• ABOUT US
  • PRIVACY POLICY
  • TERM OF USE
  • DISCLAIMER
  • HUBUNGI KAMI
  • SITEMAP
Senin, 15 Juni 2026
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
  • Login
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
Kelana Nusantara
  • KELANA
  • AKOMODASI
  • SOSOK
  • HIPOTESA
  • BUDAYA
  • KULINER
  • ACARA
  • Login
No Result
View All Result
Kelana Nusantara
No Result
View All Result
Program Food Estate: Supaya Tidak Lancung dan Selalu Baréndéng

Sudarsono, salah satu transmigran asal Boyolali yang berhasil bertahan sekaligus menjadi petani berhasil di desa Belanti Siam © krips21

OSVIA Madiun, Sejarah Sekolah Calon PNS Masa Kolonial

Benteng Klingker/Bandjoe Napa, Nusakambangan

Program Food Estate: Supaya Tidak Lancung dan Selalu Baréndéng

Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna

Tim Redaksi Kelana Nusantara by Tim Redaksi Kelana Nusantara
14 September, 2020
in Hipotesa, ZZ Slider Utama
5 min read
46 1
0
Share on Facebook

Ada seuntai pantun-nasehat lama yang berbunyi sebagai berikut:

Setali pembeli kemenyan,

sekupang pembeli ketaya,

Baca jugaArtikel :

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

Sekali lancung ke ujian,

seumur hidup orang tak percaya.

Nasehat pantun ini berkaitan erat dengan pepatah yang juga sama tuanya berbunyi,

“Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna atau “Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna”.

Artinya setiap tindakan atau perbuatan itu hendaknya dipikirkan dahulu baik-baik sebelum dikerjakan agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari.

Penolakan para pihak tidak lepas dari pengalaman yang telah dialami

Mengutip dari Kompas.com Food Estate adalah salah satu Program Strategis Nasional 2020-2024 yang bertujuan membangun lumbung pangan nasional.

Program ini nantinya akan berada di lahan seluas 165.000 hektar. Food estate jadi upaya pemerintah RI untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan sebagai dampak pandemi.

Pembangunannya mengintegrasikan pertanian, perkebunan, dan peternakan di satu kawasan.

Penolakan para pihak baik organisasi maupun individu terhadap program pemerintah pusat yakni Food Estate, bukanlah muncul begitu saja.

Penolakan tidak lepas dari pengalaman-pengalaman yang telah dialami seperti Rice Mega Proyek Orde Baru yang dikenal dengan nama Proyek Lahan Gambut (PLG).

Dilanjutkan dengan pengalaman proyek sejenis di Merauke, Bulungan dan Ketapang.

Penolakan dan ketidakpercayaan itu adalah akibat dari tindakan “lancung” yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat.

Lancung artinya tidak dipikirkan matang-matang, tidak didasarkan pada kajian menyeluruh.

Tidak lain, penduduk setempat yang paling menderita akibat kelancungan ini.

Dalam hal PLG, yang paling menderita adalah masyarakat Dayak, di samping para transmigran yang didatangkan sebagai tenaga kerja pada proyek raksasa tersebut.

Terhadap Proyek Food Estate Pemerintahan Jokowi, entah atas dasar ilmiah yang bagaimana, para penyokong menyebutnya sebagai “anugerah” dan ada pula yang berterimakasih.

Saya menyinggung soal dasar ilmiah argumen karena dari para penyokong ada yang mengatasnamai akademisi.

Menyokong dan menolak adalah hak masing-masing. Hanya saja seyogyanya dukungan dan atau penolakan dilakukan atas dasar kajian yang mendalam atau menyeluruh.

Tidak melupakan sejarah. Seluruh aspek program tersebut dikaji benar-benar.

Semangat partisan politik politisien lebih banyak mencelakakan karena tidak mengutamakan kajian menyeluruh.

Tanpa kajian menyeluruh dan mendalam, bertolak dari kemauan subyektif semata.

