwa perempuan memiliki kedudukan yang setara dan bukan sebagai subordinat di mata dunia.




























Discussion about this post