Sebelumnya Baca: Pelabuhan Tanjung Priok dan Kerasnya Hidup (Bag II)
Seseorang menghampiri saya, mengeluh dan tiba-tiba curhat, “a saya mau minta tolong, mau jual power bank, berapa saja terserah aa”, Memang mau di jual berapa, ujar saya.
Dia diam saja saat saya menawarkan harga seratus ribu. Lalu saya tanya “kenapa power bank mu mau dijual?”.
Beberapa hari sebelumnya, Mamet sempat menyinggung harga power bank yang dijual oleh Bang Kendar. Penghuni pelabuhan Tanjung Priok yang menjajakan barang elektronik di pelabuhan.
Lalu, saya cerita ke Memet, power bank yang kecil 2400 watt harganya Rp80 ribu dan yang besar Rp230 ribu. Kebetulan saya tahu, karena pernah tanya Bang Kendar sebelumnya.
Memet berasal dari Magelang. Tujuannya ke Bangka Belitung buat cari kerja. Tapi, kapal yang akan dinaikinya terkena imbas bencana tsunami Banten pada 22 Desember, 2018 lalu. Sehingga keadaan memaksanya harus tinggal satu pekan di pelabuhan dan menghabiskan uang sekitar Rp700 ribu.
Ia terlihat seperti orang baik, hampir tiap malam mendengarkan ceramah Ustad di Iphone miliknya, kadang kami bertemu di Musala.
Membuat Sebuah Keputusan
Di Musala, malam itu, ia keliatan bingung dan ragu saat menawari saya power bank nya. “Buat nambahin beli tiket”, katanya. Terus saya tanya, “Emang kapal datangnya kapan?”
“Saya naik kapal KM Sakura Express, besok sandar pagi-pagi”, sambungnya. “Sisa duit kamu tinggal berapa itu?”, tanya saya lagi. “Di ATM uang tinggal Rp120 ribu, itu juga kalo diambil paling bisa kebawa Rp50 ribu, sebenernya dari kemaren saya nunggu transferan dari kakak, tapi belum ada kabar”, dia ngomong sambil nunduk.
Saya jadi kasihan dan mikir sejenak, sebenernya saya juga butuh uang. Menabung dari kerasnya kerja buruh selama seminggu di pelabuhan juga belum cukup untuk sampai ke tujuan saya.
Kemudian saya memberi opsi ke Memet berupa dana talang. Saya pikir, power bank belum masuk list emergency, kebutuhan terpenting saya ya beli tiket, sama seperti dia.
Lalu saya ambil keputusan, saya bilang, “Power bank ini saya hargai Rp100 ribu dan ini Rp100 ribu lagi buat nambahin beli tiket besok pagi. Tapi saya minta tolong, kamu transfer balik ke saya, kalau Kakakmu sudah transfer uang”.
“Iya a, saya minta nomer rekening sama kontak hpnya, kalo ada kabar dari Kakak saya, saya segera kasih tahu aa nya”, janjinya kepada saya dengan aksen medoknya.
Kilas Balik dan Sebuah Renungan

Pelabuhan Tanjung Priok, 27 Januari 2019. Saya duduk merasakan resah mengingat apa yang sudah dihasilkan dari keringat mengangkat barang dengan berat hampir 50 kg lebih. Kadang saya diberi upah seratus ribu, kalau lagi banyak bisa sampai dapat Rp150 ribu.
Semua keluh yang dirasakan saat ini bukan tentang nominal, saya sedang mempertanyakan ke mana orang-orang yang sudah ditolong dan mengiba di hadapan saya.
Pikiran ini membawa saya pada petuah pak Sariman di suatu siang. Entah kenapa ia selalu ceramah ketika saya sedang seorang diri. Benar memang, apa yang diucapkanya, ia datang dengan tiba-tiba lalu bilang, “udah gausah dipikirin, akui aja itu kesalahan”.
Saya bukannya menyimak obrolan bapak separuh baya itu, malah sebaliknya, menanggapi dengan banyak anggukan, masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.
Saya sedang merenungi orang-orang yang sudah dikasihani, masalahnya bukan tidak ikhlas. Tapi, orang yang sudah berani berbuat baik akan berkurang. Mereka akan belajar dari pengalaman supaya tidak terulang. Maaf jika saya mengatakan lebih baik menolong hewan yang kelaparan dari pada mengalami hal semacam ini.
