Sebelumnya Baca:Satu Minggu Berkelana di Kota Sorong (Bag VI)
Pagi itu saya harus berpisah dengan Bang Gunawan. Menyusuri gang yang sama seperti saat pertama kali tiba di kontrakan.
23 Februari 2019, saya seorang diri naik taksi dari Kilo 10 menuju pelabuhan Sorong, sedangkan Bang Gunawan melanjutkan pekerjaannya di hari yang bersamaan.
Sesampainya di pelabuhan saya langsung naik kapal KM Tatamailau tujuan Timika yang sudah sandar sebelum saya tiba. Saya langsung menuju deck 2. Di awal perjalanan selama di atas kapal saya tidak banyak berbaur, memilih melahap waktu bersama perbekalan novel hingga tertidur lelap.
Tidak lama kemudian, penumpang lain membangunkan saya, memberitahu kapal akan sandar di pelabuhan Fakfak dan akan ada pemeriksaan tiket. Saya menyiapkan tiket, tercatat sebagai penumpang dewasa Sorong-Kaimana deck 2 tanpa tempat duduk.
Perjalanan kali ini saya beli tiket hanya sampai Kaimana, seharga Rp240 ribu, karena uang saya tidak cukup untuk beli tiket langsung jurusan Sorong – Timika. Dari Kaimana saya bayar Rp100 ribu di atas kapal. Sisa uang lebihnya disimpan untuk jaga-jaga.
Kapal sandar di pelabuhan Fakfak selama sekitar 1 jam, sambil menunggu waktu, saya ke deck atas menuju kantin. Di sinilah saya bertemu dan kenal Pace Tinus. Di kantin ini kami mengunyah cerita bersama hangatnya kopi. Cerita tentang keberangkatannya ke Sorong bersama Ibunya dan tentang kakaknya, Pace Yan yang akan menjenguk di pelabuhan Kaimana.
Pace Yan, kakak kandung Pace Tinus, putra kedua Omah Teresia dari 6 bersaudara, tinggal dan mempersunting perempuan Kaimana.
Keluarga Omah termasuk keluarga besar, terlihat dari sanak serta kerabat yang menjenguk tiap kali KM Tatamailau sandar. Perjalanan dari Sorong – Timika kapal yang saya tumpangi sandar di empat pelabuhan. Pelabuhan Fakfak, Kaimana, Tual dan Timika.
Selalu ada canda dan tawa ketika melihat sanak saudara serta kerabat bergantian memeluk Omah. Omah Teresia memiliki keluarga di Fakfak, Kaimana, Tual dan Timika. Mereka menghampiri ketika kapal sandar, membawakan oleh-oleh dan makanan.
Keluarga-keluarga Omah sudah tahu makanan yang disediakan Pelni hanya alakadarnya, tanpa rasa, dan hambar. Selama perjalanan, saya belum pernah lihat Omah menukar tiket untuk mengambil jatah makan.
Berbincang dengan Pace Yan di Deck 2 KM Tatamailau
Saya mengenal lebih dekat Pace Yan ketika KM Tatamailau sandar di ‘Kota Senja’, pelabuhan Kaimana. Di deck 2 Pace Tinus mempertemukan kami.
Di tengah-tengah obrolan, Pace Yan mengatakan kalau ia memutuskan untuk ikut berlayar sampai Timika. Pace Yan menjelaskan awalnya tidak akan ikut ke Timika, tapi setelah bercakap lagi dengan Omah Teresia dan adik bungsunya. Ia memutuskan tidak ikut pulang bersama istrinya, tapi langsung lapor ke petugas Pelni membayar separuh tiket tujuan Timika.
Di Papua beli tiket di atas kapal sudah biasa, sering dilakukan masyarakat. Bahkan kalau lagi beruntung bisa sampai tidak keluar uang sepeserpun untuk tiket. Caranya? Gampang, cukup sembunyi saja. Kalau ketahuan? Tinggal kasih uang ke petugas sebagai jaminan aman, lalu petugas mencatat nama untuk pemeriksaan selanjutnya.
Informasi ini saya tahu, saat berada di Sorong dari penumpang lain di kapal. Kebiasan ini Ternyata jadi “sampingan” petugas pemeriksa tiket. Uang ini masuk ke kantong petugas. Sudah jadi tradisi.
