• ABOUT US
  • PRIVACY POLICY
  • TERM OF USE
  • DISCLAIMER
  • HUBUNGI KAMI
  • SITEMAP
Sabtu, 13 Juni 2026
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
  • Login
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
Kelana Nusantara
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
  • Login
No Result
View All Result
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
Satu Minggu Berkelana di Kota Sorong (Bag VI)

Legenda Singa dan Suku Dayak Tahol

Nasi Mandhi Sapi Asap Pertama di Bandung

Satu Minggu Berkelana di Kota Sorong (Bag VI)

Mengenal Suku Bugis di Kota Sorong

Deni Rajid by Deni Rajid
1 Mei, 2020
in Kelana, ZZ Slider Utama
209 3
0
Share on Facebook

Baca jugaArtikel :

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

Sebelumnya Baca: Kapal Sandar di Sorong, 13 Februari 2019 (Bag V)

Bang Gunawan, tidak mungkin saya melupakan jasanya. Pemuda tangguh dari suku Bugis yang memiliki garis keturunan pelaut. Berbeda dengan para leluhurnya, profesi pelaut tidak ia geluti.

Ia lebih memilih pekerjaan sebagai supir truk. Beragam pekerjaan sudah dicobanya. Tapi jiwanya tetap mengatakan bahwa ia adalah sopir truk lintas kabupaten. Mensuplai logistik ke pelosok-pelosok Sorong untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, demi keberlangsungan hidup.

Kisah Bang Gunawan, Supir Truk Lintas Kabupaten

Bang Gunawan pernah bercerita tentang pekerjaannya. Berkeliling mengantar barang ke kios-kios yang ada di pelosok kabupaten Sorong maupun daerah pemekaran Sorong. Muatan barang yang diangkut truknya adalah bahan makanan, BBM (Bahan Bakar Minyak) untuk memasak dan kebutuhan pokok lainya. Bahan-bahan ini, tentu saja berasal dari luar Provinsi Papua Barat.

Ketika itu cuaca malam sedang tidak bersahabat, bahkan rembulan dan kedipan cahaya kecil di atas langit tak sedikit pun memancarkan terangnya.

Sore itu, ia dihadapkan pada dua pilihan. Lanjut pulang atau bermalam di jalan sisi hutan belantara.

Bang gunawan sempat berhenti sebentar untuk mencari sinyal. Ia sudah paham titik-titik yang berpotensi memiliki sinyal. Sepanjang jalan mulai dari memasuki jalur pegunungan, hutan hingga di pesisir.

Ketika itu hujan membasahi jalanan, Bang Gunawan memanfaatkan sinyal dengan baik untuk menghubungi rekannya, seorang pengusaha kayu. Semua rekanan ia hubungi, tidak menyerah sampai dapat muatan.

Tidur di Sisi Jalan Hutan Belantara Sorong

Petualangan Bersama Bang Gunawan © Deni Rajid/Kelananusantara

Bang Gunawan berbagi sedikit pengalamannya ke saya, suatu hari ketika dalam kondisi tidak ada muatan, ditambah hujan tak juga reda dan jalanan licin kadang ia bisa sampai tidur di jalan.

Pengalaman itu juga pernah saya alami, tidur di sisi jalan hutan belantara Sorong, di dalam truk miliknya. Ketika itu kami sedang mencari lokasi muatan kayu, tapi tidak kunjung dapat kabar. Kelelahan, ngantuk berat, lalu memutuskan istirahat dan meneruskan perjalanan saat subuh tiba.

Besoknya, kami baru tiba di tempat pemotongan kayu siang hari. Setibanya di lokasi, Bang Gunawan langsung menyusun kayu, membuat api, lalu menyeduh kopi. Lokasi ini jauh dari jalanan utama, terletak di dalam perkampungan, melewati jalan sepetak. Masuk ke dalam terhalang oleh ranting-ranting. Kondisi jalan beberapa ratus meter selanjutnya berlantaikan papan, beratapkan dedaunan.

Jalan papan ini dipakai kendaraan roda dua untuk mengangkut kayu yang sudah jadi papan atau plafon. Kayu diangkut dari atas gunung hingga sampai di dekat jalan raya perkampungan.

Bang Gun cerita tentang orang-orang dari kampungnya yang banyak bekerja di perusahaan kayu, ada yang kerja di perusahaan berlegalitas resmi ada juga yang ilegal.

Pernah juga Bang Gunawan mengeluh tentang sulitnya jadi supir truk di Sorong. Harus bisa memutar otak. Kadang kalau sudah sepakat mengambil orderan di kota. Mau gak mau truk harus diisi muatan agar pulang tidak kosong.