Keluarga, Sumber Energi Saya
Keadaan semakin berat. Saya jadi teringat sebuah kutipan drama Hippolytus karya Euripides pada 428 SM,
“Hanya ada satu yang bisa selamat dari segala cobaan kehidupan—-sebuah kesadaran yang hening”
Saya berasal dari keluarga yang terjerat banyak utang. Ibu sedang berjuang melawan penyakit kistanya. Harus dioperasi dan melunasi semua utang dalam waktu bersamaan. Satu lagi penyakit ibu yang selalu jadi lamunan sepanjang hidupnya, ia ingin punya rumah sendiri.
Keadaan itu yang melatarbelakangi saya berkelana menuju Papua. Berangkat dari rumah hanya dibekali Rp70 ribu, saat itu. Beberapa mie instan dan termos botol yang sudah tidak mampu menahan air tetap panas.
Saya berangkat bermodalkan tekad dan niat. Semua untuk keluarga, ingin memperbaiki keadaan dan jadi tumpuan satu-satunya bagi mereka. Saya anak tunggal, sedari kecil dibesarkan dari pertengkaran orangtua. Kadang sering jadi sasaran empuk dan pelampiasan emosi mereka.
Karena inilah, sulit bagi saya memaknai kata ikhlas. Merelakan, atau bepikir ‘sudahlah yang sudah mah sudah’. Bagi siapa pun, jika kebutuhan primer seperti kesehatan batin, rumah sendiri dan kebutuhan makan sehari-hari belum terpenuhi, dapat dipastikan orang tersebut akan sama seperti saya dalam menyikapi kata ikhlas.
Berbeda ketika kata ikhlas menimpa orang yang sudah tercukupi kebutuhan hidupnya. Mereka tidak akan terlalu mempermasalahkan ketika orang yang sudah ditolongnya tidak memberi kabar. Dapat lebih bijaksana menanggapi situasi dan kondisi seperti yang saya alami.
Saya sudah sebulan lebih tidur di pelabuhan Tanjung Priok. Beralaskan tikar dengan biaya keseharian yang tidak murah. Rp50 ribu sehari untuk makan 2 kali sudah termasuk rokok dan kopi.
Bisa dibilang paling irit. Coba bayangin, kalian sanggup menjalani pilihan hidup seperti ini?
Kapal Harapan Sandar di Pelabuhan
Sore ini saya tersadar dari lamunan, ketika mendengar kabar kapal KM Gunung Dempo tujuan Sorong beberapa jam lagi akan sandar. Saya merasa resah sekaligus bahagia. Bercampur aduk.
Mencegah semuanya jadi tambah parah. Saya berputar-putar di halaman pelabuhan Tanjung Priok yang ditumpahi orang-orang yang datang untuk pergi ke berbagai tujuan. Batam, Makassar, Papua, Tanjung Pinang dan Kupang.
Beberapa hari ke belakang tidak ada kapal yang sandar. Tiba-tiba ada 2 kapal sandar, KM Umsini dan KM Kelud. KM Umsini berangkat, disusul kemudian KM Kelud. Pukul 21.00 WIB kapal KM Gunung Dempo tujuan Sorong sandar, saya bersiap di bawah tangga, tempat para penumpang turun dari kapal.
Saya bersama TKBM, Asmoro, dan sekuriti membantu ABK mendorong tangga beroda hingga tepat di pintu keluar kapal. Saat pintu kapal dibuka, tangga sudah terpasang. Para buruh dan pedagang berkerumun memadati tangga. Saling berdempetan.
Polisi dan sekuriti kewalahan tiap momen ini tiba. Para buruh jasa angkat barang berebut memasuki kapal, siapa cepat tiba di atas kapal, kesempatan dapat barang untuk diangkat jadi lebih besar. Urusan siapa yang mengangkatnya, TKBM selalu memanfaatkan para Asmoro.
Malang, malam ini saya tidak dapat barang dari penumpang. Hanya mondar-mandir di atas kapal, sambil termenung. Memperhatikan pemandangan buruh berlalu-lalang membawa barang.