Tanpa mendengarkan alasan yang menolak. Tidak mengikutsertakan masyarakat lokal.

Sebagaimana amanat Konvensi PBB tentang Masyarakat Adat dalam pelaksanaan Program Food Estate, hakekatnya telah menempatkan masyarakat setempat (baca: Dayak) sebagai kelinci percobaan.

Ketika program tersebut gagal, mereka meninggalkan masyarakat setempat menderita sendiri.

Para penyokongnya pun akan diam seribu bahasa. Sikap demikian bisa dipahami karena memang demikianlah nasib kelinci percobaan dari politik dan sikap keledai yang tersandung berulang kali di batu serupa.

Hanya saja untuk melakukan kajian menyeluruh, diperlukan ketekunan, usaha lebih, dan kesukaan berpikir, tidak memilih jalan pintas.

Mengkaji sesuatu dengan cermat sebelum bertindak?

Apakah kita di Kalimantan Tengah masih rajin berpikir dan mengkaji sesuatu dengan cermat sebelum bertindak? Ataukah seperti yang dikatakan oleh penyair Spanyol José Angel Valente:

Kita mengunyah perintah

[dengan tali jerat kematian]

Dan akhirnya kita dikebiri sebagai manusia

Kita menelan perintah Kita pun tak lagi pernah lahir

“Terjerat tali kematian” sebagai anak manusia merdeka dan bermetamorfosis menjadi robot tanpa nurani. Atau seperti yang dilukiskan oleh alm. Fridolin Ukur dalam sajaknya ”Kain di Abad XX” yang cuplikannya sebagai berikut:

Ketika Yesus mencari aku

tidak dijumpainya aku di sawah;

ketika Yesus mencari aku

ditemuinya aku asyik membaca koran

 

Ia datang sebagai anak tanggung

penjual kembang gula sugus

 

Ia menyapa: apa yang terjadi kemarin

dengan Habel saudaramu?

Ku jawab tidak ada beritanya dalam Koran!

Ia berkata: manusia itu hidup

bukan hanya dari pangan dan Koran!

“Aku” sibuk dengan diri sendiri dan kepentingan-kepentingan hedonistik sang “Aku” sehingga tidak memikirkan lagi keadaan “Habel”, saudara kandungnya.

Apakah melalui sajaknya ini Fridolin mau melukiskan rona pola pikir dan wajah mentalitas manusia Dayak sekarang?

Fridolin yang pendeta-penyair itu membebaskan kita untuk menafsirkan sajaknya.

Tanpa kajian mendalam dan menyeluruh terhadap Program Food Estate yang mau dilaksanakan di Kalimantan Tengah.

Apakah kita memikirkan juga nasib dan hari esok Habel sebelum menyatakan setuju dan tidak setuju, menyokong dan atau menolak?

Mengikutsertakan wakil masyarakat sesuai dengan prinsip FPIC dalam Konvensi PBB

Agar tidak lancung, saya sedang membayangkan Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah menyelenggarakan diskusi ahli yang melibatkan berbagai kalangan.

Termasuk mereka yang tidak setuju terhadap Program Food Estate dan perwakilan masyarakat di daerah-daerah yang akan dijadikan tempat melaksanakan Program Food Estate (perwakilan masyarakat ini ditentukan oleh masyarakat sendiri, bukan ditetapkan oleh pemerintah).

Diikutsertakannya wakil masyarakat setempat ini sesuai dengan prinsip FPIC dalam Konvensi PBB tentang Masyarakat Adat (indigenous people).

Jika hal-hal tersebut tidak dilakukan maka demokrasi yang diterapkan adalah kesewenang-wenangan.

Bertopengkan demokrasi menggunakan pendekatan top-down dikawal oleh kekuatan bersenjata dan penjara.

Dari segi hukum, karena republik ini disebut sebagai negara hukum, payung hukum apa dan yang mana yang digunakan oleh presiden?

Apabila pada akhirnya diskusi yang diikuti oleh peserta tanpa tebang-pilih itu menghasilkan kesimpulan menolak Program Food Estate, kesimpulan dan sikap itulah yang disampaikan ke Presiden Joko Widodo.