Kerja Bersama Bang Gunawan © Deni Rajid/Kelananusantara

Bersamanya selama seminggu, kami pulang pergi kota Sorong – Tambrauw Sausapor. Melewati Jalan Nasional Sorong – Makbon – Mega, jalur logistik untuk mendukung kawasan di lintas utara Kabupaten Tambrauw. Sampai ke pelosok-pelosok yang tidak saya ingat detail nama-nama kampungnya. Suku Moi, itu yang saya ingat ketika berbincang bersama mereka.

Di akhir pekan saya ikut bersama Bang Gun menjauhi kota Sorong, membantu mengantar bahan makanan. Posisi waktu itu sudah terlanjur ada di Tambrauw, sedangkan 2 hari ke depan kapal tujuan Timika akan sandar.

Awal Perkenalan dengan Bang Gunawan

Pelabuhan Sorong © Deni Rajid/Kelananusantara

23 Februari 2019, tepat pukul 08.30 WIT. Sepulang dari Tambrauw, tiba waktunya saya pamit ke Bang Gunawan. Saya masih ingat bagaimana awal uluran tangan dan pertolongan tanpa pikir panjang darinya.

Ketika itu di pelabuhan Sorong, 1 jam setelah mondar-mandir menanyakan info. Saya baru tahu kalau pelabuhan ini tidak dibolehkan menginap, berbeda dengan Tanjung Priok.

Dibolehkan, tapi hanya sehari saja, itupun di luar gedung, di pelataran teras. Tidur bersama pemuda-pemuda yang terkenal brutal jika sedang minum-minum dan sering ada kejadian pemalsuan tiket.

KM Gunung Dempo yang saya naiki adalah kapal terakhir yang sandar. Di pelabuhan Sorong, selesai petugas melayani penumpang, seluruh akses gedung dan gerbang langsung dikunci. Ini karena sedikitnya lalu lintas kapal di pelabuhan ini. Informasi ini saya dapat dari Kapospol (Kepala Pos Polisi) pelabuhan.

Di halaman pelabuhan dekat dermaga, ketika itu ramai dipenuhi penumpang yang pulang dari Makassar, Surabaya, Jakarta. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Kapospol saya memberanikan diri menegur salah seorang ibu yang duduk di samping saya.

Ibu ini terlihat menunggu pelayanan tiket dibuka untuk naik kapal KM Dobonsolo tujuan Makassar. Ibu inilah yang mengawali perkenalan saya dengan Abang Gunawan.

Malam itu, setelah menceritakan semua kondisi saya. Ia langsung memanggil putrinya. Sontak putrinya ini berteriak ke arah keramaian, “di sini ada orang dari suku Sunda, atau ada yang tau orang-orang dari suku Sunda yang tinggal di dekat-dekat sini?”, teriak kakak perempuan berhijab hitam ini. Canda tawa kerumunan orang-orang di beranda pelabuhan, berlatar sisi lautan gelap, teralihkan.

Mengantar Keberangkatan Ibu

Keramaian Pelabuhan Sorong © Deni Rajid/Kelananusantara

Kakak ini kemudian manggil-manggil seseorang yang belakangan saya kenal bernama Gunawan. Ia bertanya ke saya, “tujuannya di Sorong mau kemana?“, “saya mau ke Timika bang, tapi kapal tujuan ke sana sedang Wet Dock, pekerja Pelni bilang, baru minggu depan bisa beroperasi kembali”, ujar saya.

“Sudah ikut saya dulu, ini kota Sorong!”, jawabnya dengan tegas.

Tanpa banyak pikir, saya mengiakan tawarannya dengan mengubur dalam-dalam kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Singkat cerita selama 2 jam setelah antrian panjang. saya ikut mengantar dan membawakan barang bawaan keluarga ibu Bang Gunawan ke tangga kapal.

Antrian panjang membuat para penumpang tidak sabar, sedangkan kapal sandar sudah satu jam lebih. Keramaian pecah ketika ada satu penumpang masuk menerobos gerbang pagar samping untuk sesegera mungkin masuk kapal.

Kebetulan hanya kita yang melihat kejadian itu. Bang Gun lalu mengambil koper dan barang lainya, dimasukan ke lubang pagar yang muat untuk satu orang. Ia masuk lalu diikuti oleh ibunya.

Kejadian ini langsung diketahui oleh petugas karena banyak penumpang yang berlarian ke arah sana. Butuh waktu sebentar saja bagi petugas meredam penumpang yang membludak. Akhirnya karena tidak bisa diperingatkan dan penumpang sudah saling dorong, pintu gerbang dibuka oleh petugas.

Setelah Ibu Bang Gun sudah di dalam kapal, bunyi terompet dibunyikan 3 kali. Saya, Bang Gun, Firman, Nita, dan gondrong meninggalkan pelabuhan menuju jalan raya untuk carter taksi (sebutan angkutan umum di Papua). Sedangkan Godek dan istrinya pulang dengan kendaraan roda dua.

