Sebelumnya Baca: Kapal Sandar di Sorong, 13 Februari 2019 (Bag V)
Bang Gunawan, tidak mungkin saya melupakan jasanya. Pemuda tangguh dari suku Bugis yang memiliki garis keturunan pelaut. Berbeda dengan para leluhurnya, profesi pelaut tidak ia geluti.
Ia lebih memilih pekerjaan sebagai supir truk. Beragam pekerjaan sudah dicobanya. Tapi jiwanya tetap mengatakan bahwa ia adalah sopir truk lintas kabupaten. Mensuplai logistik ke pelosok-pelosok Sorong untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, demi keberlangsungan hidup.
Kisah Bang Gunawan, Supir Truk Lintas Kabupaten
Bang Gunawan pernah bercerita tentang pekerjaannya. Berkeliling mengantar barang ke kios-kios yang ada di pelosok kabupaten Sorong maupun daerah pemekaran Sorong. Muatan barang yang diangkut truknya adalah bahan makanan, BBM (Bahan Bakar Minyak) untuk memasak dan kebutuhan pokok lainya. Bahan-bahan ini, tentu saja berasal dari luar Provinsi Papua Barat.
Ketika itu cuaca malam sedang tidak bersahabat, bahkan rembulan dan kedipan cahaya kecil di atas langit tak sedikit pun memancarkan terangnya.
Sore itu, ia dihadapkan pada dua pilihan. Lanjut pulang atau bermalam di jalan sisi hutan belantara.
Bang gunawan sempat berhenti sebentar untuk mencari sinyal. Ia sudah paham titik-titik yang berpotensi memiliki sinyal. Sepanjang jalan mulai dari memasuki jalur pegunungan, hutan hingga di pesisir.
Ketika itu hujan membasahi jalanan, Bang Gunawan memanfaatkan sinyal dengan baik untuk menghubungi rekannya, seorang pengusaha kayu. Semua rekanan ia hubungi, tidak menyerah sampai dapat muatan.
Tidur di Sisi Jalan Hutan Belantara Sorong

Bang Gunawan berbagi sedikit pengalamannya ke saya, suatu hari ketika dalam kondisi tidak ada muatan, ditambah hujan tak juga reda dan jalanan licin kadang ia bisa sampai tidur di jalan.
Pengalaman itu juga pernah saya alami, tidur di sisi jalan hutan belantara Sorong, di dalam truk miliknya. Ketika itu kami sedang mencari lokasi muatan kayu, tapi tidak kunjung dapat kabar. Kelelahan, ngantuk berat, lalu memutuskan istirahat dan meneruskan perjalanan saat subuh tiba.
Besoknya, kami baru tiba di tempat pemotongan kayu siang hari. Setibanya di lokasi, Bang Gunawan langsung menyusun kayu, membuat api, lalu menyeduh kopi. Lokasi ini jauh dari jalanan utama, terletak di dalam perkampungan, melewati jalan sepetak. Masuk ke dalam terhalang oleh ranting-ranting. Kondisi jalan beberapa ratus meter selanjutnya berlantaikan papan, beratapkan dedaunan.
Jalan papan ini dipakai kendaraan roda dua untuk mengangkut kayu yang sudah jadi papan atau plafon. Kayu diangkut dari atas gunung hingga sampai di dekat jalan raya perkampungan.
Bang Gun cerita tentang orang-orang dari kampungnya yang banyak bekerja di perusahaan kayu, ada yang kerja di perusahaan berlegalitas resmi ada juga yang ilegal.
Pernah juga Bang Gunawan mengeluh tentang sulitnya jadi supir truk di Sorong. Harus bisa memutar otak. Kadang kalau sudah sepakat mengambil orderan di kota. Mau gak mau truk harus diisi muatan agar pulang tidak kosong.