Pace Yan kemudian meneruskan cerita, terakhir kali ke Timika 15 tahun yang lalu. Long Time Story. Inilah yang membuatnya penasaran ingin tahu perubahan kota Timika sekarang.
Pace Yan sedikit mengenang, dulu terakhir ke Timika untuk mengantar adiknya yang keempat, di hari pertama diterima kerja di PTFI. Sampai akhirnya, kini bekerja tetap di sana.
Selayang Pandang Tentang Papua
Malam ini kapal menuju pelabuhan Tual, Maluku. Ini pertama kalinya saya merasakan kepanikan berlayar di atas kapal. Ternyata bukan cuma saya, tapi penumpang lainya juga ada yang sampai tereak-tereak saat kapal diterjang-terjang arus dan ombak. Ngeri memang.
Saya kembali bercakap santai dengan Pace Yan, untuk mengalihkan buasnya terjangan lautan. Pace Yan cerita, saat ini tinggal dan menetap di Kaimana dengan pekerjaan barunya di pemerintahan. Pace membekali saya sedikit-sedikit wawasan tentang Papua.
Mulai dari awal mula kota-kota tua di Papua yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Sampai pada kota kabupaten yang sudah melalui tahap pemekaran.
Saya baru tahu, di kota Biak, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua ditemukan jejak sejarah peninggalan Perang Dunia II. Lalu ada sebuah Gua bernama Binsari yang dahulunya jadi tempat persembunyian tentara Jepang. Di gua ini terdapat bekas-bekas peninggalan tentara Jepang. Seperti peluru, mortir, helm perang, senjata api hingga tulang-belulang tentara Jepang yang gugur.
Saya jadi mengingat-ingat kembali ilmu Sejarah yang saya dapat di bangku kuliah. Pace menambahkan, sebelum bernama Jayapura, pada 7 Maret 1910 saat pertama kali Kapten Infanteri FJP Sascse mendarat di Teluk Youtefa, ibu kota Provinsi Papua pernah bernama Hollandia. Nama ini bertahan selama Belanda masih memerintah di wilayah Nederlands Nieuw Guinea (Papua) hingga 1963.
Pace juga menjelaskan, Kabupaten Sorong saja memiliki 30 distrik, di antaranya Aimas, Bagun, Beraur, Botain, Buk, Hobart dan lain-lain. Kemudian Kabupaten Fak Fak memiliki 17 distrik di antaranya Arguni, Bomberay, Fakfak, Fakfak Barat, Fakfak Tengah, Fakfak Timur, Furwagi, Karas, Kayuni dan lain lain.
Papua luar biasa luas, terkenal dengan kekayaan alam dan mineral di dalamnya. Kalau dibandingkan, luasnya setara dengan 3 kali lipat Pulau Jawa.
Pace Yan kemudian berterus terang tentang karakter orang-orang Papua yang rata-rata bersifat malas. Mereka maunya hanya duduk-duduk saja, foya-foya menghabiskan uang. Mayoritas dari mereka sudah banyak merasakan keluar dari Papua. Mengunjungi Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Makassar dan provinsi lainya. Di kota-kota inilah mereka menghabiskan uangnya.
Tetapi tidak semua, banyak juga yang merantau ke pulau lain untuk keperluan pendidikan. Melanjutkan ke jenjang ke perguruan tinggi.
Para Pendatang dari Luar Papua
Saya juga cerita, bayangan tentang Papua yang sangat jauh berbeda. Sebelum menginjakan kaki di tanah ini, saya pikir akan bertemu dengan banyak penduduk asli. Kenyataanya, baru masuk Sorong saja, saya sudah banyak bertemu pendatang. Di Sorong, suku Bugis, suku Sunda mereka kebanyakan tinggal di daerah yang disebut SP1 sampai SP4.
Sekilas saya pernah tahu, pada zaman Orba banyak berdatangan para transmigran, begitupun sebutan SP dikhususkan untuk wilayah tempat mereka tinggal. Malah orang asing dari Inggris baru-baru ini membuka lahan gas di Bintuni, ujar Pace Yan.
