Menjadi janda di usia muda tidak lantas membebaskan saya dari stigma. Ada hal yang membuat saya kerap merasa jengah ketika mendengar kata “janda”. Ada banyak telinga dan mata yang tiba-tiba berubah menjadi agresif.
Ada yang tiba-tiba berusaha empatik dengan menanyakan alasan kenapa saya menjanda atau cuma sekadar bilang, “Maaf ya, saya nggak tahu.”
Ada yang tiba-tiba berubah jadi serigala dan menawarkan macam-macam “bantuan” yang sebenarnya nggak dibutuhkan, “Kalau butuh teman, hubungi saya aja.”
Ada yang pura-pura nggak kenapa-kenapa, tapi di belakang berseliweran kasih info sana-sini, atau ada juga yang berusaha santai-tapi-salah dengan melemparkan lelucon yang sebenarnya tidak layak disampaikan.
Mulai dari mengomentari fisik, “Pantesan seksi banget, ya.” Sampai mengomentari psikis, “Wah, janda biasanya lebih dewasa nih!”
Semua pada akhirnya berujung pada stigma “janda itu penggoda”, “janda itu kesepian”, dan macam-macam stigma negatif lain yang sudah tumbuh dan berkembang di dunia patriarki ini.
Memangnya ada apa sih dengan janda? Itu pertanyaan yang sering kali muncul di benak saya, jauh sebelum saya menjadi janda.
Perceraian dan Perempuan

Pada 23 Juni, PBB menetapkan sebagai Hari Janda Internasional International Widow’s Day) di seluruh dunia. Belum terlambat mengulas mengenai janda yang berkaitan dengan angka perceraian.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa angka ini terus meningkat di seluruh dunia. Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab.
Salah satunya karena banyaknya perempuan yang lebih mandiri secara finansial, sehingga cenderung lebih vokal dan rela mengorbankan keluarga demi independensi.
Tapi, itu bukan satu-satunya faktor pemicu perceraian. Kekerasan dalam rumah tangga bahkan memiliki dampak yang lebih besar terhadap kenaikan tingkat perceraian.
Dampak perceraian bagi perempuan