Sampai penglihatan saya fokus pada kawan yang membawa barang dengan diikuti si Bos (Bang Bogem) di belakangnya. Bang Bogem tereak ke arah saya, “gondrong lagi ngapain kamu di sana, cepetan ke deck 3 depan, angkat barangnya pak Haji!”. Seketika itu saya langsung mengikuti arahannya. Barang Pak Haji kami angkat berlima, upah Rp200 ribu dibagi rata.
Saya meninggalkan kerumunan di halaman pelabuhan Tanjung Priok, lalu menuju warung, pesan kopi, dan sebatang rokok dengan harga Rp5 ribu. Harga ini termasuk murah, karena saya sudah dianggap bagian dari masyarakat pelabuhan. Beda kalau penumpang biasa yang beli.
Saya duduk di warung sambil menghisap rokok, lelah larut dalam segelas kopi hitam. Memandangi kerumunan orang-orang menambah kenikmatan malam terakhir saya di pelabuhan.
Kegilaan yang Saya Pilih
Renungan membawa saya pada sebuah rencana. Menerobos masuk kapal KM Gunung Dempo tujuan Sorong tanpa tiket. Otak rewel dan ide gila ini tidak pantas ditiru. Saya siap dengan semua konsekuensinya.
Saya hafal tiap sudut kapal saat jadi Asmoro, tempat-tempat tersembunyi yang memungkinkan tidak ketahuan. Pikir saya, masalah paling besar adalah urusan perut. Makan selama perjalanan di atas kapal. Uang di dompet cuma ada Rp350 ribu.
Dalam hening, saya mencoba mengingat apa saja yang dilakukan selama di Pelabuhan Penumpang Tanjung Priok. Kerasnya perkerjaan untuk mendapatkan uang jadi pengalaman yang menguras emosi. Kadang pikiran jahat terbesit. Batasannya, mampu menyadari setiap perbuatan yang saya lakukan.
Kontemplasi ini mengantarkan saya pada sebuah hikmah:
“Ingat selalu kepada apa yang kalian usahakan, dan tetaplah menjaga akhlakul karimah pada setiap orang yang telah membantumu, untuk sampai pada tujuan muliamu.
Tetap tenang dengan segala kemungkinan. Bersiaplah untuk tantangan dan cobaan yang tidak terprediksi. Memang seperti itulah hidup. Di dunia nyata, hukum karma berlaku”
Ini Sudah Jalannya
Pada 8 Februari 2019, Saya memilih jalan pintas. Bertekad menerobos masuk KM Gunung Dempo dari Pelabuhan Tanjung Priok tujuan Sorong, Papua Barat. Kapal berlabuh pada tanggal 9 Februari 2019, pukul 03.00 WIB. Keputusan ini tidak pantas ditiru. Bukan menyerah pada keadaan, tapi mengikuti intuisi dan kata hati.
Keputusan yang saya ambil ini, bukan tanpa alasan. Pemikiran inilah yang mendasarinya:
“Pertama, terlalu lama di tempat persinggahan, kurang tepat bagi pengelana yang pencari pengalaman”
“Kedua, memudarnya tujuan, terlalu lama singgah di pelabuhan memicu lahirnya berbagai pikiran negatif. Terlalu banyak yang menanyakan maksud dan tujuan juga mengganggu kenyamanan”
“Ketiga, Pelabuhan adalah tempat yang tidak mudah diprediksi. Tidak ada angka pasti untuk biaya hidup sehari-hari. Menolong orang saja dapat teguran,baik dan buruk jadi samar, ini sudah tidak sehat. Buta sudut pandang. Orang jadi terlampau sensitif, apalagi kalau sudah menyangkut uang”
Malam pekat tanpa sekat. Menikmati hari terakhir, memutar waktu, kilas balik kembali ke awal, saat tiba di Pelabuhan. Rebah beralaskan tikar, di bawah atap posko pelayanan penukaran tiket bertuliskan “Lantai Dua Penumpang dan Kafetaria”. Tidak pernah terpikir sebelumnya, saya meninggalkan goresan sejarah di pelabuhan ini.
Akhir Perjuangan di Pelabuhan Tanjung Priok
Posisi KM Gunung Dempo tujuan Sorong berada dibelakang KM Kelud yang sandar di hari sebelumnya. Ini membuat jaraknya jadi terlalu jauh untuk para buruh pengangkut barang.