Sebenarnya keberadaan gas di Bintuni sudah diketahui sejak lama. Tapi, baru beberapa tahun ini diadakan prosedur melalui MoU, serta diadakan mediasi dengan suku-suku di sana. Mereka-mereka yang kena dampak langsung dari perusahaan.
Pace memberitahu salah satu isi yang tercantum di MoU adalah suku-suku di sana dibuatkan rumah dan mendapat sepersekian persen nominal uang per tahunnya oleh perusahaan.
Selain itu, harus ada suku asli yang bekerja di perusahaan tersebut. Serta menyekolahkan mereka yang bekerja di sana dengan maksud, kelak mereka mengerti mengenai seluk beluk mesin dan cara mengoperasikannya, jelas Pace Yan.
Di satu sisi saya senang mendengar kabar ini, di lain sisi ada rasa miris, jika sampai orang-orang Asing yang mengendalikan sepenuhnya lahan di Papua. Walau saya belum mengetahui detail informasinya.
Doa Saya untuk Kemajuan Papua
Saya berdoa dalam diam, berharap besar kepada mereka-mereka yang diberi biaya pendidikan oleh perusahan untuk dapat menguasai dan mengelola tanahnya sendiri.
Di Papua banyak sekolah-sekolah yang berdiri atas bantuan perusahaan-perusahaan. Pasalnya, Papua seperti yang sudah saya bilang, masih alami dengan banyaknya kekayaan alam yang dimiliki. Sedangkan penduduk asli masih sedikit, mereka tersebar di pelosok-pelosok.
Menurut pemikiran saya yang diperlukan saat ini adalah memberi pemahaman, sudut pandang, edukasi serta kepedulian lebih terhadap orang-orang Papua. Sehingga saling terjalin komunikasi antar suku yang ada di Nusantara.
Terakhir, tetap terus menjaga kelestarian alam. Pasalnya, kalau satu elemen saja seperti pariwisata dapat dikelola dengan baik. Hal ini akan jadi aset berharga bagi kemajuan bangsa.
Siapa yang tidak kenal Raja Ampat, destinasi wisata internasional, banyak wisatawan asing berdatangan, jumlahnya bahkan melebihi wisatawan lokal. Ahh, Raja Ampat, kapan bisa menginjakkan kaki di sana, Surga impian saya.
The Last Paradise, Raja Ampat, ini baru satu destinasi yang dikenal keindahannya, sedangkan masih banyak yang belum dikembangkan dan dikelola dengan maksimal seperti di Kaimana, Agas, Biak, dan lain-lain
Saya Tidak Menyangka, Selangkah Lagi Sampai Timika
Pada 26 Februari 2019, saya tiba di tempat yang dulu sebatas angan di kepala. Masih merasa tidak mungkin bisa menginjakan kaki di tanah ini.
Sepanjang perjalanan saya diantarkan oleh banyak doa dari setiap orang yang bertemu. Terutama restu kedua orang tua, kerabat dan kawan di Jatinangor. Tempat saya selalu memulai, ketika ingin melakukan perjalanan jarak jauh dan lama. Juga doa dari kawan-kawan di Jakarta, Depok, dan mereka yang bekerja di pelabuhan
Saat pamit, doa juga datang dari teman di berbagai kota di Indonesia. Mereka yang bertemu di pelabuhan, hendak pulang kampung ataupun merantau dengan menggunakan lajur transportasi laut.
Sepanjang perjalanan, setelah berlama-lama berbagi kisah dengan topik yang beragam. Setiap titik persinggahan siapapun saya jadikan kawan dan saudara.
Doa tersebut terkabul satu persatu mulai dari ketika menginjakkan kaki di Sorong pada 13 Februari 2019 dan sampai di Timika tujuan utama saya.
Selalu ada orang yang ramah kepada saya, mengasihi tumpangan tidur dan makan. Bahkan selama seminggu lebih sewaktu di Sorong. Doa-doa merekalah yang menepis anggapan secara logika nominal uang ini tidak cukup.
Saya tidak memandang perjalanan ini hanya sebatas nominal. Uang saya gunakan di saat sudah sangat dibutuhkan. Sisanya, memberanikan diri bersikap apa adanya




























Discussion about this post