Akhir 2019, tiba-tiba saja seseorang dari Australia Tourism Board menghubungi saya dan mengajak bertemu. Langsung. Bukan virtual. Janji temu diatur di salah satu hotel di Bandung.
Sebut saja namanya Joan Jett. Bukan nama sebenarnya. Nama sebenarnya tidak usah disebut. Supaya tidak muncul di mesin pencari.
Jam janji temu agak tidak umum. Pagi, 7.30. Angka jam yang susah digauli oleh buruh media yang punya masalah dengan melatonin.
Tidak direspons, kasihan juga, jauh-jauh datang dari Sydney.
Sehari sebelum tanggal kopi darat, Joan Jett berkata, “Minta waktunya sebentar ya. Ada banyak yang pengen saya tahu soal kebiasaan berwisata orang kota besar di Indonesia.
“Oke. Besok pagi saya ke sana,” kata saya.
Tidak ada ruginya. Sekalian saja bikin janji temu di hotel yang sama dengan mahasiswa yang minta wawancara untuk skripsinya.
Secangkir Teh dan Obrolan Bersama Joan Jett
“Ke restoran saja di lantai 2. Sekalian kita sarapan bareng,” kata Joan Jett via telefon saat saya hubungi setibanya di lobi hotel.
Joan Jett duduk di meja paling depan dekat pintu masuk restoran dan langsung menyapa saat saya masih celingak-celinguk.
T-shirt putihnya seolah menyatu dengan taplak meja dan furnitur restoran yang juga serba putih. Mata yang mengantuk melihatnya seperti lukisan abstrak Jackson Pollock tapi dengan cat dominan putih.
Saya beri nama samaran Joan Jett karena sepintas wajahnya mirip Joan Jett muda.
“Kita ngobrol sambil sarapan saja,” katanya setelah bersalaman dan perkenalan ulang.
Nafsu makan yang belum muncul sepagi itu membuat saya hanya mengambil teh dengan pemanis buatan dan omlet. Dimulailah basa-basi membosankan. Namun karena sorot matanya yang tajam dan senyumnya yang manis nyaman dipandang, membosankan tak apalah.
Secangkir teh kedua menghantarkan kami melewati basa-basi dan langsung menyeberang ke inti pertemuan.
“Kita pindah ke lobi saja ya,” kaya dia karena melihat banyaknya tamu hotel yang mencari meja kosong sedangkan kami sudah selesai sarapan.
Turunlah kami ke lobi yang masih sepi.
Riset Australia Tourism Board untuk Kaum Urban Indonesia

Dari paparan singkatnya, saya simpulkan bahwa rupanya Australia Tourism Board sedang sibuk melakukan riset kreatif. Mereka mencari tahu apakah orang Indonesia yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, atau Medan punya ketertarikan terbang ke Australia Barat yang masih “liar”.
Jelas yang dia maksud sebagai orang Indonesia di kota besar adalah orang kaya yang sudah tak merisaukan lagi apakah besok bisa makan atau tidak.
Serentetan pertanyaan dia membuat saya menjawab, berdasarkan pengamatan bodoh saya terharap tren permintaan layanan hospitality di jagat maya dan pemberitaan wisata di media-media arus utama, tren berwisata orang kota besar memang berubah.
Hal itu baru saya sadari setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Joan Jett. Boleh jadi, selama ini kita luput memperhatikan adanya pergeseran itu.
Kira-kira begini penjelasan sok tahu saya kepada Joan Jett. Orang kota besar sekarang sudah sangat jarang banget sekali pisan berwisata ke luar kota atau ke luar negeri bersama keluarga.
Orang kota besar, terutama yang berumur 25-35, hari ini lebih senang terbang membawa paspor bersama teman-temannya alih-alih bersama adik, kakak, ayah, ibu, sepupu, dan paman seperti keluarga McCallister di film Home Alone.
Tak sedikit juga yang memutuskan pergi sendiri, berdua bersama sahabat atau pasangan
Orang kota besar juga jenuh dengan jenis wisata tur kota atau ke pantai yang ramai. Orang kota yang jenuh dengan keramaian lebih akan memilih pergi ke daerah sepi. Sialnya, tempat wisata sepi, setidaknya di Pulau Jawa, kian langka.