Beberapa alasan kenapa perempuan memilih untuk bercerai antara lain adalah kekerasan, pembunuhan karakter, alkoholisme, dan adaptasi interpersonal yang kurang.
Studi empiris berulang kali menunjukkan bahwa perceraian berdampak terhadap sejumlah masalah sosial, seperti kurangnya dukungan sosial terhadap janda, menurunnya kesehatan fisik dan psikologis, dan krisis ekonomi.
Mengutip BBC, perceraian membuat sebagian orang mempertanyakan kembali “siapa diri kita”. Kehilangan pasangan dalam hubungan pernikahan sama halnya dengan kehilangan sebagian diri, sehingga konsep “diri” yang sebelumnya penuh menjadi hilang.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh kepada orang dewasa di Amerika, menemukan fakta bahwa sekitar 131.159 perempuan mengalami kehidupan yang sulit setelah bercerai.
Tidak ada yang mudah dalam menghadapi perpisahan, mengacu pada jajak pendapat Gallup poll melalaui wawancara telepon dengan sampel acak pada 131.159 orang dewasa di Amerika. Melansir dari Womenshealthmag perempuan menanggung beban efek samping lebih berat.
Perempuan yang bercerai memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dan stres yang lebih tinggi daripada pasangan pria mereka.
Bahkan, sepertiga dari jumlah tersebut menyatakan rutin mengonsumsi obat penenang setiap harinya.
Mengutip guesehat.com, inilah yang terjadi pada perempuan ketika mengalami perceraian:
1. Stres
Journal of Health and Social Behaviour (2006) menerbitkan sebuah artikel yang menuliskan bahwa perempuan cenderung mengalami tekanan psikologis lebih tinggi daripada laki-laki.
Tekanan ini relatif berdampak pada pemikiran untuk tidak memercayai laki-laki. Terutama pandangannya tentang laki-laki sempurna, dan kekhawatiran akan penolakan.
2. Cemas dan takut
Tanpa masalah perceraian pun, perempuan memiliki rasa cemas yang berlebih. Saat bercerai, mayoritas perempuan relatif akan mencemaskan masa depan yang belum pasti.
Hal ini membuat kebanyakan janda takut untuk jatuh cinta lagi, memulai hubungan baru, berkomitmen, bahkan untuk bersosialisasi dengan lawan jenis.
3. Marah atau rasa bersalah
Perasaan ini biasanya dialami oleh perempuan dengan proses perceraian yang rumit, terutama menyangkut anak dan kesehatan psikologisnya.
Selain itu, perempuan juga bisa dihantui rasa bersalah karena telah menceraikan mantan suaminya, terlebih jika perceraian disebabkan oleh kesalahan pihak perempuan.
Bagi banyak perempuan, terutama di negara-negara berkembang, perjuangan jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan dasar, hak asasi manusia, dan martabat memperbesar rasa kehilangan pasca perceraian
Menurut situs resmi PBB, situasi pandemi saat ini bahkan memperburuk situasi para janda yang kekurangan dukungan sosial-ekonomi serta keluarga mereka.
Dari 258 juta janda di seluruh dunia, terdapat hampir satu persepuluhnya hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Tetapi, jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi dan berkembang lebih banyak akibat pandemi.
Janda dalam fenomena budaya populer
Banyak stereotip dan hambatan yang mesti dilalui oleh seorang janda di tengah masyarakat.
Fenomena keseharian seolah merespon dengan hadirnya beberapa produk budaya populer. Sekilas saja kita dapat mengingat ada berapa banyak lagu bertemakan janda dengan konotasi negatif.
Berapa banyak film layar lebar maupun sinetron yang menyuguhkan nuansa seksis yang semakin melanggengkan stereotip.
Menempelkan stigma janda sebagai penggoda, pelakor, dan pihak yang dianggap merugikan bagi kaum perempuan dan “menyenangkan” bagi kaum laki-laki.
Fenomena ini tidak cukup sampai di situ, janda bahkan dijadikan ikon strategi marketing. Mengaitkan sebuah produk dengan menyematkan kata “janda” untuk penglaris.
Sebut saja “Bakso Janda”, “Sop Janda”, “Bubur Janda”, dan segudang produk lain yang menyisipkan janda sebagai sebuah kenikmatan yang lazim.
Penurunan makna
Mengutip laman Tirto.id, peyorasi (penurunan makna) kata “janda” menurut Justito Adiprasetio adalah gejala dari sistem patriarki yang kuat di masyarakat.
Meski ide tentang emansipasi sudah terlihat di Indonesia, pertarungan antara patriarki dengan emansipasi masih jauh dari kata selesai.
Hal ini juga dikarenakan adanya upaya-upaya yang dilakukan pihak tertentu untuk menyumbat ide emansipasi.
Orde baru sempat mengebiri wacana emansipasi dan baru masuk sebagai isu publik ketika ada Komnas Perempuan yang baru dibentuk pada 9 Oktober 1998.
Lyb Parker (2016) juga mengungkapkan bahwa stigma negatif terhadap janda menguat pada masa Orde Baru (1966-1998) ketika melacak transformasi sosiokultural di Indonesia.
Melalui pendidikan dan pengembangan ideologi tentang gender dan keluarga, sistem pemerintahan Orde Baru berusaha mentransformasikan hubungan pernikahan dan perceraian.
Sehingga pembentukan keluarga inti mendapat pujian, sedangkan perceraian dianggap melawan pemerintah.
Lebih buruknya lagi, perceraian dikaitkan dengan upaya pemecah belah serta bersifat kontradiktif terhadap pernikahan.
Sikap inilah yang kemudian menjadi penyebab kesulitan para perempuan ketika mengurus perceraian.
Stigma di masyarakat
Sementara itu, psikolog Meity Arianty kepada Okezone Lifestyle menjelaskan bahwa fenomena pemberian label, stigma, atau apa pun sebutannya kepada janda sulit dihapus dengan dihilangkan.
Menurut Mei, stigma ini terjadi salah satunya karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang citra positif janda.
Dari tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa konstruksi budaya patriarki dimulai bukan hanya dari lingkungan terkecil, tapi juga dari entitas payung yang kita sebut pemerintah.
Kalau pemerintah punya pemahaman yang kuat soal konstruksi budaya, maka dapat segera menghilangkan stigma terhadap janda dan entitas minoritas lainnya.
Buat Sahabat Kelana yang gak mau disebut ‘terbawa stigma’, yuk hilangkan pelabelan buruk itu.
Perlihatkan kalau kamu memiliki mental yang tidak layak menghina dan merendahkan orang lain apapun latar belakangnya.
Buktikan kalau kita mampu berkontribusi positif untuk masyarakat dan tidak mudah terkena virus-virus kebencian akibat stigma tersebut.




























Discussion about this post