Apakah Pemerintah Pusat berketetapan melaksanakan program tersebut, tanpa mengindahkan penolakan dengan segala konsekuensinya, ketetapan demikian jadi tanggung-jawab Pemerintah Pusat (cq. Presiden) bukan menjadi urusan diskusi.

Yang penting, diskusi sudah menyampaikan pandangan dan sikap masyarakat Kalimantan Tengah.

Filosofi hidup-mati Manusia Dayak

Masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya masyarakat Dayak, niscaya berani menyatakan sikap menolak jika memang harus menolak.

Menolak termasuk hak sebagai warganegara, apalagi jika dilihat dari segi filosofi hidup-mati Manusia Dayak sebagai réngan tingang nyanak jata (anak enggang putera-puteri naga), kalau konsep ini masih diresapi.

Demikian juga jika dilihat dari sudut pandang tritunggal karakter manusia Dayak ideal: mamut-ménténg, pintar-harati, maméh-uréh.

Jika terdapat dua pandangan dan sikap utama, ya, sampaikan kedua-duanya.

Tentu saja saya sadar bahwa bayangan demikian bersifat sangat ilusioner, apalagi untuk daerah ini.

Saya tidak menolak dan setuju sekali Indonesia mempunyai kedaulatan pangan.

Bukan hanya ketahanan. Persoalannya adalah cara mewujudkan keinginan lama tersebut yaitu dengan sistem korporatif (bukan koperasi!) dan tempat melaksanakannya yaitu lahan gambut.

Tentang hal ini, pemerintah pusat tidak konsisten. Terkadang menyebut pelaksanaannya di lahan gambut, pada kesempatan lain tidak di lahan gambut.

Hanya kalau kita mencermati peta penggunaan lahan di Kalimantan Tengah, lahan tersisa terutama lahan bergambut dan lahan gambut.

Lahan lain sudah menjadi daerah konsesi perkebunan sawit, HPH, Hutan Tanaman Industri, dan Pertambangan.

Pada tahun 2009, lahan garapan tersisa tinggal 20 persen dari seluruh wilayah Kalimantan Tengah yang luasnya 1,5× Pulau Jawa.

Dari segi teknis, penggunaan alat-alat berat, untuk memulai usaha pertanian modern serta hasil-hasil yang dibayangkan akan diperoleh, lebih banyak bersifat iming-iming agar tidak terjadi keresahan sosial.

Tanaman bisa tumbuh di lahan bergambut tipis, tapi berapa banyak lahan demikian tersisa?

Mengenai masalah teknis ini, sebaiknya pemerintah bersikap terbuka, termasuk mengenai investor yang akan menangani Program Food Estate dan lahan mana serta siapa yang akan digunakan, dan lain-lain soal terkait.

Dampak penerapan sistem Food Estate

Penerapan sistem Food Estate akan mempunyai dampak sosial, politik, ekonomi,dan kebudayaan bahkan keamanan yang patut diperhitungkan oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Saya khawatir penerapan sistem Food Estate yang dilakukan oleh korporasi bukannya membuat negeri dan bangsa ini menjadi berdaulat di bidang pangan, tapi sebaliknya akan tergantung, sistem produksi pangan kita akan berada dalam tangan korporasi dunia.

Diterapkannya sistem ini juga akan mengesahkan perampasan tanah warga setempat atas nama kepentingan pertahanan nasional.

Seperti dikatakan oleh penyair S. Anantaguna yang terjadi adalah “Yang bertanah-air tapi tak bertanah”.

Proses proletarisasi masyarakat pedesaan di Kalimantan Tengah akan melaju cepat.

Kedatangan bertahap transmigran sejumlah 1,4 juta orang (yang pasti datang bersama keluarga, anak dan istri) akan makin mengubah komposisi demografis Kalimantan Tengah.

