Tahun 2019 lalu, seorang komika atau pelawak tunggal, Pandji Pragiwaksono digugat karena lawakannya. Garda Satwa Indonesia (GSI) mengirim surat gugatan kepada Pandji atas salah satu lawakan dalam Pandji Pragiwaksono World Tour.
Lalu apa yang membuat Garda Satwa Indonesia tersinggung? Jawabannya adalah kucing.
Pandji mengunggah penampilannya dalam Pandji Pragiwaksono World Tour ke channel Youtube pribadinya, dan hal tersebut yang membuat GSI tersinggung. Sebab, dalam salah satu lawakannya, Pandji menyatakan bahwa dia tidak menyukai kucing liar karena terkesan seperti hewan gembel.
Bukan hanya Pandji yang pernah mencicipi kritikan atas lawakannya, beberapa komika lain seperti Coki dan Muslim pun sempat mendapatkan kritikan hingga hujatan atas lawakannya.
Paling baru, lawakan Coki terkait banjir Jakarta tanggal 1 Januari 2020 dan lawakannya tentang virus corona yang diunggah di akun twitternya.
Menyimak banyaknya ketersinggungan terhadap sebuah lawakan atau komedi, hal yang menarik untuk dipertanyakan adalah apa sebenarnya komedi itu? Mengapa bisa membuat kita tertawa dan sekaligus tersinggung? Lalu, apakah ada batasannya?
Komoida: Sebuah Usaha Untuk Membuat Tertawa
Komedi lahir untuk menghibur, tujuan dan fungsinya jelas yaitu membuat tertawa. Awal kehadirannya, seseorang dikorbankan untuk menjadi bahan tertawa. Dalam buku Puitika karya Aristoteles, komedi, bersamaan dengan tragedi, merupakan sebuah genre pertunjukan pada masa Yunani kuno.
Komoida merupakan akar kata yang kemudian dikenal menjadi komedi, yang berarti sebuah usaha untuk membuat tertawa.
Tragedi menampilkan sesuatu yang serius, yang menelaah tentang keberadaan manusia, sedangkan komedi kebalikannya, menampilkan sesuatu yang konyol dan tolol.
Banyak logika-logika yang dipatahkan untuk menciptakan kelucuan. Namun, sesuatu yang konyol dan tolol tersebut, dapat juga memberikan kita cerminan untuk memaknai dunia.
Sesuatu harus dikorbankan untuk menciptakan hal lucu yang ditertawakan, sesuatu tersebut bisa apa saja. Bisa sebuah kejadian, sebuah benda, atau seseorang itu sendiri.
Dalam format grup lawak, selalu ada salah satu dari anggota yang menjadi korban. Semisal dalam grup lawak Warkop DKI, Dono selalu berperan sebagai korban. Di grup lawak Kwartet Jaya, Ateng dan Ishak selalu bergiliran menjadi korban.
Dalam format komedi tunggal atau stand up comedy, para komika melawak sendiri menyampaikan sebuah cerita yang terdiri dari premis dan punch line.
Premis merupakan sebuah bangunan cerita, dan punch line adalah bagian penting yang mematahkan bangunan cerita itu sendiri.
Para komika tampil sendirian, mereka bisa saja mengorbankan dirinya sebagai objek tertawaan, atau menggunakan hal lain untuk dikorbankan. Pada titik ini, banyak kasus yang membuat tersingung adalah berkaitan dengan objek yang dikorbankan di luar para komika.
Batasan Dalam Komedi
Dalam Jokes and Their Relation Unconscious (1961), Sigmund Freud mengatakan bahwa yang membuat kita tertawa oleh lawakan adalah situasi dan suasana.
Berlaku juga sebaliknya, lawakan dapat membuat kita tersingung jika disampaikan dalam situasi dan suasana yang kurang tepat.
James Dananjaya dalam kata pengantar buku Indonesia Tertawa: Srimulat Sebagai Sebuah Subkultur (1999), menyampaikan bahwa salah satu kendala sebuah komedi bisa menjadi tidak lucu adalah menggandung hal-hal sensitif bagi beberapa pihak seperi unsur SARA.
Dari awal kehadirannya, lawakan selalu berupa objek untuk ditertawakan. Selalu membutuhkan sesuatu untuk dikorbankan jadi bahan tertawaan. Banyaknya tawa jadi indikator keberhasilan komedi itu sendiri. Lantas, apakah ada batasannya?
Tidak ada batasan yang jelas. Sama halnya dengan tertawa, indikator lucu sebuah komedi, maka tersinggung adalah batasan bagi komedi itu sendiri. Jika ada yang tersinggung oleh sebuah komedi, maka komedi tersebut mencapai batasnya.
Di Indonesia, Suku, Agama, Ras dan Antargolongan adalah hal yang sensitif untuk jadi bahan lawakan. Tidak hanya itu hal lain juga bisa jadi sensitif bagi sebagian pihak. Contohnya, lawakan kucing Pandji jadi topik yang menyinggung Garda Satwa Indonesia.
Di Antara Dua Wajah Komedi: Tertawa dan Tersinggung
Tersinggung karena lawakan tidak bisa disalahkan, sama hal nya dengan tertawa saat menikmati lawakan yang membuat pihak lain tersinggung.
Komedi bersifat personal, bergantung dengan suasana dan situasi. Perlu kedewasaan untuk menikmatinya.
Para komedian juga butuh kecerdasan dan ketelitian dalam membuat materi lawak yang akan dibawakan. Mempertimbangkan materi yang berpotensi membuat orang lain tersinggung
Komedi yang baik dapat membuat para penikmatnya tertawa dan komedi yang dewasa dapat membuat para penikmatnya tertawa tanpa harus ada yang tersinggung.
Dalam setiap lawakan yang kita temui sehari-hari kita akan selalu dihadapkan pada dua wajah komedi, yang dapat membuat kita tertawa atau tersinggung.




























Discussion about this post