Bekal Pengetahuan Tentang Kota Sorong

Kami tiba di kontrakan sekitar pukul 23.00 WIT, saya dipersilakan masuk ke dalam lalu ditunjukkan arah kamar mandi oleh Bang Gun.

Selesai membersihkan diri, saya cerita-cerita pengalaman di perjalanan. Di tengah perbincangan saya kehabisan rokok, lalu bertanya lokasi kios terdekat, kios-kios sudah tutup di sekitaran sini, paparnya.

Malam itu juga Bang Gun sudah siap dengan pekerjaanya menurunkan kayu. Kemudian ia tanya, “ayo mau ikut tidak?”, ujarnya. “Ayo, boleh bang sekalian beli Rokok?, “sudah ikut saja biar tau jalanan di Sorong”, ujarnya dengan nada khas Makassar.

Saya jalan ke arah truk yang diparkir depan halaman kontrakan. Kami naik ke dalam truk yang usianya sudah tua. Saya duduk di kursi tengah, Bang Gun di samping kiri, dan Firman pegang kemudi.

Sepanjang jalan, saya dikenalkan nama-nama jalan. Mulai dari keluar gang kontrakan sampai ke perempatan kios Kilo 10. Patokan menuju ke kontrakan.

Di kiri kanan jalan berjejer kios dan pangkalan ojek. Setengah kilometer dari sana sampailah di simpang Lima Supra. Di tempat ini Bang Gunawan mengingatkan untuk berhati-hati.

“Malam-malam di sini suka ada saja yang malak. Jalur ini menghubungkan lintas pelosok-pelosok hingga menuju kota Sorong. Total ada lima jalur terusan”, ujarnya.

Bang Gunawan dan Suku Bugis di Kota Sorong

Firman mengambil jalan lurus membawa kami ke lampu merah perempatan, jalur utama menuju terminal dan pelabuhan. Malam itu gerimis, kami putar-putar mencari alamat pembeli kayu. Setelah 30 menit, akhirnya kami sampai di lokasi toko material kayu, letaknya bersebelahan dengan pom bensin.

Pemilik toko material kayu ini ternyata juga berasal dari suku Bugis, karyawannya juga dari suku yang sama, saya tahu setelah bertanya ke Bang Gunawan. Setelah memuat kayu, kami kembali pulang ke kontrakan dengan jalur berbeda dari sebelumnya. Kali ini truk dibawa masuk ke pemukiman warga dan lapangan alun-alun yang sedang dalam proses pembenahan.

Selama perjalanan saya tidak banyak bicara, karena percakapan mereka menggunakan bahasa daerah. Tapi disela-sela percakapan, Abang selalu mengingatkan saya tiap melewati jalanan yang cukup rawan. Termasuk di kilometer 10 tempat kami berhenti untuk beli nasi kuning dan beli Rokok.

Waktu menunjukan pukul 01.30 WIT, kami tiba di kontrakan yang hanya punya satu kamar tidur, satu wc, satu dapur dan satu ruang depan tempat berkumpul. Di ruang depan ini Abang menggelar nasi kuning untuk dimakan bersama.

Kontrakan ini ditempati oleh 4 orang, tambah satu orang istri Godek, mereka pengantin baru. Setelah selesai makan dan ngobrol-ngobrol, saya diizinkan istirahat.

Waktu hampir subuh dan besok Abang harus mengantarkan muatan barang. Saya diizinkan tidur di ruang depan bersama pengantin yang baru 2 hari tinggal bersama Bang Gun.

Selanjutnya Baca: Berlayar dari Sorong Menuju Timika (Bag VII)

Tags: kelananusantarakota sorongpelabuhan sorongsuku bugis
Share218Tweet73Pin26SendShareSend
Previous Post

Legenda Singa dan Suku Dayak Tahol

Next Post

Nasi Mandhi Sapi Asap Pertama di Bandung

Deni Rajid

Deni Rajid

Saya bagian dari alumnus Seni musik tradisional, Sejarah, hingga menggauli backpacker writing story without money.

Related Posts

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!
Acara

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
111
Kelana

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
132
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah
Sosok

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
243
Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang
Kelana

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

16 Oktober, 2023
171
Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan
Akomodasi

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

3 Februari, 2022
347
Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu
Budaya

Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu

1 Februari, 2022
993

Discussion about this post

Artikel Terpopuler

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

26 Februari, 2020
15.9k
Perempuan dan Fotografi

Perempuan dan Fotografi

23 April, 2020
561
Mengenal Upacara Pernikahan Bangsawan Majapahit

Mengenal Upacara Pernikahan Bangsawan Majapahit

23 Februari, 2020
1.8k
Mengapa Orang Sunda Malas?

Mengapa Orang Sunda Malas?