Bersamanya selama seminggu, kami pulang pergi kota Sorong – Tambrauw Sausapor. Melewati Jalan Nasional Sorong – Makbon – Mega, jalur logistik untuk mendukung kawasan di lintas utara Kabupaten Tambrauw. Sampai ke pelosok-pelosok yang tidak saya ingat detail nama-nama kampungnya. Suku Moi, itu yang saya ingat ketika berbincang bersama mereka.
Di akhir pekan saya ikut bersama Bang Gun menjauhi kota Sorong, membantu mengantar bahan makanan. Posisi waktu itu sudah terlanjur ada di Tambrauw, sedangkan 2 hari ke depan kapal tujuan Timika akan sandar.
Awal Perkenalan dengan Bang Gunawan

23 Februari 2019, tepat pukul 08.30 WIT. Sepulang dari Tambrauw, tiba waktunya saya pamit ke Bang Gunawan. Saya masih ingat bagaimana awal uluran tangan dan pertolongan tanpa pikir panjang darinya.
Ketika itu di pelabuhan Sorong, 1 jam setelah mondar-mandir menanyakan info. Saya baru tahu kalau pelabuhan ini tidak dibolehkan menginap, berbeda dengan Tanjung Priok.
Dibolehkan, tapi hanya sehari saja, itupun di luar gedung, di pelataran teras. Tidur bersama pemuda-pemuda yang terkenal brutal jika sedang minum-minum dan sering ada kejadian pemalsuan tiket.
KM Gunung Dempo yang saya naiki adalah kapal terakhir yang sandar. Di pelabuhan Sorong, selesai petugas melayani penumpang, seluruh akses gedung dan gerbang langsung dikunci. Ini karena sedikitnya lalu lintas kapal di pelabuhan ini. Informasi ini saya dapat dari Kapospol (Kepala Pos Polisi) pelabuhan.
Di halaman pelabuhan dekat dermaga, ketika itu ramai dipenuhi penumpang yang pulang dari Makassar, Surabaya, Jakarta. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Kapospol saya memberanikan diri menegur salah seorang ibu yang duduk di samping saya.
Ibu ini terlihat menunggu pelayanan tiket dibuka untuk naik kapal KM Dobonsolo tujuan Makassar. Ibu inilah yang mengawali perkenalan saya dengan Abang Gunawan.
Malam itu, setelah menceritakan semua kondisi saya. Ia langsung memanggil putrinya. Sontak putrinya ini berteriak ke arah keramaian, “di sini ada orang dari suku Sunda, atau ada yang tau orang-orang dari suku Sunda yang tinggal di dekat-dekat sini?”, teriak kakak perempuan berhijab hitam ini. Canda tawa kerumunan orang-orang di beranda pelabuhan, berlatar sisi lautan gelap, teralihkan.
Mengantar Keberangkatan Ibu