Sambil melanjutkan pekerjaan mengangkat barang ke atas kapal, saya terus berpikir, mencari cara bagaimana tas ransel saya bisa lolos di pintu pelayanan embarkasi. Informasi yang saya dapat, KM Gunung Dempo tujuan Sorong ini tinggal 1x trip lagi.
Setelah ini KM Gunung Dempo dalam keadaan wet dock (diperbaiki) seperti kapal tujuan Papua lainya yang sudah wet dock duluan. Artinya, saya harus menunggu lebih lama lagi. Entah sampai kapan. Ini kesempatan terakhir saya.
Naas, barang yang harus dinaikan malam ini lumayan banyak, menguras keringat, tenaga dan emosi. Tiket kapal Pelni belum terbeli. Secepatnya saya harus mengambil keputusan. Sambil menaikkan barang, saya akan ikut berlayar tanpa tiket dan harus malam ini. Malam ini!
Teman sesama buruh tidak boleh tahu soal keputusan saya ini, mereka tidak akan setuju. Benak saya, jangan sampai telinga ini mendengar tanggapan mereka. Saya ingin menghindar dari prasangka buruk.
Selamat Jalan, Pelabuhan Tanjung Priok, Saya Menuju Sorong
Sampailah tangan ini pada salam perpisahan. Tidak semua kawan yang saya kenal melepas keberangkatan saya. Ibu kantin, penjual tikar, tukang ojek, penjaga WC, dan masih banyak lagi yang tidak mampu saya jabati tangannya, karena sedang tertidur pulas.
Sirine kapal sudah dua kali dibunyikan, tangga kapal sebentar lagi ditarik. Saya mengikuti Jhon dari belakang sesuai arahan, kemudian menunggu di lantai dua pelabuhan.
John menuruni tangga arah kanan berbentuk huruf “T” menuju petugas pemeriksaan tiket, hanya berjarak 5 meter dari tempat saya menunggu. Jarak yang menentukan takdir, apakah saya bisa ikut berlayar atau menunggu entah sampai kapan.
Saya memperhatikan semua gerak-gerik Jhon sampai di tempat pengecekan tiket. Dari tempat saya menunggu, terlihat dua orang petugas sedang memeriksa barang dan seorang sekuriti.
Jhon membawakan tas ransel saya di pundaknya sambil terus berjalan menuju pintu masuk pemeriksaan barang, ia menyapa petugas jaga, “pak”, lalu dibalas dengan sedikit anggukan.
John bukan orang asing di Pelabuhan Penumpang Tanjung Priok, hampir semua masyarakat pelabuhan mengenalnya, termasuk petugas dan para ABK. Ia juga anak buah Bang Bogem, Bos Boneka yang memberi saya arahan untuk bisa masuk KM Gunung Dempo tujuan Sorong.
Pesannya kepada saya, saat berpamitan:
“Kalau ada petugas embarkasi nanya ini tas siapa, tinggal bilang punya ABK, Ikutin John kalo udah masuk ruang X-ray”.
Tidak lama kemudian, saya lari mengikuti Jhon memasuki ruang X-Ray. Memberi anggukan sopan kepada petugas pemeriksa tiket, tanpa dicurigai sama sekali, mungkin petugas berpikir saya adalah Asmoro.
“Baru kali ini setelah lebih dari sebulan, saya merasa beruntung pernah jadi Asmoro. Seketika semua lelah saya hilang. Perjuangan tidak pernah sia-sia”
Senangnya minta ampun, saya lekas berlari memasuki kapal. Tangga Kapal ditarik keatas, tanda kapal siap berangkat.
Di atas kapal, John mengenalkan saya pada seorang ABK yang sebelumnya dimintai tolong oleh Bang Bogem (Bos Boneka). ABK itu menyarankan, “cari tempat tidur di deck 4 kanan, langsung istirahat, terus kabarin posisi nomor tempat tidur”, ujarnya.
Selanjutnya Baca: Saya Dengdong di Kapal KM Gunung Dempo (Bag IV)




























Discussion about this post