15 Mei, 2020
11.3k
Warisan Keluarga Schumtzer di Ganjuran, Yogyakarta

Warisan Keluarga Schumtzer di Ganjuran, Yogyakarta

14 September, 2020
3.1k
Jalan ABC, Memasuki Sudut Sejarah Perdagangan Kota Bandung

Jalan ABC, Memasuki Sudut Sejarah Perdagangan Kota Bandung

14 September, 2020
2.5k

Rekomendasi Kelana

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

2 Mei, 2025
211
Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
111

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
132
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
243
Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

16 Oktober, 2023
171
Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

21 September, 2023
131

Yuk Ikuti Kelana Nusantara!

  • Setiap jejak yang kita ingat  mengandung mineral-mineral lautan yang kita kecap    sumbawa  sumbawaisland  rumputlaut  kelananusantara
  • Saat ini kita buka program magang untuk siapa saja  sebab Kelana Nusantara kini hadir dengan wajah baru  Saat ini kita membutuhkan ide dan pemikiran kalian untuk dituangkan disini  khususnya di bidang media digital   Join with us   untuk form sudah tertera di bio  Selamat berpetualang
  • Penayangan perdana Demon Slayer  Entertainment District Arc menuai protes dari fans dengan Tengen Uzui salah satu protaganisnya disebut melakukan poligami   Demon Slayer  Entertainment District Arc memperkenalkan Tengen Uzui  seorang Hashira  mentor selanjutnya Tanjiro Kamado  mantan ninja yang memiliki 3 istri   Tengen Uzui hadir dengan segala pesona  mengakui dirinya pribadi yang selama hidupnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Nusa Penida kerap menjadi destinasi untuk dikunjungi wisatawan yang memiki hobi diving   Sahabat Kelana yang penasaran dengan eksotika keindahan bawah laut Nusa Penida tentu harus menyiapkan budget khusus    Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Kehadiran moda transportasi darat  dalam hal ini kereta api trem uap di Demak tidak lepas dari meningkatnya arus perdagangan antara Eropa dan Hindia-Belanda   Terutama setelah pembukaan Terusan Suez pada 1869   Investasi asing kemudian  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sebenarnya uang yang dihabiskan dunia untuk persenjataan militer dan perang dalam satu minggu cukup untuk memberi  makanan  seluruh manusia di bumi dalam setahun   Fakta yang mencengangkan  memang  sementara perang terus dilangsungkan tanpa jelas ujungnya  di pelosok dunia  miliunan manusia meringkih bertahan hidup dalam kelaparan   Tapi  bisakah makanan menjadi penopang basis perubahan   Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sahabat Kelana  perlu diketahui sebelum mengulas 5 rekomendasi villa bambu terbaik untuk Honeymoon asik di Bali   Pemerintah saat ini memberlakukan pembatasan perjalanan bagi wisatawan asing  sebagai reaksi munculnya varian Covid-19 B 1 1 529  Omicron   Hongkong dan beberapa negara Afrika      Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Anantha Wijayanto salah satu pegiat kaktus asal Bali berbagi tips bikin Green House kaktus rumahan dengan budget Rp500 ribu   Idealnya  setiap tanaman khususnya kaktus disarankan memiliki naungan  untuk menjaga stabilitas suhu dan kelembapan udara   Meski kaktus memiliki habitat asli di gurun  namun  ada pertimbangan tanaman ini umumnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Mang Eden salah satu petani kaktus terbesar di Lembang berbagi cara grafting kaktus yang benar   Tim redaksi Kelananusantara  beberapa waktu yang lalu  mengunjungi Kampung Cicalung Desa Wangunharja  Kecamatan Lembang  Kabupaten Bandung Barat   Lokasi ini berdekatan dengan destinasi wisata yang cukup terkenal     Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
Facebook Twitter Instagram

Bekal Petualanganmu

Iwakmedia Digital Indonesia

Iwakmedia Workshop II
Ruko Jatimurni, Jl Jatimurni No. 2.
Jatipadang, Pasar Minggu.
Kode Pos 12540. (+6221) 780 8020.
Jakarta - Indonesia
Basecamp Kelana Nusantara
Jl. Mentor, Gg Dakota, RT.01/RW.05
Sukaraja, Cicendo.
Kode Pos 40175.
Kota Bandung - Indonesia

Tentang Kelana Nusantara

  • About Us
  • Privacy Policy
  • Term Of Use
  • Disclaimer
  • CONTACT US

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

No Result
View All Result
  • About Us
  • Term Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Sitemap
  • Kelana
  • Sosok
  • Akomodasi
  • Budaya
  • Kuliner
  • Hipotesa
  • Acara
  • Login

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Cookie settingsACCEPT
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary Always Enabled

Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.

Non-necessary

Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.

Add New Playlist