Kakak ini kemudian manggil-manggil seseorang yang belakangan saya kenal bernama Gunawan. Ia bertanya ke saya, “tujuannya di Sorong mau kemana?“, “saya mau ke Timika bang, tapi kapal tujuan ke sana sedang Wet Dock, pekerja Pelni bilang, baru minggu depan bisa beroperasi kembali”, ujar saya.
“Sudah ikut saya dulu, ini kota Sorong!”, jawabnya dengan tegas.
Tanpa banyak pikir, saya mengiakan tawarannya dengan mengubur dalam-dalam kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
Singkat cerita selama 2 jam setelah antrian panjang. saya ikut mengantar dan membawakan barang bawaan keluarga ibu Bang Gunawan ke tangga kapal.
Antrian panjang membuat para penumpang tidak sabar, sedangkan kapal sandar sudah satu jam lebih. Keramaian pecah ketika ada satu penumpang masuk menerobos gerbang pagar samping untuk sesegera mungkin masuk kapal.
Kebetulan hanya kita yang melihat kejadian itu. Bang Gun lalu mengambil koper dan barang lainya, dimasukan ke lubang pagar yang muat untuk satu orang. Ia masuk lalu diikuti oleh ibunya.
Kejadian ini langsung diketahui oleh petugas karena banyak penumpang yang berlarian ke arah sana. Butuh waktu sebentar saja bagi petugas meredam penumpang yang membludak. Akhirnya karena tidak bisa diperingatkan dan penumpang sudah saling dorong, pintu gerbang dibuka oleh petugas.
Setelah Ibu Bang Gun sudah di dalam kapal, bunyi terompet dibunyikan 3 kali. Saya, Bang Gun, Firman, Nita, dan gondrong meninggalkan pelabuhan menuju jalan raya untuk carter taksi (sebutan angkutan umum di Papua). Sedangkan Godek dan istrinya pulang dengan kendaraan roda dua.
Bekal Pengetahuan Tentang Kota Sorong
Kami tiba di kontrakan sekitar pukul 23.00 WIT, saya dipersilakan masuk ke dalam lalu ditunjukkan arah kamar mandi oleh Bang Gun.
Selesai membersihkan diri, saya cerita-cerita pengalaman di perjalanan. Di tengah perbincangan saya kehabisan rokok, lalu bertanya lokasi kios terdekat, kios-kios sudah tutup di sekitaran sini, paparnya.
Malam itu juga Bang Gun sudah siap dengan pekerjaanya menurunkan kayu. Kemudian ia tanya, “ayo mau ikut tidak?”, ujarnya. “Ayo, boleh bang sekalian beli Rokok?, “sudah ikut saja biar tau jalanan di Sorong”, ujarnya dengan nada khas Makassar.
Saya jalan ke arah truk yang diparkir depan halaman kontrakan. Kami naik ke dalam truk yang usianya sudah tua. Saya duduk di kursi tengah, Bang Gun di samping kiri, dan Firman pegang kemudi.
Sepanjang jalan, saya dikenalkan nama-nama jalan. Mulai dari keluar gang kontrakan sampai ke perempatan kios Kilo 10. Patokan menuju ke kontrakan.
Di kiri kanan jalan berjejer kios dan pangkalan ojek. Setengah kilometer dari sana sampailah di simpang Lima Supra. Di tempat ini Bang Gunawan mengingatkan untuk berhati-hati.
“Malam-malam di sini suka ada saja yang malak. Jalur ini menghubungkan lintas pelosok-pelosok hingga menuju kota Sorong. Total ada lima jalur terusan”, ujarnya.
Bang Gunawan dan Suku Bugis di Kota Sorong
Firman mengambil jalan lurus membawa kami ke lampu merah perempatan, jalur utama menuju terminal dan pelabuhan. Malam itu gerimis, kami putar-putar mencari alamat pembeli kayu. Setelah 30 menit, akhirnya kami sampai di lokasi toko material kayu, letaknya bersebelahan dengan pom bensin.
Pemilik toko material kayu ini ternyata juga berasal dari suku Bugis, karyawannya juga dari suku yang sama, saya tahu setelah bertanya ke Bang Gunawan. Setelah memuat kayu, kami kembali pulang ke kontrakan dengan jalur berbeda dari sebelumnya. Kali ini truk dibawa masuk ke pemukiman warga dan lapangan alun-alun yang sedang dalam proses pembenahan.
Selama perjalanan saya tidak banyak bicara, karena percakapan mereka menggunakan bahasa daerah. Tapi disela-sela percakapan, Abang selalu mengingatkan saya tiap melewati jalanan yang cukup rawan. Termasuk di kilometer 10 tempat kami berhenti untuk beli nasi kuning dan beli Rokok.
Waktu menunjukan pukul 01.30 WIT, kami tiba di kontrakan yang hanya punya satu kamar tidur, satu wc, satu dapur dan satu ruang depan tempat berkumpul. Di ruang depan ini Abang menggelar nasi kuning untuk dimakan bersama.
Kontrakan ini ditempati oleh 4 orang, tambah satu orang istri Godek, mereka pengantin baru. Setelah selesai makan dan ngobrol-ngobrol, saya diizinkan istirahat.
Waktu hampir subuh dan besok Abang harus mengantarkan muatan barang. Saya diizinkan tidur di ruang depan bersama pengantin yang baru 2 hari tinggal bersama Bang Gun.




























Discussion about this post