Perubahan komposisi demografis, apalagi disertai dengan kebijakan yang timpang akan berdampak besar sehingga patut diperhitungkan oleh penyelenggara negara terutama oleh Orang Dayak .

Akan sangat menyedihkan jika Kain melupakan Habel, jika menggunakan perbandingan Fridolin Ukur, tapi barangkali hal demikianlah yang terjadi selama ini. Dayak menghancurkan Dayak.

Kata-kata profetik James Brooke kepada orang Dayak

Dihadapan perspektif demikian, saya kembali teringat akan kata-kata profetik James Brooke (1841-1863) yang menguasai Sarawak. Brooke berpesan kepada Orang Dayak:

“Kumohon dengarkanlah kata-kataku ini dan ingatlah baik-baik: Akan tiba saatnya, ketika aku sudah tidak di sini lagi, orang lain akan datang terus-menerus dengan senyum dan kelemahlembutan, untuk merampas apa yang sesungguhnya hakmu yakni tanah dimana kalian tinggal, sumber penghasilan kalian, dan bahkan makanan yang ada di mulut kalian.Kalian akan kehilangan hak kalian yang turun-temurun, dirampas oleh orang asing dan para spekulan yang pada gilirannya akan menjadi para tuan dan pemilik, sedangkan kalian, hai anak-anak negeri ini, akan disingkirkan dan tidak akan menjadi apapun kecuali menjadi para kuli dan orang buangan di pulau ini.”

Sistem Food Estate di lahan gambut hanya membawa kegelapan bagi Kalimantan Tengah, terutama bagi Orang Dayak.

Tapi daripada mengutuk malam lebih baik menyalakan lilin. Adakah dan apa-bagaimana lilin yang patut dinyalakan sebagai jalan terang bersifat alternatif itu?

Tentu ada lilin yang bisa dinyalakan. Apa-bagaimana lilin itu, hal inilah yang menjadi salah satu isi diskusi terbuka yang seyogyanya diselenggarakan.

Indonesia mau ke mana?

Soal alternatif ini, dalam dunia pertanian berkelanjutan dan sosiologi pedesaan, sesungguhnya bukan pula hal baru.

Ia sudah lama didiskusikan antara lain oleh A. Chayanov, Teodor Shanin, Henry Bernstein, Scott, E. Wolf, Prof. Ir. Sajogyo, Gunawan Wiradi, dan lain-lain.

Hari ini kembali diangkat antara lain oleh van der Ploeg, Ben White, Mazhab Bogor, Dwi Andreas, Susan Sontag, dan lain-lain.

Sementara Hans Peter Martin dan Harald Schumann dalam karya mereka “Jebakan Global” (Hasta Mitra – Institute For Global Justice, 2005) secara khusus berbicara tentang agresi terhadap kesejahteraan melalui sistem korporasi.

Dari segi akademi, bukan kebetulan apabila karya van der Ploeg diterbitkan dalam Bahasa Indonesia pada tahun 2019 lalu sebab masalah penerapan sistem Food Estate, sama dengan pertanyaan: Indonesia mau ke mana?

Karya-karya seperti karya van der Ploeg adalah isyarat dan saran ilmiah kepada para pihak terkait terutama kepada pihak penyelenggara negara sebagai pengambil keputusan kebijakan.

Diskusi akademi yang mengkaji secara menyeluruh dan mendalam masalah sistem Food Estate barangkali hari ini diperlukan supaya terhindar dari tindak-tindak lancung.

Politik yang bukan politik politisien seniscayanya membahagiakan, menyejahterakan masyarakat, dan meratakan keadilan.

Tapi sayangnya, keadilan justru manjadi sesuatu yang masih sangat mewah di negeri ini.

Menjadikan Kalimantan Tengah lagi-lagi sebagai “kelinci percobaan” penerapan sistem Food Estate, apakah akan membawa hadir keadilan ke tengah masyarakat ataukah sejenis politik keledai yang mengabaikan sejarah dan kenyataan?

Yang cukup jelas, politik keledai ini mengambil Orang Dayak sebagai tumbal.