Hipster Ruin Everything. Fuck it
Setiap ada kabar tempat wisata yang menyandang predikat terkutuk instgramable, besoknya pasti dipenuhi sepeda motor, tukang cilok, tukang balon, dan remaja tanggung menghunuskan tongsis.
Mangkanya, kalau menemukan tempat bagus dan sepi , simpan saja, rahasiakan untuk dinikmati sendiri agar pemerintah daerah dan preman setempat tak mengacaukannya.
Tempat wisata yang menenangkan bagi orang kota besar juga biasanya baru bisa dijangkau setelah melewati medan jalan yang merepotkan. Namun bagi mereka, ada kataris dalam tantangan seperti itu.
Soal anggaran juga agaknya telah bergeser. Tak peduli sekaya apa dia, orang kota besar kini sangat cermat memilih akomodasi. Mereka tak lagi memakai jasa agen wisata atau jasa pengusaha tour and travel.
Shifting revolusi 4.1 di sektor wisata membuat mereka menentukan sendiri rencana dan agenda perjalanannya mulai dari hotel, kursi pesawat, makanan, sampai oleh-oleh. Segala yang terbaik dan termurah berdasarkan ulasan pengguna di jagat maya menjadi rujukan utama mereka.
Sementara soal waktu, ada kecenderungan kaum urban kini menabung hari liburnya dan menghabiskannya sekaligus sehingga bisa berlibur dalam waktu lama. Sepekan atau bahkan 10 hari jika mungkin.
Paket Wisata Wild Trip ala Australia Tourism Board
Sambil berbincang, Joan Jett memberi saya 3 majalah wisata berisi ulasan objek-objek wisata di Australia Barat.
Sambil mendengarkan dia bercerita, saya bolak-balik majalah itu. Warna merah dan biru terang mendominasi foto-foto di setiap halamanya. Pantai yang masih sepi dan “liar” berpadu dengan area menantang yang memisahkan garis pantainya dengan gurun di Australia tengah.
Joan Jett menjelaskan, wisatawan bisa menyewa RV plus sepeda motor trail atau ATV untuk menjamah Australia Barat yang sepi selama berhari-hari di mulai dari Perth.
“Menarik, tapi Kamu butuh usaha keras untuk merayu orang kaya kota besar di sini untuk pergi ke Australia Barat. Karena bagi mereka, daerah di Australia bagian timur seperti Sydney atau Merbourne masih jadi top of mind kalau bicara soal Australia,” kata saya.
“Coba saja dulu dengan memperbanyak promosi ditambah potongan harga dan sejenisnya,” ujar saya sambil berharap mendapat ajakan gratis mengunjungi tempat-tempat yang ada dalam majalah yang saya pegang.
Sekilas, di kepala muncul citra Mia Wasikowska yang jadi Robyn Davidson berjalan bersama unta-untanya di Australia Barat yang liar dalam film Tracks.
Sebagai orang yang tengah menggali informasi, Joan Jett justru lebih banyak berbicara dibanding saya pagi itu. Sejam berlalu. Obrolan harus disudahi karena dia harus ke Jakarta dan kembali ke Sydney.
“Kalau ada hal lain yang ingin saya tanyakan, nanti saya hubungi ya. Terima kasih atas masukan dan waktunya,” tuturnya seraya bangkit dari sofa.
“Saya paham pasti sulit bagi pekerja media untuk bisa keluar rumah sepagi ini. Adik saya bekerja di Australian Community Media. Kamu mau ke mana setelah ini?” tanya Joan Jett.
“Saya sudah sekalian membuat janji temu dengan orang lain di sini. Saya tidak akan ke mana-mana. Saya di sini saja,” kata saya.
Duduk di lobi sendirian, saya berpikir, kenapa tidak ada yang membuat paket wisata jelajah pantai selatan Jawa, paling tidak pantai selatan Jawa Barat, atau mungkin di Borneo, Sumbawa dengan mengadopsi model wisata wild trip ala Australia Tourism Board di Australia Barat?
Mungkin sudah ada tapi saya tidak tahu. Atau, mungkin sudah ada tapi tidak laku. Karena, tidak instagramable
.***




























Discussion about this post