Sayup-sayup, saya juga mendengar tentang adanya iming-iming bahwa Orang Dayak yang setuju dengan sistem Food Estate akan mendapat 2 (dua) hektar tanah.

Jika hal demikian benar, saya memahaminya bahwa untuk melaksanakan Program Food Estate, segala cara digunakan dan dianggap halal.

Dihadapan keadaan gawat untuk hari esok ini, saya hanya bisa berharap bahwa Orang Dayak Kalimantan Tengah tidak lupa nasehat para tetua agar selalu baréndéng.

Tidak sakit mata, terutama mata kesadaran.

Halaman Masyarakat Adat, Harian Radar Sampit, Minggu 26/07/2020

Penulis: Kusni Sulang

Penyunting: Andriani SJ Kusni

Sumber: Jurnaltoddoppuli

Foto sampul artikel: Krips21

Tags: DayakFood EstateKalimantan Tengahkelananusantaraopini kelanaOrang Dayak
Share33Tweet16Pin6SendShareSend
Previous Post

OSVIA Madiun, Sejarah Sekolah Calon PNS Masa Kolonial

Next Post

Benteng Klingker/Bandjoe Napa, Nusakambangan

Tim Redaksi Kelana Nusantara

Tim Redaksi Kelana Nusantara

Related Posts

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!
Acara

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
111
Kelana

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
132
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah
Sosok

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
243
Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan
Akomodasi

Indahnya Honey Moon Penuh Petualangan di Santorini Beach Resort, Gili Trawangan

3 Februari, 2022
347
Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu
Budaya

Oriental Eksotik, Rub of Rub Mengajak Pendengar Menengok Masa Lalu

1 Februari, 2022
995
Backpackeran dari Jakarta – Nusa Penida Budget Rp2 Jutaan
Kelana

Backpackeran dari Jakarta – Nusa Penida Budget Rp2 Jutaan

10 Desember, 2021
387

Discussion about this post

Artikel Terpopuler

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

Mahabhusana Wilwatiktapura, Pakaian Kerajaan Majapahit

26 Februari, 2020
15.9k
Perempuan dan Fotografi

Perempuan dan Fotografi

23 April, 2020
561
Mengapa Orang Sunda Malas?

Mengapa Orang Sunda Malas?

15 Mei, 2020
11.3k
Jalan ABC, Memasuki Sudut Sejarah Perdagangan Kota Bandung

Jalan ABC, Memasuki Sudut Sejarah Perdagangan Kota Bandung

14 September, 2020
2.5k
Warisan Keluarga Schumtzer di Ganjuran, Yogyakarta

Warisan Keluarga Schumtzer di Ganjuran, Yogyakarta

14 September, 2020
3.1k
Mitos Wayang Kulit Manusia pada Film Perempuan Tanah Jahanam

Mitos Wayang Kulit Manusia pada Film Perempuan Tanah Jahanam

14 Mei, 2020
1.9k

Rekomendasi Kelana

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

7 Cara Promosikan Acara agar Ramai Peminat, Panduan untuk EO

2 Mei, 2025
212
Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

Coconuttreez Kembali dengan Energi Baru, Apong Siap Menggebrak Panggung!

2 Maret, 2025
111

Pesona Alam nan Magis Danau Kelimutu

24 Oktober, 2024
132
Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

Urban Farming Sansevieria Omset Hingga 50 juta, Terapkan Green Jobs dari Rumah

13 Maret, 2024
243
Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

Pahawang Culture Festival 2022, Kesadaran yang Lahir dari Nenek Moyang

16 Oktober, 2023
171
Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

Prahara Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan

21 September, 2023
131

Yuk Ikuti Kelana Nusantara!

  • Setiap jejak yang kita ingat  mengandung mineral-mineral lautan yang kita kecap    sumbawa  sumbawaisland  rumputlaut  kelananusantara
  • Saat ini kita buka program magang untuk siapa saja  sebab Kelana Nusantara kini hadir dengan wajah baru  Saat ini kita membutuhkan ide dan pemikiran kalian untuk dituangkan disini  khususnya di bidang media digital   Join with us   untuk form sudah tertera di bio  Selamat berpetualang
  • Penayangan perdana Demon Slayer  Entertainment District Arc menuai protes dari fans dengan Tengen Uzui salah satu protaganisnya disebut melakukan poligami   Demon Slayer  Entertainment District Arc memperkenalkan Tengen Uzui  seorang Hashira  mentor selanjutnya Tanjiro Kamado  mantan ninja yang memiliki 3 istri   Tengen Uzui hadir dengan segala pesona  mengakui dirinya pribadi yang selama hidupnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Nusa Penida kerap menjadi destinasi untuk dikunjungi wisatawan yang memiki hobi diving   Sahabat Kelana yang penasaran dengan eksotika keindahan bawah laut Nusa Penida tentu harus menyiapkan budget khusus    Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Kehadiran moda transportasi darat  dalam hal ini kereta api trem uap di Demak tidak lepas dari meningkatnya arus perdagangan antara Eropa dan Hindia-Belanda   Terutama setelah pembukaan Terusan Suez pada 1869   Investasi asing kemudian  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sebenarnya uang yang dihabiskan dunia untuk persenjataan militer dan perang dalam satu minggu cukup untuk memberi  makanan  seluruh manusia di bumi dalam setahun   Fakta yang mencengangkan  memang  sementara perang terus dilangsungkan tanpa jelas ujungnya  di pelosok dunia  miliunan manusia meringkih bertahan hidup dalam kelaparan   Tapi  bisakah makanan menjadi penopang basis perubahan   Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Sahabat Kelana  perlu diketahui sebelum mengulas 5 rekomendasi villa bambu terbaik untuk Honeymoon asik di Bali   Pemerintah saat ini memberlakukan pembatasan perjalanan bagi wisatawan asing  sebagai reaksi munculnya varian Covid-19 B 1 1 529  Omicron   Hongkong dan beberapa negara Afrika      Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Anantha Wijayanto salah satu pegiat kaktus asal Bali berbagi tips bikin Green House kaktus rumahan dengan budget Rp500 ribu   Idealnya  setiap tanaman khususnya kaktus disarankan memiliki naungan  untuk menjaga stabilitas suhu dan kelembapan udara   Meski kaktus memiliki habitat asli di gurun  namun  ada pertimbangan tanaman ini umumnya  Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
  • Mang Eden salah satu petani kaktus terbesar di Lembang berbagi cara grafting kaktus yang benar   Tim redaksi Kelananusantara  beberapa waktu yang lalu  mengunjungi Kampung Cicalung Desa Wangunharja  Kecamatan Lembang  Kabupaten Bandung Barat   Lokasi ini berdekatan dengan destinasi wisata yang cukup terkenal     Selengkapnya di www kelananusantara com Atau klik tautan di bio
Facebook Twitter Instagram

Bekal Petualanganmu

Iwakmedia Digital Indonesia

Iwakmedia Workshop II
Ruko Jatimurni, Jl Jatimurni No. 2.
Jatipadang, Pasar Minggu.
Kode Pos 12540. (+6221) 780 8020.
Jakarta - Indonesia
Basecamp Kelana Nusantara
Jl. Mentor, Gg Dakota, RT.01/RW.05
Sukaraja, Cicendo.
Kode Pos 40175.
Kota Bandung - Indonesia

Tentang Kelana Nusantara

  • About Us
  • Privacy Policy
  • Term Of Use
  • Disclaimer
  • CONTACT US

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

No Result
View All Result
  • About Us
  • Term Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Sitemap
  • Kelana
  • Sosok
  • Akomodasi
  • Budaya
  • Kuliner
  • Hipotesa
  • Acara
  • Login

Kelana Nusantara © 2020. All Rights Reserved. Powered by iwakmedia.

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Cookie settingsACCEPT
Privacy & Cookies Policy

Privacy Overview

This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary Always Enabled

Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.

Non-necessary

Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.

Add New Playlist